Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Kritis Terhadap Efektivitas Penggunaan Teknologi Di Sekolah Abdul Aziz, Nurdin
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 03 (2026): Jurnal Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i03.516

Abstract

Penelitian ini mengkaji secara kritis efektivitas penggunaan teknologi di sekolah melalui pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan modern, namun dampaknya terhadap kualitas pembelajaran masih diperdebatkan secara akademik. Studi ini melibatkan 342 siswa, 48 guru, dan 12 kepala sekolah dari 12 sekolah menengah di wilayah Jakarta Selatan. Data dikumpulkan melalui angket terstandarisasi, wawancara mendalam, dan observasi kelas selama delapan minggu. Temuan menunjukkan bahwa integrasi teknologi meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 34,7%, namun tidak secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan capaian akademik. Kesenjangan akses digital (digital divide), rendahnya kompetensi pedagogis-teknologis guru, serta absennya kebijakan penggunaan yang terstruktur menjadi faktor penyebab inefektivitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas teknologi di sekolah ditentukan bukan oleh kecanggihan perangkatnya, melainkan oleh kualitas integrasi pedagogisnya. Rekomendasi kebijakan berbasis bukti dirumuskan untuk mendorong pemanfaatan teknologi yang lebih bermakna dan berkeadilan di sekolah-sekolah Indonesia.
Belajar Atau Sekadar Mengejar Nilai? Potret Problem Dasar Pendidikan Kita Abdul Aziz, Nurdin
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 04 (2026): Jurnal Syntax Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i04.521

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis problem dasar pendidikan Indonesia yang kerap menempatkan nilai sebagai tujuan akhir, bukan sebagai indikator antara dalam proses belajar. Kajian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-kritis terhadap literatur ilmiah, dokumen kebijakan, dan laporan lembaga internasional yang terbit terutama dalam rentang 2019–2026. Analisis difokuskan pada relasi antara budaya penilaian, motivasi belajar, kesejahteraan peserta didik, serta kualitas pembelajaran mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientasi pendidikan yang terlalu berpusat pada angka cenderung mempersempit makna belajar menjadi aktivitas performatif: siswa belajar untuk lulus, bukan untuk paham; guru mengajar untuk mengejar target, bukan untuk menumbuhkan nalar. Di sisi lain, berbagai studi mutakhir menunjukkan bahwa asesmen yang menekankan umpan balik, otonomi belajar, dan relevansi pengalaman belajar lebih berkorelasi dengan motivasi intrinsik, keterlibatan, dan ketahanan akademik peserta didik. Dalam konteks Indonesia, agenda transformasi seperti asesmen formatif dan pembelajaran berpusat pada murid membuka ruang koreksi, tetapi implementasinya masih sering tersandera oleh budaya ranking, tekanan administratif, dan kebiasaan memaknai keberhasilan secara sempit. Artikel ini menegaskan bahwa problem pendidikan kita bukan semata rendahnya capaian, melainkan kekeliruan dalam mendefinisikan apa yang layak dicapai. Pendidikan yang sehat semestinya tidak hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal, tetapi juga manusia yang paham mengapa ia belajar, bagaimana ia berpikir, dan untuk apa pengetahuan itu dipakai. (OECD, 2023; UNESCO et al., 2025; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024).
Nilai Bagus, Otak Tumpul? Kritik Terhadap Orientasi Angka Dalam Pendidikan Abdul Aziz, Nurdin
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 05 (2026): Jurnal Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i05.522

Abstract

Sistem pendidikan di Indonesia, dan juga secara global, selama ini terlalu akrab dengan satu ritual yang tampaknya tak pernah digugat: pengejaran angka. Nilai rapor yang tinggi, indeks prestasi yang gemilang, dan peringkat kelas yang membanggakan seolah menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Namun pertanyaan yang lebih dalam jarang diajukan, apakah angka-angka itu benar-benar mencerminkan kecerdasan, karakter, dan kapasitas berpikir seorang manusia? Penelitian ini mengkaji secara kritis orientasi angka dalam pendidikan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan (library research). Tujuannya adalah menganalisis dampak psikologis, epistemologis, dan sosial dari dominasi penilaian berbasis angka terhadap kualitas proses belajar dan pengembangan kompetensi holistik peserta didik. Hasil kajian menunjukkan bahwa orientasi angka yang berlebihan melahirkan tiga patologi utama: pertama, surface learning—belajar hanya untuk ujian; kedua, erosi motivasi intrinsik; dan ketiga, pengabaian terhadap kecerdasan multidimensional. Penelitian ini berargumen bahwa transformasi paradigma penilaian dari measurement-centered menuju learning-centered bukan sekadar wacana reformasi pendidikan, melainkan kebutuhan mendesak demi menyelamatkan esensi berpikir dalam dunia pendidikan.
Rapor Digital, Karakter Manual: Ironi Pendidikan Karakter Di Era Teknologi Nurdin Abdul Aziz
Jurnal Syntax Fusion Vol 6 No 06 (2026): Jurnal Fusion: Jurnal Nasional Indonesia
Publisher : CV RIFAINSTITUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/fusion.v6i06.523

Abstract

Pendidikan karakter di Indonesia telah memasuki babak baru: laporan perkembangan siswa kini terdigitalisasi, platform e-rapor diimplementasikan secara masif, dan indikator karakter diinput dalam sistem berbasis data. Namun di balik kemajuan administratif itu, pertanyaan yang lebih mendasar justru semakin mendesak, apakah digitalisasi pelaporan karakter benar-benar mencerminkan pembentukan karakter, ataukah sekadar memindahkan formalitas dari kertas ke layar? Artikel ini mengajukan argumen bahwa terdapat ironi struktural dalam kebijakan pendidikan karakter kontemporer: semakin canggih sistem pencatatan, semakin tipis perhatian terhadap proses pembentukan nilai yang sesungguhnya. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan analisis kebijakan, penelitian ini mengkaji kesenjangan antara orientasi teknokratis dalam implementasi pendidikan karakter dan substansi pembentukan karakter yang bersifat relasional, kontekstual, serta tidak terukur secara algoritmik. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi rapor karakter cenderung mereduksi proses moral yang kompleks menjadi skor dan kategori, sehingga mendorong guru dan sekolah pada perilaku pemenuhan administratif (compliance behavior) daripada internalisasi nilai. Artikel ini berargumen bahwa reformasi pendidikan karakter yang bermakna tidak dimulai dari sistem pelaporan, melainkan dari rekonstruksi relasi pedagogis antara guru, siswa, dan nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Implikasi kebijakan yang dihasilkan mengarah pada perlunya evaluasi kritis terhadap desain sistem e-rapor karakter agar tidak menjadi mesin dokumentasi yang steril dari makna.