Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KESANTUNAN BERBAHASA PADA MEDIA JEJARING SOSIAL (WHATSAPP) STUDI KASUS GRUP (WHATSAPP) BAHASA INDONESIA DI KAMPUS UTM MATARAM Zul Haeri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v6i2.781

Abstract

Hal utama yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah kesantunan berbahasa ;pada media jejaring sosial (WhatsApp) sebuah studi kasus grup (WhatsApp) mahasiswa/mahasiswi bahasa indonesia di Kampus Akademi Sekertari dan Manajemen Mataram di singkat seterusnya (ASM). Kelogisan permasalahan yang akan diangkat adalah sebuah percakapan dari mahasiswa/mahasiswi dalam berinteraksi dan berkomunikasi di grup (WhatsApp) Bahasa Indonesia. Hasil dari penelitian ini akan mengajarkan bahasa santun dalam berkomunikasi dengan orang tua, teman, guru, dan dosen di dalam media sosial atau secara langsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik sebagai penganalisisan wacana yang mempertimbangkan makna kebahasaan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode simak dengan tekhnik penganalisisan data menggunakan metode normatif yang digunakan untuk memaparkan pematuhan kesantunan berbahasa yang terdapat pada media sosial (WhatsApp). Data yang ditemukan di Grup WhatsApp menunjukkan tingkat dominasi tertinggi mahasiswa di dalam grup lebih cendrung menggunakan maksim kesimpatian sebanyak 12 kali atau 44% dalam penutur memberikan perhatian, rasa kasih sayang, motivasi. Selain itu, di dominasi oleh maksim melanggar kesimpatian dengan jumlah 7 kali atau 25% dengan penutur mengungkapkan rasa kekecewaan, kekesalan, dan yang ketiga muncul maksim kerendahan hati dengan jumlah 5 atau 20% dengan penutur mengungkapkan rasa hormat, rasa, kesopanan dan etika, keempat muncul maksim kesepakatan dengan jumlah 3 atau 12% dengan penutur mengunkapkan kesepahaman dalam berbicara dan berdialog, selanjutnya maksim ketidak sopanan sebanyak 2 atau 7 % yang diungkapkan dengan bahasa yang tidak pantas untuk di ucapkan karena memiliki makna yang menimbulkan perpecahan dan yang terakhir maksim kedermawanan dengan jumlah 1 atau 4% dengan penutur menunjukkan rasa sosial di hadapan teman-temannya.
MODALITAS TEKS UUD OMNIBUS LAW RUU CIPTA KERJA SUATU KAJIAN LINGUISTIK FUNGSIONAL SISTEMIK Neni Surya Nirmala; Zul Haeri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 6 No 2 (2021)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v6i2.788

Abstract

Hal utama yang dikaji dalam penelitian ini yaitu modalitas teks UUD Omnibus Law suatu kajian Linguistik Fungsional Sistemik (LFS). Kelogisan permasalah yang akan diangkat adalah jenis modalitas dan tingkat keseringan kemunculan modalitas pada teks UUD Omnibus Law untuk mengetahui modalitas (tinggi, menengah, dan rendah) pada tataran polar positif (probabilitas, keseringan, keharusan dan kecendrungan). Metode pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan tekhnik catat. Adapun penganalisisan data menggunakan deskripsi, mengurai dan menggambarkan data yang telah dikumpulkan. Modalitas yang dominan digunakan adalah jenis modalitas: modulasi (modulation) yang menggunakan pengungkapan tinggi; wajib, menengah; diharapkan, rendah; boleh, tinggi ditetapkan, menengah mau, dan rendah ingin sebesar 84 atau (77%) dari 110 klausa yang terdiri 39 modulasi keharusan tinggi; wajib, 2 modulasi keharusan; diharapkan dan 43 modulasi kecenderungan; ditetapkan dalam teks OMNIBUSLAW, jika dibandingkan dengan jenis modalitas modalisasi (modalization ; kemungkinan dan keseringan ditetapkan sebesar 27 atau (25%) dari 110 klausa yang terdiri dari 24 modalisasi kemungkinan pasti. 1 modalisasi tinggi selalu dan 1 modalisasi menengah biasa dan 1 menengah biasa barangkali.
Strategi Perlokusi Iklan Komersial Berbahasa Indonesia di Facebook dan Tiktok: Implikasi Terhadap Perilaku Konsumen Neni Surya Nirmala; Zul Haeri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v10i2.2887

Abstract

This study aims to describe the forms of perlocutionary effects and language strategies in Indonesian-language commercial advertisements on Facebook and TikTok. This study employs a qualitative descriptive method with a pragmatic approach. Data were collected through observation and note-taking on commercial advertisements across the categories of beauty products, food and beverages, financial services, fashion, and digital entertainment during the period of January–March 2025. The results indicate that in beauty and nutrition product advertisements, perlocutionary effects manifest as cognitive beliefs; in financial services advertisements, as perceptions of affordability; in fashion advertisements, as self-identification; and in digital entertainment advertisements, as emotional engagement. The primary strategies identified include the use of numerical data claims to build credibility, life-scenario narratives for self-identification, and directive operational instructions to encourage immediate action. Interactive characteristics of social media, such as the comment response format on TikTok, were found to amplify perlocutionary power by creating the illusion of personal communication—a condition where the audience feels directly and individually addressed by the advertiser, even though the message is simultaneously directed at millions of users. Digital context and human presenter engagement emerged as the primary determinants of message effectiveness. This research confirms that advertising language on social media functions as a strategic instrument capable of directing the audience’s perceptions and economic behavior through psychological and linguistic manipulation integrated with platform features