Umam, Rois Nafi'ul
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menggali Makna Tradisi Pantang Larang Pada Masyarakat Melayu Sekadau Ardiansyah, Soni; Umam, Rois Nafi'ul
Jurnal Pendidikan, Kebudayaan dan Keislaman Vol 3 No 1 (2024)
Publisher : The Institute for Research and Community Service (LP2M) of Pontianak State Institute of Islamic Studies (IAIN Pontianak)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jpkk.v3i1.2189

Abstract

Pantang Larang merupakan suatu tradisi yang berisikan berbagai aturan hidup dan larangan bagi masyarakat Melayu Sekadau. Keberadaan tradisi pantang larang menjadi sebuah warisan leluhur yang dipertahankan hingga saat ini meskipun eksistensinya mulai berkurang seiring dengan perkembangan dan dinamika zaman. Adanya tradisi pantang larang idealnya dapat menjadi pengingat akan pentingnya memahami nilai normative dan kepercayaan terhadap hal-hal lain di luar diri manusia sehingga muncul adanya larangan atau pantangan dalam tradisi pantang larang tersebut. Tradisi pantang larang memegang peranan kunci dalam kehidupan masyarakat Melayu Sekadau sebagai tuntunan dalam menjalani kehidupan, sebagai sarana untuk saling mengingatkan, hingga mendorong perubahan bagi generasi berikutnya. Pepatah dalam tradisi pantang larang terdiri atas 5 jenis klasifikasi berkaitan dengan waktu, tempat, jenis kelamin, keselamatan jiwa, hingga aktivitas/perilaku manusia. Dari struktur kalimatnya, pepatah dalam tradisi pantang larang memiliki 2 jenis, yaitu pepatah dengan 2 struktur (sebab dan akibat), dan pepatah dengan 3 struktur (tanda, perubahan yang terjadi, dan akibat). Pantang larang is a tradition that contains various rules of life and prohibitions for the Sekadau Malay community. The existence of the abstinence and prohibition tradition is an ancestral heritage that is maintained to this day, although its existence is starting to wane along with the development and dynamics of the times. The existence of the abstinence and prohibition tradition can ideally be a reminder of the importance of understanding normative values ​​and beliefs in things other than humans so that prohibitions or taboos emerge in the abstinence and prohibition tradition. The abstinence and prohibition tradition plays a key role in the lives of the Sekadau Malay people as a guide in living life, as a means to remind each other, and to encourage change for the next generation. The adage in the abstinence and prohibition tradition consists of 5 types of classification relating to time, place, gender, safety of life, and human activity/behavior. From the sentence structure, proverbs in the pantang larang tradition have 2 types, namely proverbs with 2 structures (cause and effect), and proverbs with 3 structures (signs, changes that occur, and consequences).
Aspek Religiusitas dalam Pengembangan Resiliensi diri di Masa Pandemi Covid-19 Umam, Rois Nafi'ul
SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan Vol. 4 No. 2 (2021): Special Issues: Religion and the COVID-19 Pandemic
Publisher : UIN Mataram dan Asosiasi Sosiologi Agama Indonesia (ASAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/sangkep.v4i2.3558

Abstract

Pandemi covid-19 telah menimbulkan dampak negatif terhadap berbagai bidang dalam kehidupan manusia, termasuk diantaranya dalam hal kesehatan. Kesehatan yang dimaksud yakni secara fisik maupun psikis. Secara fisik, pandemi telah menyebabkan banyak orang yang dinyatakan positif covid-19 hingga dinyatakan meninggal dunia. Secara psikis, pandemi menimbulkan kecemasan yang berlebihan di kalangan masyarakat yang berdampak pada kesehatan mental yang kurang baik. Kecemasan tersebut dapat berasal dari penularan virus yang begitu masif dan menyebabkan ketakutan serta berbagai macam informasi lain yang dipandang memberikan rasa khawatir berlebihan di kalangan masyarakat akibat pandemi covid-19 ini. Oleh karena itu, setiap individu perlu untuk mengembangkan resiliensi diri dalam mengatasi atau mencegah kecemasan berlebih di masa pandemi ini. Resiliensi diri sebagai kemampuan dalam beradaptasi, mengendalikan situasi dan memiliki sikap optimis dalam menghadapi sebuah masalah. Dalam pengembangan resiliensi diri tersebut, salah satu aspek yang menjadi pendukung hal itu yakni religiusitas. Religiusitas diwujudkan dalam bentuk pendalaman ajaran agama dan pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Aspek religiusitas tersebut diharapkan dapat membantu individu dalam pengembangan resiliensi diri.