Penelitian ini bertujuan merumuskan Model Tridarma Berbasis Panggilan Abraham sebagai paradigma transformasional bagi Perguruan Tinggi Teologi (PTT) di Indonesia. Latar belakang penelitian ini berangkat dari krisis identitas PTT yang sering terjebak dalam dikotomi antara tuntutan akademik dan panggilan gerejawi, sehingga Tridarma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat—kerap kehilangan orientasi teologis dan relevansi sosialnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka “Hermeneutika Filosofis-Kontekstual” yang mengintegrasikan studi filosofis dan critical case study pada STT Suwarnadwipa sebagai living prototype. Data penelitian diperoleh melalui analisis teks Kejadian 12:1–3, dokumen institusional, serta literatur teologis dan filsafat pendidikan. Analisis dilakukan melalui “Siklus Interpretasi Tiga Lapis” yang mencakup lapis eksplanatori, komparatif, dan konstruktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panggilan Abraham mengandung tiga DNA utama, yaitu divine initiative, costly obedience, dan instrumental blessing, yang dapat menjadi fondasi filosofis-teologis bagi transformasi Tridarma PTT. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini menghasilkan tiga pilar utama model, yakni pendidikan sebagai Abrahamic Discipleship, penelitian sebagai Pro Deo et Ethne Inquiry, dan pengabdian masyarakat sebagai Shalom-Based Engagement. Implementasi model pada STT Suwarnadwipa menunjukkan bahwa paradigma Abrahamik mampu mengintegrasikan kesetiaan teologis dengan relevansi kontekstual secara operasional. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis melalui pengembangan kerangka “Teologi Dwipa Nusantara,” secara metodologis melalui pendekatan “Hermeneutika Filosofis-Kontekstual,” dan secara praktis melalui penyediaan model operasional yang dapat diadaptasi oleh PTT lain di Indonesia.