Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Evaluasi Kepuasaan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 dengan Hipertensi Terhadap Layanan Kefarmasian Di Puskesmas Mulyorejo Surabaya Oki Nugraha Putra
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 8, No. 2, Tahun 2019
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.385 KB) | DOI: 10.24843/JFU.2019.v08.i02.p06

Abstract

Puskesmas merupakan tempat fasilitas kesehatan untuk layanan pasien Diabetes Mellitus (DM) maupun hipertensi. Evaluasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan penting dilaksanakan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik, termasuk pelayanan kefarmasian di puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur kepuasan pasien DM Tipe 2 dengan Hipertensi terhadap pelayanan kefarmasian serta untuk mengetahui dimensi mutu pelayanan yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian ini ialah pasien Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) dengan Hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan secara consecutive sampling, selama bulan Juli - Oktober 2018 di Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala likert yang telah tervalidasi. Untuk mengukur tingkat kepuasan pasien digunakan metode SERVQUAL dengan menghitung selisih kinerja dan harapan. Diperoleh 110 pasien DMT2 dengan hipertensi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata gap antara harapan dan kinerja ialah -0,49 dengan nilai gap terbesar ditunjukan pada dimensi tangible yaitu -0,76. Pada tingkat kepuasaan secara keseluruhan didapatkan hasil sebesar 88%. Kesimpulannya ialah tingkat harapan pasien DMT2 dengan hipertensi lebih tinggi daripada tingkat kinerja layanan informasi obat yang diberikan oleh pihak puskesmas Mulyorejo dengan tingkat kepuasaan pasien yang tergolong baik.
Kepuasan Pasien Penyakit Kronik terhadap Pelayanan Resep di Apotek Daerah Pesisir Surabaya Oki Nugraha Putra
Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia Vol. 8 No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Jl. Kamboja Simpang Baru-Panam, Pekanbaru, Riau 28293 Telp. (0761) 588006, Fax. (0761) 588007 e-mail: editor-jpfi@stifar-riau.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.86 KB) | DOI: 10.51887/jpfi.v8i1.779

Abstract

Apotek ialah tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah bergeser orientasinya yaitu dari drug oriented menjadi Pharmaceutical Care. Salah satu bentuk pelayanan kefarmasian di apotek ialah pelayanan resep. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepuasan pasien pasien penyakit kronik terhadap layanan resep di beberapa apotek daerah pesisir timur surabaya berdasarkan lima dimensi mutu pelayanan, yaitu kehandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), empati (emphaty) dan keberwujudan (tangibles). Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional menggunakan kuesioner dengan skala likert. Sampel penelitian yakni pasien dengan penyakit kronik yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien dengan penyakit kronik dipilih secara non random dengan metode consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus - November 2018. Data dari kelima dimensi mutu pelayanan dianalisis dengan metode SERVQUAL. Didapatkan 100 pasien dengan penyakit kronik yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa nilai rata-rata gap antara harapan dan kinerja ialah -0,41 dengan nilai gap terbesar ditunjukan pada dimensi reliability yaitu -0,49. Pada tingkat kepuasaan secara keseluruhan didapatkan hasil sebesar 89,8%. Kesimpulannya ialah tingkat harapan pasien dengan penyakit kronik lebih tinggi daripada tingkat kinerja layanan resep yang diberikan oleh pihak apotek dengan tingkat kepuasaan pasien terhadap layanan resep yang tergolong baik. Kata Kunci : Apotek , Mutu Pelayanan, Pasien penyakit kronik, SERVQUAL
Six Months of Bedaquiline-Pretomanid-Linezolid (BPaL) Regimen in Patients with Drug-Resistant Tuberculosis: A Narrative Review Oki Nugraha Putra; Ana Khusnul Faizah; Nani Wijayanti D.N
Journal of Endocrinology, Tropical Medicine, and Infectious Disease (JETROMI) Vol. 5 No. 2 (2023): Journal of Endocrinology, Tropical Medicine, and Infectious Disease (JETROMI)
Publisher : TALENTA Publisher, Universitas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jetromi.v5i2.12373

Abstract

Background: Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) is more difficult to treat with multiple therapies and a longer duration than drug-sensitive tuberculosis. Pre-XDR and XDR-TB are highly DR-TB with a lower success treatment than MDR-TB. Therapy for high DR-TB with fewer drugs and shorter treatment is required to increase the success of treatment. We comprehensively reviewed the risk factors for unfavorable outcomes (death, treatment failure, and loss of follow-up) related to all oral regimens containing bedaquiline and or delamanid in patients with MDR-TB. Method: This was a narrative review to summarize the role of the BPaL regimen to manage highly DR-TB patients. Results: The six months of BPaL regimen was reported to provide treatment success in two previous trials, Nix and Zenix TB. BPaL offers treatment success, especially in highly DR-TB compared to standard regimens containing bedaquiline. However, several adverse effects, such as myelosuppression, peripheral neuropathy, and optic neuritis were more common in BPaL regimens than in standard regimens. In addition, the incidence of QTc interval prolongation was lower in BPaL regimens compared with standard regimens. It is mandatory to monitor adverse effects associated with linezolid in the BPaL regimen and how to manage them. Conclusion: This review concludes that the BPaL regimen provides treatment success over six months of treatment. Health facilities should prepare for the implementation of BPaL to manage DR-TB patients.