Abstrak Pendahuluan: Gangguan skizoafektif merupakan kondisi psikiatri yang ditandai dengan kombinasi gejala psikotik (halusinasi, waham, perilaku aneh) dan gejala mood (depresi mayor atau mania). Faktor psikososial, seperti perundungan, dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental berat pada remaja. Kasus: Pasien wanita berusia 21 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sering menangis tiba-tiba, mengucapkan kata-kata kotor, serta menarik diri sejak dua bulan terakhir. Pasien juga mengalami halusinasi auditorik dan visual, afek datar, hipotimia, dan kehilangan minat. Pasien memiliki riwayat diagnosis skizofrenia pada usia 16 tahun, namun tidak patuh minum obat. Riwayat psikososial menunjukkan adanya perundungan saat SMP dan kehilangan figur ayah akibat pemenjaraan. Pembahasan: Diagnosis ditegakkan skizoafektif tipe depresif (F25.1) dengan pertimbangan gejala psikotik dan afektif yang menonjol pada episode yang sama. Faktor risiko mencakup pengalaman perundungan, stresor dari keluarga, dan ketidakpatuhan minum obat. Literatur menunjukkan perundungan dapat meningkatkan kadar kortisol, memengaruhi fungsi amigdala dan korteks prefrontal, serta berkontribusi terhadap kerentanan terhadap depresi dan gangguan psikotik. Berdasarkan meta analisis menunjukkan bahwa remaja yang mengalami perundungan berisiko 2,77 kali lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan yang tidak mengalami perundungan. Kesimpulan: Perundungan pada masa remaja dapat menjadi stresor psikososial penting yang berperan dalam timbulnya gangguan skizoafektif. Intervensi dini dan dukungan keluarga sangat dibutuhkan untuk memperbaiki prognosis.