Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Mekanisme Ngelingkah pada Etnis Karo di Desa Merdeka Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo Br. Tarigan, Iing Hosanna; Rumapea, Murni Eva Marlina
Tsaqila | Jurnal Pendidikan dan Teknologi Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/tjpt.v4i1.506

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan nilai atau makna yang terkandung dalam mekanisme Ngelingkah dan menganalisis mekanisme Ngelingkah menjadi keharusan dilakukan pada etnisK aro di Desa Merdeka. Penelitian ini dilakukan di Desa Merdeka Kecamatan Merdeka Kabupaten Karo. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskritif. Teknikp engumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara mandalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa acara adat Ngelingkah pada etnis Karo ini dilakukan sebagai suatu mekanisme pemulihan terhadap pertentangan ataupun penyimpangan adat. Mekanisme Ngelingkah sebagai salah satu acara adat memiliki nilai dan makna tinggi yang terkandung didalamnya, sehingga berguna bagi kehidupan masyarakat Karo. Kajian ini menyimpulkan bahwa nilai dan makna yang terdapat pada acara adat Ngelingkah menjadikannya sebagai acara adat yang memiliki keharusan untuk dilakukan ataupun dilaksanakan pada etnis Karo. Masyarakat Desa Merdeka masih melakukan acara adat Ngelingkah sampai saat ini karena masyarakat menganggap bahwa acara adat Ngelingkah merupakan suatu acara adat yang penting dalam etnis Karo.
Spring Bed Business as a Livelihood for the People of Sei Semayang Village, Sunggal District, Deli Serdang Regency Sitohang, Clara Angelina; Rumapea, Murni Eva Marlina
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 8, No 1 (2024): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Januari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v8i1.6113

Abstract

The research aims to describe the reasons why the people of Sei Semayang Village chose the spring bed business as a livelihood, as well as outlining strategies for running a spring bed business as a livelihood. Qualitative research method with a descriptive approach, data collection techniques used in the research are interviews, observation, documentation carried out to add relevant data. The research method used from the research results is as follows: 1. Gaining knowledge from experience while working as an employee in a spring bed business owned by another entrepreneur is the reason people choose business as a livelihood. Fulfilling economic needs by choosing the spring bed business as a livelihood for people affected by the Covid-19 pandemic. Obtaining large profits is the reason why people run the spring bed business as a livelihood. The ease of making and obtaining raw materials by the community is the reason for choosing the spring bed business as a livelihood. 2. Business development strategy by improving the quality of raw materials for spring bed products, developing product designs according to consumer desires, entrepreneurs employing experienced employees in the furniture sector. Providing a guarantee for spring bed products to gain loyalty from consumers. Spring bed buying and selling transactions using a door-to-door system carried out by sales. Spring bed buying and selling transactions via social media Facebook and Tiktok.
TRADISI SONGGOT-SONGGOT ETNIS BATAK TOBA DI DESA TOMOK KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR Sinurat, Icha Inri Manuela; Rumapea, Murni Eva Marlina
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 18 No 1 (2024): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsutjurnalstudiislamdansosial.v18i1.1170

Abstract

Abstract: This study aims to describe the process of implementing the Batak Toba ethnic songgot tradition, describe the function of the Batak Toba ethnic songgot tradition and describe the community's view of the Batak Toba ethnic songgot tradition in Tomok Village, Simanindo District, Samosir Regency. The method used in research is qualitative research method with a descriptive approach. This research was conducted in Tomok Village, Simanindo District, Samosir Regency. Data collection techniques carried out are interviews and documentation. This study concluded that the songgot tradition is one of the traditions to get offspring, to afamily if it does not have children. The function of the songgot-soggot tradition is to Mangelek tondi (restore the soul) as well as pray to get what the heart desires. The people of Tomok Village still believe in the tradition of songgot-songgot, a culture that has been passed down.Keywords: Songgot-songgot Tradition, Batak Toba, Mangelek Tondi
Tradisi Pedalan Kampil Peradatan Dalam Etnis Karo di Desa Siosar Tiga Panah Hutabarat, Dini; Rumapea, Murni Eva Marlina
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 14 No. 2 (2025): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v14i2.31718

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna Pedalan Kampil peradatan pada acara pernikahan bagi Etnis Karo di Desa Siosar Tiga Panah, fungsi dari Pedalan Kampil peradatan pada acara pernikahan bagi etnis karo di Desa Siosar Tiga Panah, dan tahapan apa saja yang dilakukan pada pelaksanaan Pedalan Kampil peradatan pada saat acara pernikahan dalam etnis Karo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian latar belakang penelitian ini mengungkap bahwa tradisi ini tujuannya untuk menjaga komunikasi dua keluarga agar baik, mengungkapkan keingan kedua keluarga pengantin yang akan melaksanakan pernikahan agar berjalan dengan lancar. Didalam kampil atau wadah yang digunakan untuk mengisi hidangan untuk keluarga yang akan melaksanakan tradisi pedalan kampil peradatan ini berbagai macam yang dapat digunakan oleh pihak keluarga pengantin yang melaksanakan tradisi ini, tujuannya dilakukan ini oleh etnis Karo sebagai hal menghormati suatu acara dengan adanya hidangan sirih yang dimasukkan kedalam kampil atau wadah yang biasa digunakan pada acara pernikahan etnis Karo ketika makan sirih.
Bona Taon Marga Hutagalung sebagai Wadah Solidaritas Persaudaraan di Dusun III Sibustak Hutagalung, Winda Riama; Rumapea, Murni Eva Marlina
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 14 No. 2 (2025): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v14i2.34140

Abstract

Penelitian ini membahas tradisi Bona Taon Marga Hutagalung sebagai wadah solidaritas persaudaraan di Dusun III Sibustak-Bustak, Desa Tapian Nauli III, Kecamatan Tapian Nauli. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan bentuk pelaksanaan, tujuan, dan fungsi sosial budaya dari Bona Taon yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Batak Toba. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Bona Taon meliputi tahapan pembentukan panitia, penggalangan dana, penentuan waktu dan lokasi, serta rangkaian acara yang diawali dengan doa bersama, sambutan, makan bersama, hiburan, hingga penutup dengan pembagian hadiah. Tradisi ini memiliki makna utama sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus mempererat persaudaraan antaranggota marga. Fungsi sosialnya mencakup sarana komunikasi, penguatan jaringan kekerabatan, pelestarian budaya, serta media pewarisan nilai solidaritas kepada generasi muda. Dengan demikian, Bona Taon tidak hanya berperan sebagai acara budaya tahunan, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menjaga keberlangsungan identitas, nilai kebersamaan, dan persaudaraan masyarakat Hutagalung.