Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

RELIABILITAS ANALISIS BALIK KELONGSORAN LERENG LOWWALL DENGAN PENDUGAAN PARAMETER GEOTEKNIK DAN REMEDIASI LERENG MENGGUNAKAN METODE BEDA HINGGA Novandri Wardana; Dian Eka Aryanti; Rochsyid Anggara
KURVATEK Vol 6 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v6i1.2083

Abstract

Faktor ketidakpastian dan parameter variabilitas spasial batuan menjadi faktor penting dalam konsep menganalisis kestabilan lereng. Karakteristik massa batuan yang menunjukkan sifat acak (random) menghasilkan pola distribusi tertentu. Masalah keandalan dalam beberapa segment dapat menggunakan metode tradisional seperti metode kesetimbangan batas (LEM). Sedangkan, untuk metode numerik yang lebih detail dalam perhitungan menggunakan Metode Finite Difference. Finite Difference Methods (FDM) merupakan sebuah metode numerik untuk menganalisis reliabilitas lereng batuan yang menggabungkan teori analisis batas plastis, elemen kaku dan teori pemrograman matematika metode Monte Carlo. Kemiringan batuan dipisahkan menjadi blok antarmuka (interface) menggunakan metode beda hingga untuk menetapkan medan tegangan statis. Selain dari itu, model pemrograman stokastik untuk melakukan analisis reliabilitas lereng batuan yang ditetapkan sesuai FK berdasarkan parameter kekuatan geser interface variabel acak. Dalam Perhitungan FK menggunakan metode sampling Point Estimate Methods dalam penenentuan Probabilitas Kelongsoran. Hasil Analisis menunjukkan bahwa analisis reliabilitas lereng sangat dipengaruhi oleh variabilitas yang melekat pada sudut lereng (friction angle) dan kondisi hidrogeologi pada batuan. Kata kunci: Finite Difference Method, Back Analysis, Point Estimate Method, Reliabilitas, Shear Strength Interface
Kajian Ventilasi Rencana Pembukaan Level II Lubang Tambang Mbah Soero, Sawahlunto, Sumatera Barat R Anggara; D Agung Prata
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2023): April 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.894 KB)

Abstract

Lubang tambang Mbah Soero adalah salah satu objek wisata sejarah yang terletak di kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Terowongan sepanjang 185 meter ini dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, tahun 1898. Dari tahun 1898 hingga 1932, kegiatan penambangan batubara di kota Sawahlunto masih menggunakan terowongan ini. Namun untuk keperluan wisata, pemerintah daerah setempat merenovasi terowongan ini menjadi tempat yang layak dikunjungi baik dari segi keamanan maupun kemudahan mencapai area dibawah tanah dengan membangun anak-anak tangga. Renovasi mulai dilakukan dari 27 Juni 2007 hingga Desember 2007. Kemudian diresmikan sebagai objek wisata pada 23 April 2008. Keasliannya yang masih tetap dipertahankan, dapat dilihat dari bagian atap dan dinding yang terbuat dari batubara. Dari hasil pengukuran dan pemodelan ventilasi dapat dilihat bahwa kondisi saat ini dialiri ventilasi dengan kecepatan minimal telah memenuhi batas kecepatan di tambang bawah tanah. Apabila akan dibuka Level II, setidaknya mesti disuplai udara dengan kapasitas yang sama dengan yang telah disuplai ke Level I.
Optimization of Explosive Loads for Controlling Ground Vibrations in Blasting Activities at PT Riung Mitra Lestari, Jobsite Energi Batu Hitam, East Kalimantan R Anggara; Xevarel Nevaldo Rayva Nugroho; Suparno; Fadilla Muhamad; Dhia Fahri
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 5 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Desember 2025 - Januari 2026)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i5.1482

Abstract

This study aims to optimize the explosive charge to minimize ground vibration generated by blasting operations at PT Riung Mitra Lestari, Energi Batu Hitam Jobsite, East Kalimantan. According to the Indonesian National Standard (SNI 7571:2023), the permissible ground vibration limit is 5 mm/s. However, the company implements a more stringent internal limit of 4 mm/s for all types of structures as a preventive measure to mitigate potential damage and ensure safety and comfort for surrounding communities. Field measurements indicated that vibration levels exceeded the established limits, with values of 21.68 mm/s at the explosive magazine area (250 m from the blast site) and 7.168 mm/s at residential areas (326 m from the blast site). This evaluation employs a scaled distance approach and Peak Vector Sum (PVS) analysis based on the United States Bureau of Mines (USBM) empirical method. A regression model was developed to establish the relationship between scaled distance and PVS, which was subsequently used to predict Peak Particle Velocity (PPV) values derived from the obtained constant and exponent. The regression demonstrated a strong correlation, with a constant (k) of 9410.6, an exponent (e) of ?1.999, and a coefficient of determination (R²) of 0.8646. Based on these findings, the maximum recommended explosive charge to maintain PPV below 4 mm/s is 41.3 kg/hole for residential areas and 25.7 kg/hole for the explosive magazine area, adjusted according to the blasting geometry. The proposed design yields a Scaled Depth of Burial (SDOB) classified as “controlled energy,, which is in accordance with company standards. This study provides a safer and standardized blasting design alternative to minimize the risk caused by vibrations on the surrounding infrastructure.
Pemetaan Aplikasi Hidrogen dan Kesenjangan Infrastruktur pada Sistem Energi Indonesia: Scoping Review Lintas Sektor Zulfikar Aji Kusworo; Rochsyid Anggara
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 7, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2026.31529

Abstract

Hidrogen hijau semakin mendapat perhatian di Indonesia sebagai solusi dekarbonisasi bagi sektor-sektor yang sulit dielektrifikasi secara langsung, seperti panas proses industri, bahan baku kimia, angkutan berat, dan penyimpanan energi jangka panjang. PP No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional beserta Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional (RHAN) 2025–2060 telah menetapkan 215 rencana aksi yang terbagi dalam tiga fase implementasi. Meskipun demikian, keberhasilan ekosistem hidrogen tidak dapat dinilai hanya dari kapasitas produksi saja; kesiapan seluruh rantai nilai, mulai dari elektroliser di hulu hingga pengguna akhir di hilir, justru menjadi faktor penentu utama. Melalui pendekatan scoping review, studi ini memetakan peluang aplikasi hidrogen di sektor industri, transportasi, dan kelistrikan, sekaligus mengidentifikasi hambatan infrastruktur pada masing-masing sektor. Sumber yang ditelaah mencakup artikel jurnal, laporan lembaga, dan dokumen kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa industri yang selama ini sudah menggunakan hidrogen, yaitu amonia dan kilang minyak, merupakan sektor yang paling siap untuk bertransisi melalui substitusi secara bertahap. Sebaliknya, sektor transportasi dan kelistrikan masih membutuhkan dukungan infrastruktur yang lebih luas, meliputi stasiun pengisian hidrogen, terminal pelabuhan, fasilitas penyimpanan, standar keselamatan, serta kejelasan skema offtake. Reformasi tata kelola karbon melalui Perpres 110/2025 dan penetapan kode KBLI khusus hidrogen turut memperkuat kelayakan investasi. Peta kesenjangan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi acuan bagi penentuan prioritas riset, alokasi investasi, dan arah kebijakan ke depan.
Perbandingan Penggunaan Kriteria Mohr-Coulomb dan Hoek-Brown terhadap Analisis Kestabilan Lereng Batu Gamping I Dewa Putu Gede Wahyu Adiana Putra; Rochsyid Anggara
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu Multidisplin (April - Mei 2026)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v5i1.1927

Abstract

Kestabilan lereng dalam kegiatan penambangan sangat dipengaruhi oleh karakteristik massa batuan dan juga keterdapatan bidang diskontinu pada lereng tersebut. Pembentukan lereng dalam kegiatan penambangan perlu melalui berbagai kajian serta analisis untuk menemukan geometri lereng optimal baik dari aspek keamanan maupun keekonomiannya. Penelitian ini akan membandingkan dua kriteria yang biasa digunakan dalam analisis kestabilan lereng yakni kriteria Mohr-Coulomb dan kriteria Hoek-Brown untuk menganalisis lereng batu gamping sehingga dapat mengetahui kriteria yang memberikan hasil analisis paling optimal dengan nilai faktor keamanan yang tidak berlebih (overestimate). Analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GeoStudio 2023.1 dengan metode Morgenstern-Price pada tiga desain lereng dengan single slope 90°, 80°, dan 70°. Data yang digunakan dalam analisis ini meliputi hasil uji sifat fisik, uji kuat tekan uniaksial (UCS), dan pembacaan nilai Geological Strength Index (GSI). Berdasarkan hasil analisis diperoleh rentang nilai faktor keamanan (FK) dengan model Hoek-Brown sebesar 1,37–1,59 untuk lereng keseluruhan dan 1,26–1,53 untuk lereng tunggal, sedangkan model Mohr-Coulomb menghasilkan rentang nilai FK sebesar 1,80–2,09 untuk lereng keseluruhan dan 1,66–2,01 untuk lereng tunggal. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model Hoek-Brown menghasilkan nilai FK lebih kecil dibandingkan model Mohr-Coulomb karena mempertimbangkan Geological Strength Index (GSI) dan faktor gangguan yang terjadi di lapangan.
ANALISIS BALIK AREA LONGSOR LOW WALL PIT A DALAM MENENTUKAN PARAMETER GEOTEKNIK PT PAMAPERSADA NUSANTARA JOBSITE MTBU Anggara, R.; D. E. Aryanti; M. C. Dewi; F. R. Winata
Jurnal Pertambangan Vol. 10 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jp.v10i2.3263

Abstract

Longsor dipicu oleh adanya lapisan lemah yang berperan sebagai bidang gelincir serta ketidaksesuaian parameter geoteknik yang digunakan dalam desain awal dengan kondisi aktual di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh nilai parameter geoteknik material pada saat terjadinya longsor dan memberikan rekomendasi geometri lereng yang aman berdasarkan hasil analisis balik. Metode analisis balik dilakukan menggunakan pendekatan trial and error dengan menurunkan nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam (φ) hingga diperoleh kondisi lereng dengan Faktor Keamanan (FK) ≤ 1 yang merepresentasikan kondisi longsor. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kohesi mengalami penurunan sebesar 76,1 persen dan sudut geser dalam menurun 47,8% dibandingkan nilai awal. Nilai FK yang diperoleh 0,9 dan Probabilitas Kelongsoran (PK) sebesar 22,6% yang menunjukkan bahwa lereng berada dalam kondisi tidak stabil saat longsor terjadi. Analisis kestabilan lereng dilakukan untuk memperoleh rekomendasi desain lereng aman menggunakan metode kesetimbangan batas Morgenstern Price dan kriteria keruntuhan Mohr Coulomb. Analisis mempertimbangkan pengaruh geometri lereng, keberadaan lapisan lemah, tekanan alat berat sebesar 74 kPa, muka air tanah pada kedalaman 8–10 meter, serta beban gempa dengan percepatan maksimum 0,3 g. Hasil analisis menunjukkan bahwa geometri lereng rekomendasi menghasilkan FK statis sebesar 4,48 dan FK dinamis sebesar 1,13 dengan nilai PK di bawah 4,8% berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 1827 K/30/MEM/2018.