Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PUSAT KREATIVITAS DI PASAR BARU Gunawan, Reynaldo; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol 1, No 2 (2019): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v1i2.4424

Abstract

Based on research, milennials have one prominent character over the past generations, it is creative thinking. after several studies milenials have a huge interest on fashion and craft, as seen on their creative activity both In real life and digital life related to it. Indonesian Creative Entrepreneurs nowadays are dominated with Millennials1. But what prevent their bussinesses from growing are the synergy inbetween that is too complicated, waisting their time and money. Creative Hub is a space, sustainably supporting creative entrepreneurs and people to gather, collaborate, and grow. Createur itself is a combination of Creative and Entrepreneur. Createur located near Pasar Baru, a historic shopping center that supply various things related to fashion and craft, there are also skilled workers related. Design method that was used is Pattern Language by studying physical pattern around site and recreating new pattern associated with the building programs produced. Createur in this case provide various kinds of facilty related from idea searching, designing, producing, to publishing. Milenials that was working inside the Creative Hub can easily jump to the field discovering materials. watching the skilled workers, and practice directly inside the Creative Hub. AbstrakBerdasarkan pengkajian, milenials memiliki satu karakteristik yang menonjol dari generasi sebelumnya, yakni berpikir kreatif. Setelah melakukan beberapa studi milenials memiliki minat yang besar terhadap bidang Fashion dan Kriya, hal ini terlihat dari banyaknya aktivitas kreatif milenials baik di dunia nyata maupun di dunia maya yang terkait dengan kedua hal tersebut. Pelaku usaha kreatif di indonesia saat ini didominasi oleh Milenials. Namun yang menjadi penghalang berkembangnya usaha kreatif milenials adalah sinergi usaha yang terlalu rumit dan membuang banyak waktu dan biaya. Pusat Kreativitas adalah ruang yang secara berkelanjutan mendukung pelaku usaha kreatif dan orang-orang untuk berkumpul, berkolaborasi, dan berkembang. Createur sendiri adalah gabungan dari creative dan entrepreneur yang artinya adalah pelaku usaha kreatif. Createur berlokasi di dekat Pasar Baru, pusat perbelanjaan bersejarah yang menyediakan berbagai macam kebutuhan yang berhubungan dengan fashion dan kriya didalamnya-pun banyak tenaga terampil terkait. Metode perancangan yang digunakan adalah pattern language dengan mengkaji pola fisik di sekitar tapak dan membuat pola baru dengan mengaitkan dengan program bangunan yang dihasilkan. Createur dalam hal ini menyediakan berbagai macam fasilitas yang berhubungan mulai dari pencarian ide, mendesain, produksi, hingga publikasi. Milenials yang sedang bekerja di dalam Pusat Kreativitas dapat dengan mudah terjun ke lapangan berbelanja bahan produksi, melihat para tenaga ahli bekerja, dan langsung mempraktikannya di dalam Pusat Kreativitas.
PERAN ARSITEKTUR TERHADAP KEMAJUAN UMKM DI BIDANG FASHION DI ERA DIGITALISASI MELALUI PENDEKATAN ARSITEKTUR EMPATI Deva, Sidharta Chandana; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27444

Abstract

MSMEs, or Micro, Small, and Medium Enterprises, represent productive ventures owned by individuals or entities qualifying as micro-enterprises. In the digitalization era, these MSMEs have witnessed rapid growth, significantly contributing to Indonesia's economic advancement. Recognizing their importance, both governmental and private sectors are actively promoting MSMEs in the country. A notable sector experiencing rapid expansion is the creative economy, particularly the fashion industry. However, challenges threaten the progress of fashion-oriented MSMEs in Indonesia's digital age. The digitalization era has intensified both national and global competition. Many enterprises struggle to adapt to these digital shifts, exacerbated by the lack of supportive facilities. This research examines the development of fashion-related MSMEs through an architectural lens, investigating how architectural and digital designs influence their evolution in an increasingly digital landscape. Utilizing both qualitative and quantitative methods, the study further analyzes transformations within the fashion business, encompassing shifts in physical store designs due to digitalization, and the role of architectural communication via social media, online branding, and digital marketing in shaping brand identity. Keywords: Architecture; Digitalization; Fashion; MSMEs; Progress Abstrak UMKM adalah singkatan dari usaha mikro, kecil dan menengah, UMKM merupakan usaha produktif yang dimiliki perorangan atau badan usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro. UMKM berkembang cukup pesat di era digitalisasi ini, sehingga memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, oleh karena itu pemerintah dan swasta tengah berupaya dalam memajukan UMKM di Indonesia, salah satu sektor industri yang berkembang cukup pesat saat ini adalah industri ekonomi kreatif dibidang fashion, namun, terdapat permasalahan yang dapat menghambat dan mengancam kemajuan UMKM bidang fashion di Indonesia di era digitalisasi. Era digitalisasi membuat persaingan nasional maupun global semakin ketat, dan masih banyak yang tidak mampu beradaptasi terhadap perkembangan digitalisasi, minimnya fasilitas yang mewadahi hal ini juga menjadi salah satu faktor yang menghambat kemajuan UMKM di Indonesia. Penelitian ini mendekati perkembangan UMKM dibidang fashion dengan perspektif arsitektural, mengeksplorasi desain arsitektur dan digital dapat mempengaruhi perkembangan UMKM di bidang fashion yang semakin terdigitalisasi dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, selain itu penilitian ini juga bertujuan untuk menganalisis transformasi dalam konteks bisnis fashion dan kebutuhan UMKM, termasuk desain toko fisik yang mengalami perubahan akibat perkembangan digitalisasi, serta komunikasi arsitektur melalui media sosial, branding online, dan strategi pemasaran digital dapat memainkan peran dalam membangun identitas merek.
ARSITEKTUR ADAPTIF YANG MENJUNJUNG TINGGI KEMANUSIAAN DALAM BANGUNAN SIAP HUNI BAGI PENGUNGSI BANJIR Yonandi, Reinhard Patricio; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27447

Abstract

Floods are a familiar disaster for Jakarta residents, often bringing detrimental impacts. These include disruptions to physical and mental health, property damage, and significant economic losses. With numerous residences submerged, affected residents are compelled to evacuate, seeking shelter and assistance. However, the high number of evacuees and the limited capacity of emergency shelters often result in a drastic decline in their quality of life. Additionally, government regulations regarding aid provision further exacerbate the disparity between the assistance provided and the needs of the evacuees. Acknowledging the shortcomings and responses from those who have experienced displacement, this journal explores the crucial role of architecture in meeting the needs of evacuees in flood-prone areas, particularly in Jakarta. It delves into how architecture can address the needs of evacuees through its design. The primary focus is on designing buildings that are adaptive to environmental conditions, considering essential needs. Involving humanitarian elements in housing development becomes a key aspect, as outlined in the journal, detailing efforts to enhance the quality of life and sustainability for the evacuee community. This research highlights the importance of adaptive architecture as an integral solution in addressing the impact of natural disasters from both architectural and human design perspectives. It provides a fresh perspective on handling evacuations in flood-prone areas. Keywords: Adaptive; Architecture; Evacuees; Needs Abstrak Banjir adalah salah satu bencana yang sudah tidak asing lagi bagi warga Jakarta, dan seringkali bencana ini membawa dampak negatif yang merugikan. Hal ini mencangkup gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental, kerusakan properti, dan juga kerugian ekonomi yang signifikan. Dengan banyak terendamnya tempat tinggal, para warga yang tertimpa terpaksa mengungsi, mencari perlindungan, dan meminta bantuan. Sementara jumlah pengungsi yang tinggi, terdapat keterbatasan kapasitas dari tempat pengungsian darurat yang sering mengakibatkan penurunan drastis dari kualitas hidup mereka. Selain itu, dengan adanya peraturan mengenai bantuan kebutuhan dari pemerintah, kelebihan kapasitas ini membuat bantuan yang diberikan menjadi tidak sebanding dengan korban pengungsi yang ada. Mengetahui kekurangan dan respon dari para warga yang pernah mengungsi, jurnal ini mengeksplorasi peran krusial arsitektur dalam memenuhi kebutuhan pengungsi di kawasan rawan banjir, khususnya di Jakarta. Bagaimana arsitektur dapat memenuhi kebutuhan para pengungsi melalui rancangannya. Fokus utama adalah pada merancang bangunan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan, dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan esensial. Melibatkan elemen kemanusiaan dalam pengembangan ruang hunian menjadi elemen            kunci, jurnal ini merinci upaya meningkatkan kualitas hidup dan keberlanjutan bagi komunitas pengungsi. Penelitian ini menyoroti pentingnya arsitektur adaptif sebagai solusi integral dalam menghadapi dampak bencana alam dari aspek rancangan arsitektur dan manusia, dan memberikan pandangan baru terhadap penanganan pengungsian di kawasan yang rentan terhadap banjir.
REVITALISASI BIOSKOP GRAND THEATER SENEN MENJADI DISTRIK SENI BERKONSEP RUANG KETIGA Soros, Martris Loa; Halim, Martin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30905

Abstract

The Senen area was once home to many artists who eventually became known as Seniman Senen. Due to the flourishing art scene at that time, Senen developed a reputation as an art center. Unfortunately, the art in the area has disappeared, leaving the Seniman Senen without a space to create. One of the icons of Senen is the Grand Theater Senen, a historic cinema building in Jakarta, which no longer functions as it used to. The building has declined in functionality due to prostitution activities, leading to its closure and abandonment. Given the site's potential, the Grand Theater Senen, now a placeless place, is planned for revitalization by changing the program and function of the building according to the needs of the area and its users. The primary community in the area consists of traders and commuters. Through contextual architectural principles analysis, it is found that traders need better spaces for their businesses as their trade is slowing down. Commuters, who often have to wait for public transportation, feel bored and tired, requiring spaces for rest and refreshing. These contextual architectural principles are applied by designing in accordance with the needs of the users and the area's conditions. Therefore, the design of an art district with a third place concept is expected to meet these needs. The design aims to provide a place for rest, refreshment, socializing, trading, and a space for the Seniman Senen to create, thereby reviving the art in the area. Keywords:  architecture; art district; grand theater senen; revitalization; third place Abstrak Kawasan Senen dahulunya terdapat banyak pendatang yang berkarya seni, yang pada akhirnya dikenal sebagai Seniman Senen. Akibat majunya seni kala itu, Kawasan Senen akhirnya memiliki karakteristik sebagai pusat seni. Namun sayangnya, seni pada kawasan sudah hilang yang menyebabkan Seniman Senen tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya. Pada Kawasan Senen terdapat ikon kawasan yaitu Grand Theater Senen yang merupakan sebuah bangunan bioskop bersejarah di Jakarta yang sekarang sudah tidak lagi memiliki fungsi bangunan seperti sedia kala. Bangunan ini mengalami kemunduran fungsi dikarenakan adanya kegiatan prostitusi sehingga pada akhirnya bangunan ini harus tutup dan terbengkalai. Akan adanya potensi tapak yang baik, Grand Theater Senen yang sudah menjadi placeless place direncanakan untuk dilakukan revitalisasi dengan mengubah program dan fungsi bangunan sesuai dengan kebutuhan kawasan dan pengguna. Jenis masyarakat yang memayoritasi kawasan adalah pedagang dan komuter. Melalui analisis yang menggunakan metode prinsip arsitektur kontekstual, pedagang memerlukan ruang untuk berdagang yang lebih mendukung dikarenakan dagangan yang mulai sepi. Komuter yang harus menunggu jadwal keberangkatan transportasi umum seringkali merasa jenuh dan lelah, sehingga memerlukan ruang untuk beristirahat dan refreshing. Prinsip arsitektur kontekstual tersebut kemudian diterapkan dengan merancang desain yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna dan kondisi kawasan. Maka dari itu, perancangan distrik seni berkonsep ruang ketiga diharapkan dapat menjadi solusi dari kebutuhan yang ada. Perancangan ini bertujuan untuk menjadi sarana untuk beristirahat, refreshing, bersosialisasi, berdagang, dan menjadi ruang bagi para Seniman Senen untuk berkarya sehingga dapat menghidupkan lagi seni dari kawasan.