Artikel ini mengkaji teologi Sabtu Suci sebagai sumber pengembangan spiritualitas mahasiswa dalam perspektif pendidikan iman kontemporer. Dengan menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), penelitian ini menganalisis publikasi yang relevan terkait Sabtu Suci, liminalitas, keheningan ilahi, ritual liturgis, dan formasi spiritual. Hasil kajian menunjukkan bahwa narasi Sabtu Suci dapat dipahami sebagai ruang liminal yang membantu mahasiswa melihat pengalaman ketidakpastian bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai proses transformatif. Keheningan dan ketiadaan yang diasosiasikan dengan Sabtu Suci ditafsirkan sebagai bagian dari karya teologis yang membentuk spiritual resilience serta kemampuan bertahan dalam pengharapan yang belum terwujud. Praktik liturgis dan refleksi komunitas ditunjukkan mendukung integrasi aspek kognitif–afektif dalam pembelajaran iman. Kontribusi penelitian ini terletak pada reframing Sabtu Suci dari sekadar momen liturgis menuju kerangka pedagogis yang relevan bagi mahasiswa di tengah krisis eksistensial, ketidakpastian karier, dan dinamika sosial kontemporer. Artikel ini juga menawarkan implikasi praktis bagi pendidik iman serta membuka ruang penelitian lanjutan di ranah empiris, interdisipliner, dan digital.This article explores Holy Saturday theology as a source for the development of student spirituality within the framework of contemporary faith education. Employing a Systematic Literature Review (SLR) method, the study analyzes publications relevant to Holy Saturday, liminality, silence, liturgical ritual, and spiritual formation. The findings indicate that the Holy Saturday narrative can be interpreted as a liminal space that enables students to perceive experiences of uncertainty not as emptiness but as a transformative process. Silence and absence associated with Holy Saturday are understood as integral to the theological work that cultivates spiritual resilience and the capacity to endure in anticipation of hope not yet realized. Liturgical practices and collective reflection are shown to support the integration of cognitive–affective dimensions in faith learning. The article’s primary contribution lies in reframing Holy Saturday from merely a liturgical moment of silence into a pedagogical framework relevant for students amid existential crises, career uncertainties, and contemporary social dynamics. Furthermore, this study offers practical implications for faith educators while opening avenues for further research in empirical, interdisciplinary, and digital domains.