This study examines prophetic communication ethics in QS. “Abasa (80): 1-10 as a normative foundation for developing a humanistic and inclusive model of Islamic communication. The research is motivated by the urgency of constructing da‘wah communication patterns that are free from social bias, responsive to audience needs, and oriented toward divine values. Employing a qualitative approach based on library research, this study analyzes classical and contemporary Qur’anic exegesis as well as scholarly works on Islamic communication ethics. The findings reveal that QS. ‘Abasa (80): 1–10 articulates four core principles of prophetic communication ethics: audience equality, communicative empathy, prioritization of spiritual readiness, and da‘wah integrity. These principles carry significant implications for da‘wah practices, particularly in fostering communicative relationships that are just, sensitive, and oriented toward seekers of truth. Furthermore, the study demonstrates that the moral message of QS. ‘Abasa remains highly relevant in modern communication contexts, including digital communication practices that are often susceptible to social hierarchies, image construction, and popular bias. This study concludes that QS. ‘Abasa can serve as a comprehensive reference for constructing an adaptive and prophetically grounded model of Islamic communication ethics, offering strategic guidance for the development of da‘wah in the contemporary era.Penelitian ini mengkaji etika komunikasi profetik dalam QS. ‘Abasa ayat 1–10 sebagai landasan normatif bagi pengembangan model komunikasi Islam yang humanistik dan inklusif. Latar belakang penelitian berangkat dari pentingnya membangun pola komunikasi dakwah yang bebas dari bias sosial, responsif terhadap kebutuhan audiens, serta berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, dengan analisis terhadap literatur tafsir klasik dan kontemporer serta penelitian akademik terkait etika komunikasi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. ‘Abasa ayat 1–10 mengandung empat prinsip utama etika komunikasi profetik: kesetaraan audiens, empati komunikatif, prioritas kesiapan spiritual, dan integritas dakwah. Nilai-nilai tersebut memberi implikasi signifikan bagi praksis dakwah, terutama dalam membangun relasi komunikatif yang adil, sensitif, dan berorientasi pada pencari kebenaran. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa pesan moral QS. ‘Abasa tetap relevan dalam konteks komunikasi modern, termasuk dalam praktik komunikasi digital yang rentan terhadap hierarki sosial, pencitraan, dan bias populer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa QS. ‘Abasa dapat dijadikan rujukan komprehensif untuk membangun konstruksi model etika komunikasi Islam yang adaptif dan bernilai profetik, sehingga mampu menjadi pedoman strategis bagi pengembangan dakwah pada era kontemporer.