Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Hubungan Antara Self-Regulation Dengan Sindrom Fomo (Fear of Missing Out) Pada Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Medan Area Syahfira, Jihan; Sairah, Sairah
ISLAMIKA GRANADA Vol 4, No 2 (2024): ISLAMIKA GRANADA JANUARI
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/ig.v4i2.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan self-regulation dengan sindrom FOMO (fear of missing out) pada mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswi stambuk 2019-2022 yang berjumlah 88 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan skala self-regulation dan skala FOMO-12. Hasil penelitian dengan menggunakan teknik korelasi product moment (???) diketahui sebesar -0,456 dengan p = 0,000 0,05. Artinya, terdapat hubungan negatif yang signifikan antara self-regulation dengan sindrom FOMO (fear of missing out) pada mahasiswi, yang menunjukkan semakin rendah self-regulation mahasiswi maka semakin tinggi sindrom FOMO (fear of missing out) yang dilakukan sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, diketahui bahwa self-regulation mahasiswi tergolong rendah dengan mean hipotetik (57) mean empirik (46,34) dan selisihnya melebihi satu SD (8,376), kemudian, sindrom FOMO (fear of missing out) tergolong tinggi dengan mean hipotetik (30) mean empirik (37,65) dan selisihnya melebihi satu SD (6,692). Adapun Self-regulation memiliki kontribusi terhadap sindrom FOMO (fear of missing out) sebesar 20,7%. 
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Self-Esteem pada Pasien Rehabilitasi Narkoba Yayasan Rumah Ummi Siregar, Tri Alwi Muhajid; Sairah, Sairah
ISLAMIKA GRANADA Vol 5, No 2 (2025): ISLAMIKA GRANADA JANUARI
Publisher : Granada El-Fath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/ig.v5i2.378

Abstract

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan self-esteem pada pasien rehabilitasi. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah remaja dengan jumlah 46 dan Sampel berjumlah 46 orang dengan menggunakan teknik total sampling. Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment terlihat bahwasanya ada hubungan positif antara dukungan keluarga dengan self-esteem. Temuan ini diambil berdasarkan pada coefficient correlation rxy = 0,532 dengan taraf signifikansi p = 0,000 0,05. Selanjutnya, koefisien determinasi (r2) keterkaitan antara variabel independen dan variabel dependen ialah r2= 0,283. Hal ini memperlihatkan bahwasanya dukungan keluarga mempunyai kontribusi terhadap self-esteem sebesar 28,3%. Hasil uji mean dapat disimpulkan bahwa self-esteem tergolong rendah dengan nilai mean hipotetik sebesar 80 dan mean empiriknya sebesar 68,17. Selanjutnya dukungan keluarga dapat disimpulkan memperoleh hasil rendah dengan nilai hipotetik sebesar 55 dan nilai empiriknya sebesar 45,72.
DUKUNGAN SOSIAL DAN COPING STRESS PADA ANGGOTA MAKO SAT BRIMOB SEPULANG DARI BAWAH KENDALI OPERASI (BKO) DAERAH KONFLIK Sairah, Sairah; Utami, Maya Afdilla
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6479

Abstract

Brimob (Mobile Brigade) members face high levels of stress due to assignments in conflict areas under Operational Control (BKO), which demand physical and mental preparedness under high-risk conditions and separation from family. This background emphasizes the importance of effective coping mechanisms. This study focuses on analyzing the relationship between social support and stress coping strategies among members of the North Sumatra Regional Police's Mobile Brigade Headquarters (Mako Sat Brimob) who have returned from BKO duties. As a crucial step, this study used a quantitative correlational approach, sampling the entire population (census) of 65 members. Data on social support (emotional, esteem, instrumental, informational, social network) and problem-focused coping were collected using a Likert scale and then analyzed using product-moment correlation. The main findings indicate a very strong and statistically significant positive relationship (rxy = 0.962; p = 0.000) between social support and problem-focused coping, with social support contributing 92.5% to the use of these coping strategies. In conclusion, social support plays a crucial role in helping Brimob members effectively manage psychological stress after deployment in conflict zones. ABSTRAKAnggota Satuan Brimob menghadapi tingkat stres yang tinggi akibat penugasan di daerah konflik melalui Bawah Kendali Operasi (BKO), yang menuntut kesiapan fisik dan mental dalam kondisi penuh risiko dan terpisah dari keluarga. Latar belakang ini mendorong pentingnya mekanisme koping yang efektif. Penelitian ini berfokus untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial dengan strategi coping stress pada anggota Mako Sat Brimob Polda Sumut yang telah kembali dari tugas BKO. Sebagai langkah penting, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan mengambil seluruh populasi (sensus) sebanyak 65 anggota sebagai sampel. Data dukungan sosial (emosional, penghargaan, instrumental, informasi, jaringan sosial) dan problem-focused coping dikumpulkan melalui skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan korelasi product-moment. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik (rxy = 0,962; p = 0,000) antara dukungan sosial dan problem-focused coping, di mana dukungan sosial memberikan kontribusi sebesar 92,5% terhadap penggunaan strategi koping tersebut. Kesimpulannya, dukungan sosial memainkan peran krusial dalam membantu anggota Brimob mengelola tekanan psikologis secara efektif pasca-penugasan di daerah konflik.
Familial Relationships are More Beneficial than Those with Peers: Intrinsic Motivation Plays a Significant Role Nugraha, M. Fadli; Sairah, Sairah
Psympathic : Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 11 No. 1 (2024): PSYMPATHIC
Publisher : Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/psy.v11i1.33665

Abstract

This research aimed to test two hypotheses with confidence, namely the effect of family support on positive affect through academic motivation, and the effect of friend support on positive affect through academic motivation. A qualitative method was used including the 268 participants collected through convenience sampling. The result of the research showed that family support has a significant influence on positive affect, while friend support had no significant impact. Furthermore, the role of academic motivation is consistent with the hypothesis, showing a strong correlation. This research also provides insightful discussions on limitations and offers valuable suggestions for further investigation.
Workload and Burnout Among Urban Delivery Couriers: Evidence from the Indonesian Logistics Sector Lubis, Doli Maulana Gama Samudera; Sairah, Sairah; Sesilia, Ayudia Popy
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26201

Abstract

The rapid expansion of the logistics industry has intensified job demands for courier workers, increasing their vulnerability to burnout. This study examines the relationship between workload and burnout among couriers at PT. JNE Express Main Branch in Medan, Indonesia. A quantitative correlational design was employed using total sampling, involving 93 couriers. Data were collected using a 29-item Workload Scale and a 32-item Burnout Scale based on Maslach’s framework. Reliability analysis indicated high internal consistency (α = .888 for workload; α = .928 for burnout). Pearson product–moment correlation analysis revealed a strong positive relationship between workload and burnout (r = .733, p < .001), with workload explaining 53.8% of the variance in burnout (r² = .538). Although descriptive findings indicated that both workload and burnout were at relatively low levels, the strong correlation suggests that even small variations within these low levels are associated with substantial increases in burnout, indicating a structurally sensitive relationship between job demands and employee well-being. This study contributes to the literature by demonstrating that workload operates as a dominant and multidimensional predictor of burnout within the underexplored courier sector, particularly in a developing country context. These findings extend the applicability of the Job Demands–Resources (JD-R) model by highlighting the sensitivity of burnout risk even under moderate demand conditions. Practically, the results underscore the importance of proactive workload management, as incremental increases in job demands may significantly elevate psychological risk.Pesatnya perkembangan industri logistik telah meningkatkan tuntutan kerja bagi kurir, yang berpotensi meningkatkan risiko burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara beban kerja dan burnout pada kurir di PT. JNE Express Cabang Utama Medan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling yang melibatkan 93 kurir. Data dikumpulkan menggunakan Skala Beban Kerja sebanyak 29 item dan Skala Burnout sebanyak 32 item yang diadaptasi dari kerangka Maslach. Hasil uji reliabilitas menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (α = 0,888 untuk beban kerja; α = 0,928 untuk burnout). Analisis korelasi product moment Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara beban kerja dan burnout (r = 0,733, p < 0,001), dengan beban kerja menjelaskan 53,8% varians burnout (r² = 0,538). Meskipun hasil deskriptif menunjukkan bahwa beban kerja dan burnout berada pada kategori relatif rendah, kekuatan korelasi tersebut mengindikasikan bahwa variasi kecil dalam tingkat beban kerja tetap berkaitan dengan peningkatan burnout yang signifikan, sehingga mencerminkan hubungan yang sensitif secara struktural antara tuntutan kerja dan kesejahteraan psikologis karyawan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa beban kerja merupakan prediktor dominan dan multidimensional terhadap burnout pada sektor kurir yang masih relatif kurang diteliti, khususnya dalam konteks negara berkembang. Temuan ini memperluas penerapan model Job Demands–Resources (JD-R) dengan menekankan sensitivitas risiko burnout bahkan pada kondisi tuntutan kerja yang moderat. Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja secara proaktif, karena peningkatan kecil dalam tuntutan kerja dapat secara signifikan meningkatkan risiko psikologis.