Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Klaim Kebenaran Agama: Sebuah Refleksi Komparatif Pemikiran John Hick dan Alvin Platinga Lidia Krismawati; Eko Winarto; Kevin Marthin; Polina Palayukan; Oda Lase; Tryo Agus Purwanto
TEMISIEN: Jurnal Teologi, Misi, dan Entrepreneurship Vol 3, No 1: Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9876/temisien.v3i1.110

Abstract

Religion should be a pioneer in building an ethical attitude in viewing every difference amid multiculturalism and religious plurality. Claims of truth that are unique to every religion should be a legacy that can become a bridge for adherents of religions to have higher and better ethical awareness. Distorting truth claims, as proposed by Hick, is not a good solution for building diversity. Because truth claims are inherited from a belief that should be maintained and deepened. The problem of tensions between religious adherents is not due to truth claims but the need for more awareness of every religious adherent to ethical values in building interfaith tolerance. To build this ethical awareness, Plantinga proposes a bridge in the realm of shared awareness of God's existence. This awareness encourages every religious adherent to respect the existence of other religious people different from God's creation. In addition to awareness of God's existence, Yunus added this bridge in the Indonesian context to build community culture, which contains ethical awareness to respect adherents of different religions, as proposed by Darmaputera and Suseno. AbstrakAgama seharusnya menjadi pionir dalam membangun sikap etis dalam memandang setiap perbedaan ditengah multikultural dan pluralitas agama. Klaim kebenaran yang menjadi keunikan setiap agama seharusnya menjadi warisan yang dapat menjadi jembatan bagi penganut agama untuk memiliki kesadaran etis yang semakin tinggi dan baik. Mendistorsi klaim kebenaran seperti yang digagas oleh Hick bukanlah solusi yang baik dalam membangun keberagaman. Sebab klaim kebenaran merupakan warisan dari sebuah keyakinan yang seharusnya diperlihara dan diperdalam. Persoalan adanya ketegangan antarumat beragama pada dasarnya bukan karena klaim kebenaran tetapi kurangnya kesadaran setiap penganut  agama terhadap nilai etis dalam membangun toleransi antarumat beragama. Untuk membangun kesadaran etis tersebut, Plantinga mengusulkan jembatan dalam ranah kesadaran bersama akan keberadaan Allah. Kesadaran ini mendorong setiap penganut agama menghargai keberadaan umat agama yang lain yang berbeda sebagai ciptaan Allah. Selain kesadaran akan keberadan Tuhan, jembatan tersebut dalam konteks Indonesia juga ditambahkan oleh Yunus dalam bangunan kultur masyarakat, yang di dalamnya mengandung kesadaran etis untuk menghargai penganut agama yang berbeda, seperti yang diusulkan oleh Darmaputera dan Suseno. 
IMPLEMENTASI SISTEM PENILAIAN KURIKULUM 2013 MELALUI KEGIATAN IN HOUSE TRAINING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMN GURU-GURU DI SD NEGERI 66 REJANG LEBONG Eko Winarto
Jurnal Pendidikan Guru Vol 4 No 3 (2023): Jurnal Pendidikan Guru
Publisher : Yayasan Literasi Kita Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47783/jurpendigu.v4i3.506

Abstract

Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah (action research). Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas dan guru bidang studi di SD Negeri 66 Rejang Lebong pada tahun pelajaran 2022/2023. Waktu pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan Maret 2023 selama 3 bulan. Tahap penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melalui kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data melalui data observasi dan data tes. Hasil penelitian Melalui pelaksanaan pelatihan model in house training dapat meningkatkan keaktifan peserta pelatihan penilaian kurikulum 2013 di SD Negeri 66 Rejang Lebong, hal ini terlihat pada siklus I keaktifan sebesar 60% meningkat pada siklus II sebesar 93%. Melalui pelaksanaan pelatihan model in house training dapat meningkatkan pemahaman guru dalam penilaian kurikulum 2013, dimana pada siklus I kemampuan guru sebesar 33% meningkat pada siklus II sebesar 97%.