Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENYEDIAAN SARANA PENDUKUNG UNTUK MENINGKATKAN MINAT BACA REMAJA BEKASI Chandra, Ricky; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27501

Abstract

According from a study from United States, Indonesia is ranked 60th out of 61 countries measured by its population’s reading interest (Mikhael Gewati, 2016). One of the worst case existed in Bekasi, where only 10 percent of its teenagers has a sufficient reading interest. The main causes are the non-matching teenager’s character that is dynamic with the existing library’s characters which are enclosed and monotonous, as well as the obligation of text books usage, which makes them feel like they are being given additional “task” when reading other books (Quora, 2022). Both statements are proven after few teenagers are surveyed, where only 1 of 20 teenagers took interest in reading routinely. From this problem, hybrid-public library design is proposed, with programs such as reading analog and digital book, discussing, studying, eating together, watching video, playing games, and resting, to highlight the productive aspects of reading, not only done by just “staring texts”. After searching strengths and weaknesses of existing libraries in Bekasi, the location at Jl. Kimangun Sarkoro, RW.006, Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur is recognized as the perfect place for the design. Since the surrounding buildings are low-rise, the library will be made with just 3-storey height, with the minimum required area is 5018,57 square meter. Architectural theme that will be applied has characters of “youth” which are flexible, unimpeded, with various material expressions and different from existing libraries. Keywords: reading facility; reading interest; teenager Abstrak Menurut sebuah studi yang berasal dari Amerika Serikat, Indonesia memasuki urutan ke-60 dari 61 negara yang diukur berdasarkan minat baca penduduknya (Gewati, 2016). Kasus yang parah berada di Kota Bekasi, di mana hanya 10 persen remaja yang tinggi minat bacanya. Penyebab utamanya adalah ketidaksesuaian karakter remaja yang dinamis dengan karakter sarana baca eksisting yang tertutup dan monoton, serta kewajiban penggunaan buku pelajaran, yang membuat mereka seperti diberi “tugas” tambahan saat membaca buku lain (Quora, 2022). Kedua hal ini terbukti setelah beberapa remaja di survei, dimana hanya 1 dari 20 anak remaja minat membaca secara rutin. Dari masalah ini, diusulkan perancangan sarana pustaka umum hibrida dengan program membaca buku analog dan digital, diskusi, belajar, berkumpul sambil makan, nonton video, bermain, dan istirahat, untuk menonjolkan aspek produktif dari membaca, yang tidak hanya sekedar “melihat teks”. Setelah menelusuri kelebihan dan kekurangan sarana pustaka eksisting di Bekasi, didapat lokasi Jl. Kimangun Sarkoro, RW.006, Bekasi Jaya, Kec. Bekasi Timur sebagai tempat yang tepat untuk rancangannya. Karena bangunan sekitar bertingkat rendah, maka sarananya akan dibuat setinggi 3 lantai saja, dengan luas yang dibutuhkan minimal 5018,57 meter persegi. Tema arsitektur yang digunakan berkarakter “youth” yang fleksibel, leluasa, dengan ekspresi material yang beragam dan berbeda dari sarana pustaka eksisting.
IMPLEMENTASI DESAIN SARANA TERAPI BERMAIN UNTUK PENGEMBANGAN KEMAMPUAN WICARA DAN BAHASA ANAK PENYANDANG TUNARUNGU Handojo, Helen Leticia; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27502

Abstract

The World Health Organization (WHO) states that 10 percent of the total population of Indonesia has disabilities. The deaf occupies the second position with the largest number of people with disabilities in the world; Apart from that, it was reported by the Central Committee for the Management of Hearing Loss and Deafness that as many as 5,200 million children in Indonesia have the potential to be born deaf. Deafness refers to individuals who have lost part or all of their sense of hearing and therefore require hearing aids. However, with the limited supply of hearing aids, we need to provide alternatives to respond to the needs of the deaf community. The project target is aimed at deaf children aged 0-12 years so that the atmosphere created has a playful nuance; as one of the basic needs of children aged 0-12 years is to play. Research analysis uses a rationalistic approach with qualitative methods through interviews and observations. Play therapy is the main activity of the project which is used to improve children's interpersonal processes in learning and socializing as well as as an intervention for responsive parenting. The activity program offered is educational and recreational. In this way, the play therapy room is made of a variety of games. The room is designed simply and decorated with curved corners to give a soft and feminine impression. Keywords: Language; deaf person; play therapy;  speech Abstrak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan sebesar 10 persen dari total penduduk negara Indonesia menyandang disabilitas. Tunarungu atau biasa disebut sebagai Tuli menempati posisi kedua dengan jumlah penyandang disabilitas paling banyak di dunia; selain itu dilaporkan oleh Komite Pusat Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian sebanyak 5.200 juta anak di Indonesia berpotensi terlahir Tunarungu. Tunarungu merujuk kepada individu yang mengalami kehilangan sebagian atau seluruh indera pendengarannya sehingga memerlukan alat bantu dengar. Namun dengan keterbatasan pasokan alat bantu dengar, maka kita perlu memberikan alternatif untuk menanggapi kebutuhan masyarakat Tunarungu. Target proyek ditujukan untuk anak penyandang Tunarungu mulai dari usia 0-12 tahun sehingga atmosfer yang tercipta bernuansakan playful; sebagaimana salah satu kebutuhan dasar anak pada usia 0-12 tahun adalah bermain. Analisa penelitian menggunakan pendekatan rasionalistik dengan metode kualitatif melalui wawancara dan observasi. Terapi bermain menjadi kegiatan utama proyek yang digunakan untuk meningkatkan proses interpersonal anak dalam belajar dan bersosialisasi serta sebagai intervensi dari pola asuh orang tua yang responsif. Program kegiatan yang ditawarkan bersifat rekreasional edukatif.  Dengan demikian ruangan terapi bermain dibuat bervariasi permainan. Ruangan didesain dengan sederhana dan dihiasi sudut yang melengkung untuk memberikan kesan yang halus dan feminim.
ADAPTIVE RE-USE UNTUK REVITALISASI EKS. BANDARA KEMAYORAN, JAKARTA PUSAT Lukas, Fernando; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30354

Abstract

Jakarta is rich in historical memories left over from the colonial era. However, many of these buildings are now just remnants of a valuable past. Unfortunately, some of these structures have been left neglected, leading to significant deterioration over time. It's regrettable because these historical buildings hold cherished memories and meanings. Consequently, these buildings have fallen into the phenomenon of "Placeless Place." One prominent example is the former Kemayoran Airport, which ceased operations in 1991. Once serving international and domestic routes as Jakarta's first airport, it now lacks significance in the eyes of Jakarta's populace. Much of the Kemayoran Airport area has been repurposed for housing and other uses. What remains is a derelict waiting lounge used from 1940 to 1984. Yet, if utilized effectively, it could transform the cityscape through the revitalization of old buildings. With a focus on preserving the memories of the former Kemayoran Airport and safeguarding its remaining relics, this renewal effort must be executed judiciously. Employing Adaptive Re-use as a method to revitalize this old airport site could effectively restore its identity with new functions and purposes. It is hoped that this revitalization will breathe new life into the Kemayoran Airport, restoring its building's identity and delivering significant benefits to the community. Keywords:  adaptive re-use; kemayoran airport; placeless place; revitalization Abstrak Jakarta kaya akan memori sejarah yang merupakan peninggalan dari era kolonial. Kini, bangunan-bangunan ini hanya meninggalkan sejarah yang berharga. Akan tetapi, beberapa dari bangunan tersebut dibiarkan tidak terurus, sehingga mengalami banyak kerusakan seiring berjalannya waktu. Sangat disayangkan, karena bangunan bersejarah ini memiliki kenangan dan makna tersendiri. Akhirnya, bangunan-bangunan ini mengalami fenomena Placeless Place. Salah satu contohnya adalah Eks. Bandara Kemayoran, yang sudah tidak beroperasi sejak tahun 1991. Sebuah bangunan yang sebelumnya memiliki makna sebagai bandara pertama di Jakarta yang melayani rute internasional dan domestik, sekarang tidak lagi memiliki arti di mata masyarakat Jakarta. Sebagian besar area Bandara Kemayoran sudah dialih fungsikan menjadi perumahan dan juga kegunaan lainnya. Sekarang, tersisa sebuah bangunan ruang tunggu yang digunakan pada tahun 1940 – 1984 yang kini terbengkalai begitu saja. Padahal, jika di manfaatkan dengan baik akan menghadirkan wajah kota yang baru dengan hasil dari merevitalisasi bangunan lama. Dengan fokus mempertahankan memori dari Eks. Bandara Kemayoran dan menjaga peninggalan – peninggalan yang masih tersisa di upayakan pembaharuan ini harus dilakukan dengan tepat. Menggunakan metode Adaptive Re-use sebagai salah satu cara untuk merevitalisasi kawsan bandara lama ini. Adaptive Re-use dapat menjadi metode efektif untuk mengembalikan identitas bangunan ini dengan fungsi serta kegunaan yang baru. Diharapkan dengan adanya fungsi baru ini, Eks. Bandara Kemayoran akan kembali hidup dan mengembalikan identitas bangunanya, serta memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat.
PENERAPAN ARSITEKTUR NARATIF DI KAWASAN LOKASARI UNTUK MENGHIDUPKAN MEMORI KOLEKTIF PRINSEN PARK Dharma Tjhindra, Rudy; Sukada, Budi Adelar
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30904

Abstract

Prinsen Park is the pioneer of the film industry in Indonesia which has given birth to many famous artists and actor and was given a nicknamed as tangkiwood. The glory of Prinsen Park began to fade due to a decline in interest in watching films and the development of analog television in the 1970s. Prinsen Park or what is now called Lokasari began to lose its original identity since the rejuvenation program which was implemented in 1985 and popping up of nightclubs in the area at the 90s. This project aims to restore the image of Prinsen Park and make the Lokasari area the center of community activities in Taman Sari. The cross section method was used to collect data through the process of observing existing areas accompanied by comparisons with historical evidence written in journals and books. The credibility of the data collected was strengthened through interviews with people regarding their impressions of the former location until now. The results of the analysis are a collection of collective community memories which were used in the design process to create the atmosphere of Prinsen Park in Lokasari. The atmosphere of Prinsen Park is presented again through the architectural narrative method. Narrative architecture plays a role in forming a collective memory which is useful in building an image of an area and building sense of place and sense of belonging among users to maintain the history of Prinsen Park and become a new chapter for the Lokasari. Keywords: Lokasari; memory; narrative; park; Prinsen Abstrak Prinsen Park merupakan cikal bakal dari industri perfilm-an di Indonesia yang telah melahirkan banyak seniman dan aktor serta diberi julukan tangkiwood. Kejayaan dari Prinsen Park mulai pudar disebabkan penurunan minat menonton film dan berkembangnya televisi analog pada tahun 1970-an. Prinsen Park atau yang sekarang bernama Lokasari mulai kehilangan identitas aslinya sejak dilaksanakan program peremajaan pada tahun 1985 disertai dengan mulai menjamurnya klub malam di kawasan tersebut pada tahun 90-an. Proyek ini bertujuan untuk mengembalikan citra Prinsen Park dan menjadikan kawasan Lokasari sebagai pusat kegiatan masyarakat di Taman Sari.  Metode cross section digunakan dalam pengumpulan data melalui proses observasi kawasan eksisting disertai perbandingan terhadap bukti sejarah yang tertulis pada jurnal dan buku, data yang dikumpulkan diperkuat kredibilitasnya melalui wawancara pada masyarakat mengenai impresi terhadap kawasan lokasari terdahulu hingga sekarang. Hasil analisis berupa kumpulan memori kolektif masyarakat yang digunakan dalam proses desain untuk menghadirkan suasana Prinsen Park di Lokasari. Suasana dari Prinsen Park kembali dihadirkan melalui metode naratif arsitektur. Arsitektur naratif berperan dalam membentuk memori kolektif yang berguna dalam membangun citra dari sebuah kawasan dan membangun sense of place serta sense of belonging pada pengguna untuk menjaga sejarah dari Prinsen Park dan menjadi lembaran baru bagi kawasan Lokasari.