Swasembada pangan telah menjadi cita-cita nasional Indonesia sejak era Presiden Soeharto dan kembali ditekankan pada masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Untuk mendukung pencapaian target ini, diperlukan strategi yang efektif dalam pengelolaan dan pemanfaatan lahan pertanian dan perkebunan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi lahan pertanian dan perkebunan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dengan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan parameter biofisik, yaitu kemiringan lereng, temperatur, jenis tanah, dan ketersediaan air. Metode yang digunakan merujuk pada kerangka kerja FAO (1976) dengan klasifikasi kelas kesesuaian lahan S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), dan N (tidak sesuai). Melalui analisis spasial, dihasilkan peta kesesuaian lahan untuk lima komoditas utama, yaitu padi (sawah tadah hujan), jagung, kedelai, bawang merah, dan cabai merah. Hasil menunjukkan bahwa pemanfaatan SIG efektif dalam mengintegrasikan berbagai parameter biofisik untuk menghasilkan informasi spasial yang akurat dan mendalam. Wilayah dengan topografi landai, tanah lempung, suhu optimal, dan ketersediaan air yang cukup menunjukkan potensi tinggi sebagai lahan pertanian produktif, sementara wilayah dengan kendala fisik tergolong dalam kelas S3 atau N. Peta kesesuaian lahan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai acuan strategis dalam perencanaan pemanfaatan lahan, pengembangan pertanian berkelanjutan, serta pengambilan kebijakan berbasis data oleh Pemerintah Daerah. Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Kesesuaian lahan pertanian dan perkebunan, Hulu Sungai Tengah