Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Al-Dakhil fi al-Tafsir sebagai Objek Kajian Ilmu Al-Qur’an Enok Ghosiyah
Al-Fath Vol 9 No 1 (2015): Juni 2015
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v9i1.3328

Abstract

al-Dakhil fi al-tafsir atau selipan-selipan penafsiran yang tidak memiliki sumber valid, merupakan suatu yang membahayakan. Alqur’an sebagai sumber utama agama Islam banyak sekali memuat kemungkinan pemaknaan. Pemaknaan ayat Alqur’an biasanya menggunakan dua pendekatan, yakni tafsir dan ta’wil sebagai hasil karya manusia. Seiring berkembangnya zaman, timbullah berbagai macam corak penafsiran, yang kemudian berkembang menjadi aliran tafsir yang berbeda-beda, karena lumrah sekali para mufassir dalam menafsirkan Alqur’an berangkat dari latar belakang dan metode berbeda-beda. Juga seringkali dari kepentingan yang tidak sama. Di situlah kita harus hati-hati dalam memilih serta memilah penafsiran Alqur’an. Karena, keterbukaan penafsiran atasnya memungkinkan kapanpun Alquran bisa terintervensi dan terkontaminasi oleh hal-hal lain yang belum jelas sumbernya, yang bisa memberikan dampak negatif baik bagi pembaca, Islam maupun Alquran itu sendiri. Maka, kajian atas al-dakhi>l menjadi penting dan tak bisa dinafikan dalam kontek “membersihkan” penafsiran dari hal-hal yang mencemarinya.
Wanita Karir dalam Perspektif al-Qur'an Enok Ghosiyah
Al-Fath Vol 10 No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v10i2.3079

Abstract

Seiring berjalannya waktu, berkembangnya sains dan teknologi. Kita tidak bisa lagi membeda-bedakan porsi laki-laki dan wanita di luar lingkup keluarga. karena sudah tidak asing lagi saat ini banyak sekali wanita yang ikut serta dalam pembangunan sosial. Dan di era emansipasi ini karir sebagai identitas yang penting dan menjadi salah satu sarana bagi wanita untuk mengembangkan diri dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Ada beberapa hal yang menjadi kesimpulan peneliti yaitu: peran perempuan memilih menjadi wanita karir tidak akan menjadi masalah selama kebebasan itu masih memenuhi syarat dan dihalalkan oleh Islam. Wanita karir dalam Tafsir Al Qur’an Kementerian Agama RI menggambarkan kedudukan wanita sebelum datangnya Islam, bahwa wanita tidak memiliki tempat terhormat di hadapan laki-laki. Sebaliknya keadaan itu berubah setelah Islam datang perempuan lebih dihormati dalam segala peranannya. Selain itu, wanita mengemban tanggung jawab sebagai seorang ibu yang mendidik anak-anaknya, seorang anak perempuan yang mewarisi nilai-nilai Islam sebagai seorang isteri wanita menjadi pasangan suami (secara biologis maupun psikologis). Dan wanita juga mempunyai peranan di bidang sosial.
Ulama Perempuan Milenial: Wacana dan Legalitas Gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Ghosiyah, Enok
Al Ashriyyah Vol. 9 No. 1 (2023): Al Ashriyyah
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Iman Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53038/alashriyyah.v9i1.163

Abstract

The conclusion of this article is: the perspective of millennial female clerics, the discourse and movement of female clerics who are members of the Indonesian Women's Ulama Congress. KUPI tries to offer an interpretation of the Koran with a feminist approach or justice and gender equality. The discourse and movement of millennial women scholars aims to find out the KUPI methodology. Because KUPI is a meeting place for the thoughts of female clerics who combine the traditions of Islamic boarding schools (traditional) and the traditions of higher education (reformers) as well as the meeting of classical studies based on turats with modernist studies based on modern science. In formulating thoughts or better known as the KUPI fatwa, it uses the Mubadalah, Hakiki Justice and Ma'ruf methodologies, so that the products of interpretation of the verses of the Qur'an and the products of study are easy and able to be accepted by all parties from various groups because apart from with the three methodologies, women's experience is the standard in formulating fatwas which of course refers to Islamic principlesrahmattan lil alamin, akhlakul karimah, nationality, humanity and universality.
Women’s Rights in the Qur’an: An Epistemological Re-examination of Theological, Moral, and Social Frameworks Enok Ghosiyah; Ikhwan Ansori
Al-'Allāmah: Journal of Scriptures and Ulama Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Gender Justice and Women’s Rights in Qur’anic and Islamic Studies
Publisher : The Ulama Cadre Education Program of Great Mosques of Istiqlal (PKUMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/al-allmah.v2i2.42

Abstract

This study aims to reconstruct the epistemology of understanding women in the Qur’an through theological, moral, and social approaches. Historically, interpretations of verses concerning women have been influenced by patriarchal cultural biases, undermining the Qur’an’s universal humanistic values. Employing thematic exegesis (maudhu‘i) and contextual hermeneutics, this research analyzes verses on human creation, spiritual equality, and women’s social roles within the framework of tawhid (divine unity) and justice. The findings reveal that the Qur’an affirms women as moral and spiritual beings with dignity equal to men, grounded in the principles of tawhid, justice (‘adl), and societal welfare (maslahah). These principles serve as a theological foundation for the full humanity of women in both social and moral contexts. The epistemological reconstruction challenges patriarchal interpretations and offers an inclusive, transformative paradigm for Qur’anic gender discourse. By integrating theological rigor with ethical-social analysis, this study contributes to contemporary Islamic scholarship, advocating for gender justice aligned with the Qur’an’s egalitarian ethos. The proposed framework not only reinterprets classical exegesis but also provides a normative basis for equitable gender relations in Muslim societies.