Dalam artikel ini penulis mengangkat tiga hal pokok. Pertama, pemahaman para siswa dan siswi berkaitan dengan persoalan HIV/AIDS. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa adanya pemahaman yang keliru tentang persoalan HIV/AIDS, pertumbuhan dan cara penularannya. Kedua, mengetahui usaha-usaha yang telah dibuat oleh pihak Sekolah Katolik dalam mensosialisakan persoalan HIV/AIDS yang menjadi salah satu persoalan moral-sosial di tanah Papua, termasuk di Provinsi Papua Barat. Lembaga Sekolah Katolik yang merupakan ‘wajah Gereja’ dalam bidang pendidikan hendaknya terlibat secara aktif menyikapi persoalan HIV/AIDS tersebut, demi pembangunan karakter generasi muda Papua di masa mendatang. Ketiga, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat disumbangkan kepada lembaga pendidikan katolik (sekolah) dalam menyikapi dan menanggulangi persoalan HIV/AIDS secara terencana dan terprogram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan sekolah Katolik di Kota dan Kabupaten Sorong dalam menanggulangi persoalan HIV/AIDS sudah baik; hal ini ditunjukan dengan tingkat pengetahuan yang memadai dari para siswa pada kedua sekolah tersebut. Tingkat pengetahuan tentang pengertian dan risiko penularan HIV/AIDS pada siswa di kedua sekolah tersebut berada pada kategori baik. Kondisi ini ditunjukkan oleh angka deskripsi persen tingkat pengetahuan tentang pengertian dan faktor risiko sebesar 68,97% (baik). Selanjutnya angka deskripsi persen pada aspek pengetahuan tentang cara pencegahan dan gejala HIV/AIDS sebesar 64,43% (baik). Pengetahuan yang baik tentang pengertian HIV/AIDS menunjukkan bahwa siswa SMA Katolik pada kedua sekolah tersebut sudah banyak yang tahu dan paham tentang persoalan HIV/AIDS. Meskipun secara keseluruhan deskriptor pada dua indikator pengetahuan tersebut berada pada kategori baik, namun masih ada beberapa item jawaban yang berada pada kategori rendah. Pengetahuan yang cukup tentang persoalan HIV/AIDS menunjukkan bahwa siswa SMA Katolik pada dua sekolah tersebut masih banyak yang belum paham dan tahu tentang HIV/AIDS. Hal ini dikarenakan belum adanya penyuluhan yang lengkap dan jelas tentang HIV/AIDS.