Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Hubungan antara Kematangan Emosi dengan Kepuasan Pernikahan pada Dewasa Awal Maki, Julio Caesar Marvin; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i4.7659

Abstract

Kepuasan pernikahan sangat penting untuk mempertahankan hubungan yang harmonis, namun angka perceraian di Indonesia tetap tinggi akibat konflik emosional dan stres ekonomi. Kematangan emosi, sebagai faktor psikologis kunci, diduga dapat meningkatkan kepuasan pernikahan, tetapi kontribusinya pada dewasa awal—fase kritis bagi stabilitas pernikahan—perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini menguji hubungan antara kematangan emosi dan kepuasan pernikahan pada dewasa awal Indonesia (18–40 tahun), sekaligus mengukur besarnya pengaruh kematangan emosi terhadap kepuasan pernikahan. Desain korelasional kuantitatif digunakan, dengan data dari 247 partisipan menikah melalui adaptasi skala Emotional Maturity Scale (EMS) dan ENRICH Marital Satisfaction Scale. Data tidak normal dianalisis menggunakan Spearman’s rho dan koefisien determinasi. Hasil menunjukkan korelasi positif signifikan (*r* = 0,198, *p* = 0,002), dengan kematangan emosi menyumbang 11,1% terhadap kepuasan pernikahan. Sebagian besar partisipan memiliki tingkat kematangan emosi dan kepuasan pernikahan sedang. Penelitian ini menekankan perlunya program konseling pernikahan berbasis budaya dan studi lanjutan tentang prediktor lain (misalnya komunikasi, stres finansial) untuk menjelaskan 88,9% varian kepuasan pernikahan yang belum terungkap.
Relationship Between Emotional Maturity And Self-Esteem In Adolescents At The Orphanage Rahmawati, Leony; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Desember 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v9i1.5981

Abstract

Adolescence is often called a period of rebellion, because of emotional turmoil, withdrawal, and various problems in various environments. Emotional maturity influences a teenager's development, helping them manage their emotions and increase their self-esteem. This research examines the relationship between emotional maturity and self-esteem in adolescents at the Salatiga orphanage. The method used was quantitative with a correlational analysis design with 150 participants from 5 nursing homes in Salatiga using random sampling techniques. The measuring instruments used were the Emotional Maturity Scale (EMS)(α = 0.75) and the self-liking and self-competence questionnaires (SLCS) scale (α = 0.94). The data analysis method uses the product moment correlation test from Karl Pearson. The hypothesis test results of the Pearson correlation value are -0.243 with a significance value = 0.001 (p < 0.05). The results show a significant negative relationship between emotional maturity and self-esteem in adolescents at the Salatiga orphanage. Keywords: emotional maturity, pride, adolescent, orphanage
Gambaran Fear of Intimacy pada Dewasa Awal yang Berasal dari Keluarga Bercerai Situmorang, Kezia Hana; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 1 (2024): Desember 2024. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/gcouns.v9i1.6260

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi fear of intimacy yang dialami individu yang berasal dari keluarga bercerai. Metode penelitian adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan yang terlibat sebanyak satu orang. Hasil analisis data menemukan bahwa fear of intimacy yang dialami partisipan berupa kesulitan menceritakan masalah, kekhawatiran akan hubungan pernikahan, kurang nyaman dengan keterbukaan pasangan, kesulitan mengekspresikan perhatian, kesulitan menjaga komitmen, dan kurang dapat memercayai pasangan. Analisis data juga menemukan sumber dari fear of intimacy berupa perceraian orang tua, pola asuh orang tua, prinsip yang berbeda dari pasangan, status hubungan, ketidaksetiaan pasangan, dan pasangan kurang responsif. Fear of intimacy yang dialami partisipan secara tidak langsung menimbulkan konflik dalam hubungan, ketidakpuasan hubungan, dan kelelahan fisik. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk menggunakan layanan bantuan tenaga profesional dalam menghadapi fear of intimacy dan bagi orang tua untuk menjaga hubungan yang harmonis dan pola asuh yang intim dengan anak. Kata kunci: fear of intimacy, perceraian orang tua, studi kasus
Kebersyukuran dan Intensi Berselingkuh di Usia Dewasa Madya Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang; Wahyuningrum, Enjang; Christina, Yemima Joy; Gratia, Yessika Sola
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 9 No. 2 (2025): April 2025, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v9i2.6505

Abstract

Perselingkuhan merupakan salah satu penyebab terkuat terjadinya perceraian. Intensi merupakan faktor motivasional yang berpengaruh besar terhadap perilaku dan dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi perilaku. Kebersyukuran memiliki korelasi terhadap intensi melakukan perselingkuhan. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain korelasional untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dengan intensi perselingkuhan dan uji beda untuk mengetahui perbedaan intensitas berselingkuh pada pria dan wanita. Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi diperoleh nilai sebesar -0,134 dengan sig. = 0,007 (p<0,05). Uji komparatif terhadap pria dan wanita tentang intensi berselingkuh menunjukkan ada perbedaan intensi berselingkuh antara pria dengan wanita dan dari kedua kelompok tersebut, intensi berselingkuh pria cenderung lebih tinggi dibanding wanita. Dengan demikian, diharapkan para pasangan dapat meningkatkan kebersyukurannya agar relasi dengan pasangan semakin baik dan kecenderungan berselingkuhnya rendah. Kata kunci: perselingkuhan, kebersyukuran, dewasa madya
The Relationship Between Self-Confidence and Social Interaction in Adolescents from Divorced Families in Manado City Lasut, Zefanya Jennifer; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 05 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i05.1126

Abstract

A broken home is a family condition that experiences a split due to a problem that results in quarrels about divorce. A broken home greatly impacts the process of child development in social interaction. Children, especially in adolescence, are an important segment of life in the individual development cycle and require interaction with others in the process of self-discovery, so self-confidence is needed. This study aims to determine the relationship between self-confidence and social interaction in adolescents from divorced families. Participants in this study were 77 adolescents from divorced families in Manado City with an age range of 13–18 years. The sampling technique used in this study was purposive sampling. Data were collected using the self-confidence scale compiled by Lauster (2012) and the social interaction scale developed by Winslow et al.. The results of this study showed a significant positive relationship between self-confidence and social interaction, with a correlation of r = 0.477 and a significance of 0.000 (p<0.05). This means that the higher the self-confidence, the higher the social interaction.
Gambaran Psychological Well-Being pada Perempuan Dewasa Akhir yang Tidak Menikah Clalorin, Fransiska; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
Jurnal Diversita Vol. 11 No. 2 (2025): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v11i2.16017

Abstract

Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis perempuan lansia yang tidak menikah (berusia 60-70 tahun) di Indonesia, yang menghadapi tantangan unik dalam masyarakat yang sangat menghargai pernikahan. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap partisipan yang dipilih dengan teknik snowball sampling. Penelitian ini mengeksplorasi enam dimensi psychological well-being model Ryff: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan memiliki profil kesejahteraan psikologis yang bervariasi, dengan kekuatan khusus pada domain otonomi dan pertumbuhan pribadi dibandingkan dengan rekan yang menikah. Spiritualitas dan dukungan sosial muncul sebagai faktor kunci penguat, dengan partisipan yang mandiri secara finansial menunjukkan penerimaan diri yang lebih positif. Mereka menemukan makna melalui aktivitas sosial dan keagamaan serta mengembangkan strategi koping berbasis spiritualitas. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa pengalaman merawat anggota keluarga dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan psikologis. Implikasinya, program kesejahteraan lansia perlu menekankan aspek spiritualitas dan jaringan dukungan sosial, terutama bagi perempuan lanjut usia yang hidup sendiri.
BALANCING SHIFTS AND MARRIAGE: THE ASSOCIATION BETWEEN WORKLOAD AND MARITAL ROLE CONFLICT AMONG MARRIED FEMALE NURSES Putri, Sherly Argya; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
EDUCATIONE Volume 4, Issue 2, July 2026 (InPress)
Publisher : CV. TOTUS TUUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59397/edu.v4i2.207

Abstract

Female nurses commonly face dual-role demands from shift-based clinical work and family responsibilities, which can heighten marital role conflict and threaten work–family balance. This study examined the association between perceived workload and marital role conflict among married female nurses at PKU Muhammadiyah Hospital, Temanggung. Using a quantitative correlational design, data were collected from 90 married female nurses selected through proportionate stratified random sampling. Workload was measured with the NASA Task Load Index (NASA–TLX), while marital role conflict was assessed using the Work–Family Conflict Scale developed by Netemeyer et al. (1996). Pearson correlation analysis showed a positive and statistically significant relationship between workload and marital role conflict (r = 0.311; p = 0.003), indicating that higher perceived workload is associated with greater conflict in fulfilling marital and family roles. These findings suggest that workload—particularly in shift-based nursing—may contribute to strain at home through reduced time, energy depletion, and emotional fatigue. The study concludes that hospital management should prioritize more proportional workload allocation and fairer shift arrangements, complemented by supportive programs (e.g., stress management, supervisor support, and work–family facilitation) to protect nurses’ well-being and family functioning. Future research should employ longitudinal or mixed-method designs and test potential mediators/moderators such as job resources, social support, marital satisfaction, and coping strategies.
The Effect of Father’s Involvement in Parenting on Emotional Regulation in Catholic Adolescent at North Jakarta Kristianto, Gregorius Alexander; Kusumiati, Ratriana Yuliastuti Endang
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.9253

Abstract

This study examined the effect of father involvement in parenting on emotion regulation among Catholic adolescents in Region VIII of the Holy Cross Parish, North Jakarta. A quantitative causal-comparative design was employed. Participants were 30 adolescents selected through a total sampling. Data were collected using questionnaires measuring father involvement and adolescents’ emotion regulation. Data analysis was conducted using simple linear regression. Descriptive findings showed that father involvement was generally moderate to high, while adolescents demonstrated high levels of emotion regulation. However, regression analysis indicated no statistically significant effect of father involvement on emotion regulation (p = .910). The coefficient of determination was very small (R² = .001), indicating that father involvement explained a low proportion of variance in emotion regulation. These results suggest that adolescents’ emotion regulation may be more strongly influenced by other factors, including maternal caregiving, peer relationships, and the religious community environment. Despite the non-significant findings and the small sample size, this study highlights the importance of contextual and cultural considerations in examining parenting processes. It contributes to family and parenting psychology by emphasizing adolescent emotion regulation. Keywords: adolescent, emotion regulation, father involvement, parenting