Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada April 2024 menyebabkan permasalahan pengelolaan sampah di Kota Yogyakarta semakin kompleks, ditandai dengan meningkatnya penumpukan sampah di berbagai Tempat Penampungan Sementara (TPS), salah satunya TPS Pakuncen di Kemantren Wirobrajan yang berada di kawasan permukiman padat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keberadaan TPS Pakuncen terhadap kualitas hidup warga yang tinggal di sekitarnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara terhadap warga terdampak dan petugas TPS, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan TPS Pakuncen memberikan dampak signifikan terhadap kondisi lingkungan fisik, kenyamanan, dan kualitas hidup warga. Dampak yang paling dominan dirasakan meliputi bau tidak sedap akibat proses dekomposisi sampah, penurunan estetika lingkungan, keberadaan vektor penyakit seperti lalat dan tikus, serta potensi risiko kesehatan yang menimbulkan rasa tidak nyaman dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan lahan TPS, tingginya volume sampah, fasilitas yang belum memadai, serta ketidakteraturan jadwal pengangkutan. Meskipun demikian, warga tetap menyadari bahwa TPS merupakan infrastruktur penting dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan, namun menilai pengelolaannya belum optimal. Penelitian ini menegaskan perlunya intervensi pemerintah daerah melalui peningkatan manajemen operasional TPS, perbaikan infrastruktur fisik, serta penguatan edukasi dan partisipasi masyarakat guna menciptakan lingkungan permukiman yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan.