Mencari barakah adalah salah satu tujuan para santri belajar di pesantren. Di kalangan santri, terdapat segolongan khusus yang tidak hanya belajar, tetapi juga mengabdikan dirinya untuk melayani para kiai dan keluarganya secara total. Golongan ini mempunyai sebutan khusus, misalnya khadam, santri ndalem, atau yang di Madura dikenal dengan sebutan kabulâ. Dari masa ke masa, masih banyak saja santri yang mau mengabdikan diri ke pesantren dengan barakah sebagai daya tarik dan alasan utama. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bermacam-macam barakah bagi para santri kabulâ, dan juga untuk mengetahui bagaimana pemaknaan barakah bagi mereka. Studi ini dilakukan dengan mewawancarai beberapa santri kabula di beberapa pesantren di Bangkalan, diperkuat dengan observasi dan dokumentasi. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendektan fenomenologis yang berpijak pada pemikiran Alfred Schutz, yaitu orang pertama yang menerapkan fenomenologi dalam penelitian ilmu sosial. Penelitian ini menemukan bahwa barakah bagi kabula bentuknya bermacam-macam mulai dari hal yang samar berupa kemudahan dalam belajar, ketenangan batin, dan segala yang tidak tampak (invisible blessings) hingga yang tampak dzahir (visible blessings) seperti bisa menjadi peminpin pesantren, membangun rumah, berhaji dan umroh secara gratis, sembuh dari penyakit, menyekolahkan anak hingga ke luar negeri, dan meraih jabatan tinggi. Barakah pagi para santri kabula dapat dimaknai sebagai sumber kebahagiaan, ketenangan, dan juga keajaiban di luar akal.