Makalah ini membandingkan hasil debit limpasan langsung yang diperoleh menggunakan model numerik aliran dangkal dengan metode hidrograf satuan sintetis (HSS) yang sering digunakan di Indonesia. Secara umum dapat diketahui bahwa metode HSS tersebut masih bersifat empiris, sehingga menyulitkan pengguna dalam penentuan metode yang representatif. Sementara, pendekatan hidrodinamik seperti model numerik aliran dangkal dapat menghasilkan hasil yang lebih akurat dalam memprediksi limpasan langsung dibandingkan dengan HSS karena model tersebut diturunkan secara matematis berdasarkan proses fisik. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa prediksi limpasan langsung dengan model numerik aliran dangkal (HEC-RAS 5.0.7) memberikan hasil yang lebih akurat dalam memprediksi debit puncak dengan rata-rata error -0,07%, waktu puncak dengan rata-rata error 19,77% serta bentuk hidrograf dengan nilai Root Mean Square Error (RMSE) yang paling kecil pada semua kasus yang telah diuji. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa pendekatan hidrodinamik sangat direkomendasikan dalam memprediksi limpasan langsung untuk kedepannya. Makalah ini juga dibuat dengan harapan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan HSS baru yang lebih akurat di masa mendatang.