Fokus dari karya tulis adalah tentang budaya sida yang berasal dari kebudayaan Masyarakat Manggarai di Flores. Budaya ini adalah suatu bentuk kerjasama antara saudara laki-laki dan saudara perempuan yang sudah bersuami, dalam bentuk bantuan materi. Tujuannya adalah untuk meringankan beban saudara yang sedang mengadakan suatu upacara adat. Walaupun terlihat seperti sebuah mekanisme ekonomi, namun didalam budaya ini terdapat multi makna. Salah satu makna dari tradisi ini adalah berkaitan dengan relasionalitas manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah menggali makna dari budaya Sida Masyarakat Manggarai dalam kaitannya dengan Filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Terlebih khusus tentang relasi intersubjektiv. Dengan menggunakan metode kualitatif, yakni studi Pustaka, tulisan ini menggali Budaya Sida Masyarakat Manggarai, dalam kaitannya dengan konsep relasionalitas intersubjektif dari Armada Riyanto. Dari analisis atas sumber yang ada, didapatkan bahwa, budaya sida sangat mencerminkan relasi intersubjektif manusia. Di dalam buudaya Sida setiap orang yang terlibat dalam mekanisme budaya tersebut, tidak pernah dipandang sebagai objek. Semua orang dihargai keberadaanya, kehadirannya diindahkan secara sema dengan semua orang. Meskipun tumbuh dalam budaya yang menganut sistem patrilineal, budaya sida tidak mengesampingkan atau mengobjekan kehadiran perempuan. Dan justru kehadiran meraka sangat dihargai, dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan konsep relasi intersubjektif Armada Riyanto, yang menekankan penolakan terhadap ojektivikasi terhadap orang lain. Relasi intersubjektif Armada Riyanto menekankan pada kesetaraan setiap manusia.