Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FILSAFAT AKHLAK DALAM PEMIKIRAN ETIKA KONTEMPORER Eka Damayanti; Aliman; Hamsah F
Al Asma: Journal of Islamic Education Vol 4 No 1 (2022): MAY
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/asma.v4i1.29049

Abstract

This article aims to outline the response of akhlaq philosophy to contemporary ethical thought. Library research is carried out by collecting data sources from books, and journals and other scientific articles. The data were analyzed using content analysis (content analisys). The results showed that filasafat akhlaq and ethical philosophy have a relationship, namely both studying the concept of good or bad values, as well as right and wrong. The fundamental difference between akhlaq philosophy and ethics is from the source of reference. Akhlaq refers to revelation and ethics refers to rationality.
HAKIKAT MANUSIA (PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM) Damayanti, Eka; Nuryamin, Nuryamin; Hamsah F; Suryati, Suriyati
Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan Vol 13 No 1 (2021): Volume 13 Nomor 1 Juni 2021
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-qalam.v13i1.612

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan hakikat manusia menurut filsafat pendidikan Islam agar mendapatkan gambaran tentang hakikat manusia. Penelitian kualitatif jenis penelitian kepustakaan ini memiliki sumber utama dari buku, jurnal dan artikel ilmiah lainnya. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis konten untuk memudahkan penulis menyaring ide pokok dari berbagai sumber yang ada untuk dinarasikan ke dalam fokus kajian. Hasil temuan dalam artikel ini: (1) istilah yang digunakan dalam al-Qur’an dalam menyebut manusia yakni al-Insan (merujuk pada manusia yang memiliki keistimewaan dan potensi), al-Basyar (merujuk pada manusia sebagai mahluk biologis), dan al-Nas (merujuk pada manusia sebagai mahluk sosial); (2) Pandangan para tokoh terhadap hakikat manusia berbeda-beda namun esensinya sama yakni manusia sebagai mahluk yang memiliki potensi yang berbeda dengan mahluk Allah lainnya; (3) manusia disebut sebagai ahsan al- taqwin yang menempatkan manusia pada posisi yang stategis yakni sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah. Oleh karena itu, semestinya manusia berusaha menemukan hakikat dirinya agar menyadari betapa besar karunia Allah yang diberikan dalam wujud potensi agar manusia dapat menjalankan fungsinya secara optimal untuk beribadah dan untuk mengabdi kepada Allah swt.