Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG AUTOPSI FORENSIK DI KECAMATAN SIHAPAS BARUMUN KABUPATEN PADANG LAWAS RUDI ISKANDAR HASIBUAN; MISTAR RITONGA
JURNAL ILMIAH SIMANTEK Vol 5 No 3 (2021): JURNAL ILMIAH SIMANTEK
Publisher : LP2MTBM MAKARIOZ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cases of unnatural deaths in Indonesia are often unsolved. To reveal those cases forensic autopsy is required, however thisprocedure is often being rejected by the public. To determine the level of public knowledge about forensic autopsy in SihapasBarumun Subdistrict, Padang Lawas Regency. This study is a descriptive study with a cross-sectional approach.The number of samples are 97 people, the calculation was done using Slovin formula, with simple random samplingtechnique. The data were acquired using questionnaires, and processed using SPSS. The overall level of public knowledgeabout forensic autopsy in Sihapas Barumun sub-district, Padang lawas district, are: good 4 people (4.1%), moderate 1person (1.8%), and poor 92 people ( 93.7%). Number of respondents with good knowledge on each categories are: malegender is 3 people (5.88%), age 18-29 years 2 people (6.9%), and based on Bachelor education are 3 people (33.3%).The level of public knowledge about forensic autopsy in Sihapas Barumun District, Padang Lawas Regency is poor.
Gantung diri (Hanging) Abdul Karim Lubis; Guntur Bumi Nasution; Mistar Ritonga
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 45, No 2 (2012): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dead by hanging is very common in the community. This form of suicide is often encountered since it can be done anywhere or anytime and it requires only a piece of rope, a neck tie, or anything that can strangle the neck. Dead is hanging is often caused by asphyxia The most common by encountered sign of asphyxia in the victims are cyanosis, congestion, oedema, petechial haemoorrhage.Keywords: hanging; asphyxia
Penilaian alur luka untuk menentukan penyebab kematian Jims Ferdinan; Mistar Ritonga
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 45, No 3 (2012): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The gully injury is often used in explaning the macanisme of the death in establishing etiology of the death. The benefits of injury gully value, besides to determine the cause of death, at also to assist the investigation of the death in establishing the main actor when causing the victim dead, particularly is the incident was executed by many kind of fools and or actors.Keywords: trauma; injury gully; cause of death
Penilaian alur luka untuk menentukan penyebab kematian Mistar Ritonga
Majalah Kedokteran Nusantara The Journal Of Medical School Vol 46, No 3 (2013): The Journal of Medical School
Publisher : Fakultas Kedokteran USU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The gully injury is often used in explaning the macanisme of the death in establishing etiology of the death. The benefits of injury gully value, besides to determine the cause of death, at also to assist the investigation of the death in establishing the main actor when causing the victim dead, particularly is the incident was executed by many kind of fools and or actors. Keywords : trauma; injury gully; cause of death
GAMBARAN KARAKTERISTIK KASUS KEKERASAN SEKSUAL YANG DIPERIKSA DI RS BHAYANGKARA TINGKAT II MEDAN PADA TAHUN 2020-2021 LISA HANDAYANI; MISTAR RITONGA; ABDUL GAFAR PARINDURI; HASRONI FATHURRAHMAN
JURNAL ILMIAH KOHESI Vol 7 No 4 (2023): JURNAL ILMIAH KOHESI
Publisher : LP2MTBM MAKARIOZ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Violence is very common in everyday life, both in the family, the community, and among peers. Violence or in English, violence, can beinterpreted as an attack or invasion of a person's physical or mental integration. Generally, to know the Characteristicsof sexual violence cases examined at the Hospital Bhayangkara Tk. II Medan in 2020–2021. Research that takes databased on the results of medical records, research design is in the form of descriptive with a restospective approach to findout how the characteristics of sexual violence cases are examined in hospitals. Bhayangkara Tk. II Medan in 2020–2021.The results of study show the frequency distribution based on age of those who experienced sexual violence in Bhayangkara TK II HospitalMedan the most were early teens, as many as 160 people (55.7%). The frequency distribution based on gender.experienced sexual violence at Bhayangkara TK II Hospital Medan was mostly female, as many as 282 people (98.3%) and 5people (1.7%). The frequency distribution based on the year of occurrence of sexual violence in Bhayangkara TK II MedanHospital was the highest in 2020, with as many as 145 people (50.5%), based on gender, who experienced sexual violence atAt Bhayangkara TK II Hospital Medan, the majority were women, as many as 282 people. (98.3%). While the frequency based onthe type of wound that experienced sexual violence in Bhayangkara TK II Hospital Medan the most were torn wounds asmany as 263 people (91.6%).
Karakteristik Demografi Korban Pembunuhan Yang Diperiksa Di Departemen Forensik Dan Medikolegal RS Bhayangkara TK II Medan Purwoko, Firda Syakirina; Ritonga, Mistar; Parinduri, Abdul Gafar; Handayani, Ahmad
JURNAL PANDU HUSADA Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jph.v5i2.20741

Abstract

Abstrak: Pembunuhan ialah sesuatu aksi melenyapkan nyawa seorang dengan metode melanggar hukum, maupun yang tidak melawan hukum, pembunuhan diatur dalam Pasal KUHP. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatra Utara, Provinsi SUMUT kasus pembunuhan tahun 2013 terdapat 118 kasus yang terdaftar sedangkan pada tahun 2017 menurun menjadi 98 kasus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik demografi korban pembunuhan yang diperiksa di Departemen Forensik dan Medikolegal RS Bhayangkara TK II Medan. Desain penelitian ini deskriptif dengan pendekatan restospektif. Penelitian ini dilakukan di Di Departemen Forensik Dan Medikolegal RS Bhayangkara TK Il Medan. Populasi yang digunakan dari penelitian ini adalah semua korban pembunuhan yang diperiksa di Departemen Forensik dan Medikolegal RS Bhayangkara TK II Medan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total population sampling dari data sekunder periode Agustus 2020 – Maret 2022. Didapatkan total 90 kasus pembunuhan di departemen forensik dan medikolegal RS Bhayangkara TK II Medan, Median usia rentang 30 tahun dengan subjek dalam penelitian ini mayoritas berjenis kelamin laki-laki yaitu 74 kasus (82,2%). Data sebab kematian tersering pada subjek penelitian adalah kekerasan tumpul, dengan jumlah sebanyak 50 kasus (37,5%). Regio tubuh yang paling banyak menyebabkan kematian adalah regio kepala sebanyak 50 kasus (55,6%). Korban Pembunuhan sebagian besar berusia 26 sampai 35 tahun sebanyak 20 kasus (22,2 %) dan sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. Sebab kematian paling banyak diakibatkan oleh trauma tumpul paling banyak terjadi pada regio kepala.
Penentuan Tinggi Badan Berdasarkan Panjang Telapak Kaki Terhadap Etnis Batak Ramadhan, Muhammad Zikri Agung; Ritonga, Mistar
JURNAL PANDU HUSADA Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jph.v7i2.24439

Abstract

Abstrak : Identifikasi dalam ilmu forensik berperan penting untuk memastikan identitas seseorang secara akurat. Tujuan utamanya ialah menyediakan bukti ilmiah yang kuat dan dapat dipercaya dalam mendukung investigasi maupun proses hukum. Salah satu parameter penting dalam antropologi forensik adalah tinggi badan, yang biasanya ditentukan melalui pengukuran tulang tubuh. Namun, penelitian menunjukkan bahwa panjang telapak kaki, dikombinasikan dengan faktor jenis kelamin, dapat digunakan sebagai prediktor tinggi badan yang valid. Pendekatan ini bermanfaat tidak hanya dalam bidang forensik, tetapi juga dalam praktik klinis dan penelitian ilmiah. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan antara panjang telapak kaki dan tinggi badan, serta menyusun formula regresi untuk memperkirakan tinggi badan. Metode yang digunakan adalah analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Subjek penelitian terdiri dari 30 orang suku Batak di Fakultas Kedokteran Muhammadiyah Sumatera Utara, mencakup laki-laki dan perempuan sesuai kriteria inklusi. Sampel diambil dengan metode total sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi sangat kuat antara panjang telapak kaki dan tinggi badan, dengan koefisien korelasi 0,995–0,999 (p0,001). Persamaan regresi linear yang diperoleh memiliki Standard Error of the Estimate (SEE) 0,045–0,599 (p0,001). Dengan demikian, tinggi badan dapat diprediksi secara signifikan melalui pengukuran panjang telapak kaki.