Konstruksi berbasis precast memiliki karakteristik risiko keselamatan yang spesifik akibat kompleksitas aktivitas kerja dengan tingkat risiko keselamatan yang tinggi. Namun, kajian keselamatan kerja pada sektor precast masih relatif terbatas dibandingkan konstruksi secara umum. Dalam konteks tersebut, persepsi risiko keselamatan pekerja menjadi aspek penting karena berpengaruh terhadap kewaspadaan, pengambilan keputusan, dan perilaku keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor individu dan faktor organisasi terhadap persepsi risiko keselamatan pekerja unit precast PT X. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan kuisioner kepada 281 pekerja di lima plant precast PT X. Faktor individu meliputi usia, pendidikan terakhir, pengalaman kerja, dan bagian pekerjaan, sedangkan faktor organisasi meliputi iklim keselamatan, beban kerja, dan pengalaman kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunukan bahwa 58,4% pekerja memiliki persepsi risiko keselamatan yang baik, sementara 41,6% berada pada kategori buruk. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor individu dan organisasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko keselamatan. Dari faktor individu, bagian pekerjaan (p=0,000; OR=0,012) dan Pendidikan terakhir (p=0,045; OR=1,458) berpengaruh signifikan. Dari faktor organisasi, beban kerja (p=0,000; OR=5,118), iklim keselamatan (p=0,000; OR=3,211), dan pengalaman kecelakaan kerja (p=0,041; OR=0,056) juga menunjukan pengaruh signifikan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan program pelatihan K3 yang bersifat mendalam dan kontekstual, perbaikan iklim keselamatan melalui kepemimpinan transformatif, pengaturan beban kerja yang optimal, serta pengembangan sistem pelaporan kecelakaan yang transparan sebagai bentuk pembelajaran dalam meningkatkan persepsi risiko dan budaya keselamatan kerja di industri precast.