Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : jurnal ilmu multidisplin

Optimization of Explosive Loads for Controlling Ground Vibrations in Blasting Activities at PT Riung Mitra Lestari, Jobsite Energi Batu Hitam, East Kalimantan R Anggara; Xevarel Nevaldo Rayva Nugroho; Suparno; Fadilla Muhamad; Dhia Fahri
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 5 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i5.1482

Abstract

This study aims to optimize the explosive charge to minimize ground vibration generated by blasting operations at PT Riung Mitra Lestari, Energi Batu Hitam Jobsite, East Kalimantan. According to the Indonesian National Standard (SNI 7571:2023), the permissible ground vibration limit is 5 mm/s. However, the company implements a more stringent internal limit of 4 mm/s for all types of structures as a preventive measure to mitigate potential damage and ensure safety and comfort for surrounding communities. Field measurements indicated that vibration levels exceeded the established limits, with values of 21.68 mm/s at the explosive magazine area (250 m from the blast site) and 7.168 mm/s at residential areas (326 m from the blast site). This evaluation employs a scaled distance approach and Peak Vector Sum (PVS) analysis based on the United States Bureau of Mines (USBM) empirical method. A regression model was developed to establish the relationship between scaled distance and PVS, which was subsequently used to predict Peak Particle Velocity (PPV) values derived from the obtained constant and exponent. The regression demonstrated a strong correlation, with a constant (k) of 9410.6, an exponent (e) of ?1.999, and a coefficient of determination (R²) of 0.8646. Based on these findings, the maximum recommended explosive charge to maintain PPV below 4 mm/s is 41.3 kg/hole for residential areas and 25.7 kg/hole for the explosive magazine area, adjusted according to the blasting geometry. The proposed design yields a Scaled Depth of Burial (SDOB) classified as “controlled energy,, which is in accordance with company standards. This study provides a safer and standardized blasting design alternative to minimize the risk caused by vibrations on the surrounding infrastructure.
Perbandingan Penggunaan Kriteria Mohr-Coulomb dan Hoek-Brown terhadap Analisis Kestabilan Lereng Batu Gamping Putra, I Dewa Putu Gede Wahyu Adiana; Anggara, Rochsyid
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Multidisplin (April - Mei 2026)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v5i1.1927

Abstract

Kestabilan lereng dalam kegiatan penambangan sangat dipengaruhi oleh karakteristik massa batuan dan juga keterdapatan bidang diskontinu pada lereng tersebut. Pembentukan lereng dalam kegiatan penambangan perlu melalui berbagai kajian serta analisis untuk menemukan geometri lereng optimal baik dari aspek keamanan maupun keekonomiannya. Penelitian ini akan membandingkan dua kriteria yang biasa digunakan dalam analisis kestabilan lereng yakni kriteria Mohr-Coulomb dan kriteria Hoek-Brown untuk menganalisis lereng batu gamping sehingga dapat mengetahui kriteria yang memberikan hasil analisis paling optimal dengan nilai faktor keamanan yang tidak berlebih (overestimate). Analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GeoStudio 2023.1 dengan metode Morgenstern-Price pada tiga desain lereng dengan single slope 90°, 80°, dan 70°. Data yang digunakan dalam analisis ini meliputi hasil uji sifat fisik, uji kuat tekan uniaksial (UCS), dan pembacaan nilai Geological Strength Index (GSI). Berdasarkan hasil analisis diperoleh rentang nilai faktor keamanan (FK) dengan model Hoek-Brown sebesar 1,37–1,59 untuk lereng keseluruhan dan 1,26–1,53 untuk lereng tunggal, sedangkan model Mohr-Coulomb menghasilkan rentang nilai FK sebesar 1,80–2,09 untuk lereng keseluruhan dan 1,66–2,01 untuk lereng tunggal. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model Hoek-Brown menghasilkan nilai FK lebih kecil dibandingkan model Mohr-Coulomb karena mempertimbangkan Geological Strength Index (GSI) dan faktor gangguan yang terjadi di lapangan.