Amiruddin, Ahmad Ramzy
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Konsep Karunia Allah dan Relasi Sosial Muslim dengan Non Muslim pada QS. al-Māidah[5]:64 (Aplikasi Metode Ma’nā-Cum-Magzhā) Amiruddin, Ahmad Ramzy
HERMENEUTIK Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.10488

Abstract

Salah satu peran seorang muslim yang perlu diwujudkan dalam kaitannya dengan non-muslim, ialah menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Realisasi akan hal tersebut dapat dimulai dari perbuatan-perbuatan kecil, seperti membantu sesama hingga perbuatan-perbuatan besar, seperti tidak menciptakan konflik itu sendiri. Ajaran agama turut berperan penting dalam mewujudkan hal itu. Oleh karenanya, melihat ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara terkait relasi muslim dengan non-muslim menjadi penting. Termasuk juga, menelisik sikap Allah terhadap non-muslim itu sendiri dalam konteks pemberian karunia. Untuk melihat kedua hal tersebut, QS. al-Māidah[5]:64 menjadi jawabannya, karena dianggap mengandung kedua hal yang dimaksud. Dalam proses analisisnya, digunakan metode ma’nā-cum magzhā, sehingga diperoleh temuan. Pertama, bahwa QS. al-Māidah[5]:64 memerintahkan agar tidak berbuat kikir, termasuk terhadap non-muslim sekalipun. Kedua, bahwa Allah dalam memberikan karunia-Nya tidak pernah membeda-bedakan antara muslim dan non-muslim. Ketiga, tidak melakukan pengrusakan di muka bumi, salah satunya dengan tidak menciptakan konflik yang dapat memecah belah persatuan, termasuk kepada non-muslim.
Konsep Karunia Allah dan Relasi Sosial Muslim dengan Non Muslim pada QS. al-Māidah[5]:64 (Aplikasi Metode Ma’nā-Cum-Magzhā) Amiruddin, Ahmad Ramzy
HERMENEUTIK Vol 15, No 1 (2021): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v15i1.10488

Abstract

Salah satu peran seorang muslim yang perlu diwujudkan dalam kaitannya dengan non-muslim, ialah menjaga perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Realisasi akan hal tersebut dapat dimulai dari perbuatan-perbuatan kecil, seperti membantu sesama hingga perbuatan-perbuatan besar, seperti tidak menciptakan konflik itu sendiri. Ajaran agama turut berperan penting dalam mewujudkan hal itu. Oleh karenanya, melihat ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara terkait relasi muslim dengan non-muslim menjadi penting. Termasuk juga, menelisik sikap Allah terhadap non-muslim itu sendiri dalam konteks pemberian karunia. Untuk melihat kedua hal tersebut, QS. al-Māidah[5]:64 menjadi jawabannya, karena dianggap mengandung kedua hal yang dimaksud. Dalam proses analisisnya, digunakan metode ma’nā-cum magzhā, sehingga diperoleh temuan. Pertama, bahwa QS. al-Māidah[5]:64 memerintahkan agar tidak berbuat kikir, termasuk terhadap non-muslim sekalipun. Kedua, bahwa Allah dalam memberikan karunia-Nya tidak pernah membeda-bedakan antara muslim dan non-muslim. Ketiga, tidak melakukan pengrusakan di muka bumi, salah satunya dengan tidak menciptakan konflik yang dapat memecah belah persatuan, termasuk kepada non-muslim.
KRITIK HARALD MOTZKI TERHADAP KLASIFIKASI MODEL PEMIKIRAN HADIS HERBERT BERG Amiruddin, Ahmad Ramzy; Suryadilaga, Muhammad Alfatih
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 7 No. 1 June 2021
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v7i1.19177

Abstract

There are four classifications of hadith scholars measured by how skeptical they are of the authenticity of the hadith, namely Early Western Scepticism, Reaction Against Scepticism, Middle Ground, and Renewed Scepticism. Of the four classifications, Berg divides them into two groups, namely those who are skeptical and non-skeptical. In response to this, Harald Motzki specifically criticized Berg's classification. The data source that used is based on the article "The Question of The Authenticity of Muslim Traditions Reconsidered: A Review Article" by Harald Motzki as the primary source and the supporting articles for this article as a secondary source. Through the descriptive-analytical method, the writer will describe Harald Motzki's criticism of Herbert Berg's classification and provide an analysis of it, so that readers can understand the point of Harald Motzki's criticism and the reasons behind the criticism. With that method, it was found that Harald Motzki thought that if Berg's classification, both logically and epistemologically, was useless. This is based on three main criticisms: First, the unclear definition of the classification. Second, the error in capturing the meaning of the hadith scholars. Third, there is a bias in the skeptical group, so that the explanation for the non-skeptical group is not balanced.