Muzahidin, Muzahidin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Kebijakan “Pembasit” di SDN Kloposepuluh 2 Sukodono Muzahidin, Muzahidin
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.095 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v4i2.622

Abstract

Untuk mewujudkan peserta didik yang cerdas berstandar global baik pengetahuan, sikap dan keterampilannya, maka guru dituntut tidak hanya cerdas namun juga harus kreatif dalam mendesain kegiatan pembelajarannya. Menjadi Guru kreatif di era global akan mampu mengantarkan peserta didik menjadi cerdas, mandiri, kreatif dan memiliki kompetensi yang berstandar global. Keadaan berbeda dijumpai di SDN Kloposepuluh 2 kecamata Sukodono. Guru-guru di SDN Kloposepuluh 2 masih dibilang konvensinal dalam mengajar. Mereka hanya mengandalkan papan tulis dan buku cetak sebagai sumber belajarnya. Komputer dan laptop tersedia di sekolah namun masih jarang dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Mereka tidak mau repot dan kesusahan dalam mengajar, sehingga cara-cara konvensional masih dilakukan dalam mengajar. Melihat hal tersebut, kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan tertinggi di sekolah memberikan motivasi kepada para guru melalui kebijakan “pembasit” untuk merubah mindset mereka tentang cara mengajar, dan mulai menggunakan IT untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Pembasit adalah aktronim dari Pembelajaran berbasis IT. Kebijakan itu nantinya akan menjadi jargon untuk peningkatan kualitas pembelajaran di SDN Kloposepuluh 2 Kecamatan Sukodono dalam menyambut revolusi industri 4.0. Setelah dilakukan pendampingan dalam mendesain pembelajaran berbasis IT diadapatkan data hasil observasi menunjukkan kenaikan yang signifikan yaitu ada 8 dari 9 guru telah melakukan tindakan perbaikan pembelajaran dengan menyertakan tehnologi dalam kegiatan pembelajaran atau sebesar 89%. Hal itu jauh dibandingkan data pada siklus sebelumnya sebesar 33,3 %.
Peningkatan Kualitas Pembelajaran melalui Kebijakan “Pembasit” di SDN Kloposepuluh 2 Sukodono Muzahidin, Muzahidin
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v4i2.622

Abstract

Untuk mewujudkan peserta didik yang cerdas berstandar global baik pengetahuan, sikap dan keterampilannya, maka guru dituntut tidak hanya cerdas namun juga harus kreatif dalam mendesain kegiatan pembelajarannya. Menjadi Guru kreatif di era global akan mampu mengantarkan peserta didik menjadi cerdas, mandiri, kreatif dan memiliki kompetensi yang berstandar global. Keadaan berbeda dijumpai di SDN Kloposepuluh 2 kecamata Sukodono. Guru-guru di SDN Kloposepuluh 2 masih dibilang konvensinal dalam mengajar. Mereka hanya mengandalkan papan tulis dan buku cetak sebagai sumber belajarnya. Komputer dan laptop tersedia di sekolah namun masih jarang dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Mereka tidak mau repot dan kesusahan dalam mengajar, sehingga cara-cara konvensional masih dilakukan dalam mengajar. Melihat hal tersebut, kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan tertinggi di sekolah memberikan motivasi kepada para guru melalui kebijakan “pembasit” untuk merubah mindset mereka tentang cara mengajar, dan mulai menggunakan IT untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Pembasit adalah aktronim dari Pembelajaran berbasis IT. Kebijakan itu nantinya akan menjadi jargon untuk peningkatan kualitas pembelajaran di SDN Kloposepuluh 2 Kecamatan Sukodono dalam menyambut revolusi industri 4.0. Setelah dilakukan pendampingan dalam mendesain pembelajaran berbasis IT diadapatkan data hasil observasi menunjukkan kenaikan yang signifikan yaitu ada 8 dari 9 guru telah melakukan tindakan perbaikan pembelajaran dengan menyertakan tehnologi dalam kegiatan pembelajaran atau sebesar 89%. Hal itu jauh dibandingkan data pada siklus sebelumnya sebesar 33,3 %.