Tari sesaji Pangentas Bilahi ââ¬ËSudra Tingalââ¬â¢ merupakan garapan baru yang ditarikan oleh sembilan penari putri. Gerak tari sesaji mengacu para tari bedhaya. Struktur tari sesaji dibagi menjadi tiga bagian yaitu maju beksan, beksan, dan mundur beksan. àPada maju beksan penari bergerak dari pinggir menuju gawang pokok ke tengah Pedhapa Agung dengan pola gerak kapang-kapang, diiringi dengan Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem àdan iringan beberapa intrumen gamelan berupa gender, rebab, gambang dan suling. Syair cakepan Pathetan digunakan untuk menggambarkan memuja ke agungan yang Maha Kuasa. Beksan pokok terdiri dari tujuh kesatuan gerak dengan berbagai garap iringan musikal seperti penggarapan gendhing Sekaten, Demung àImbal merupakan penggambaran konflik batin antara situasi dan suasana yang terjadi. Gerak beksan pokok merupakan penggambaran tentang segala usaha manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang penguasa Jagad Raya. Mundur beksan penari berjalan perlahan dengan pola gerak kapang-kapang dari Pendhapa Agung keluar arena pentas, dengan iringan gending ladrangan, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tari dipentaskan dalam rangka wisuda sarjana seni dan magister seni Institut seni Indonesia Surakarta yang ke empat puluh enam.àSesaji Pangentas Bilahi Sudra Tingal dance is a new performance, performed by nine female dancers. The movement of Sesaji dance resembles that of Bedhaya dance. The structure of Sesaji dance consists of three parts, namely maju beksan, beksan, and mundur beksan. In maju beksan, the dancers move from the edge to central hurdle to middle Pendhapa Agung (Grand Ballroom) in Kapang-Kapang movement pattern, accompanied by Pathetan Vokal Putra Laras Pelog Nem àand traditional musical instruments such as gender, rebab, gambang and suling (bamboo flute). Cakepan Pathetan lyric is used to express the worship of God Almighty. Beksan Pokok consists of seven movement unity with several musical accompaniments such as gendhing sekaten, demung imbal to portray an inner conflict between outer situation and oneââ¬â¢s inner atmosphere. The movement of main beksan is a description about humanââ¬â¢s effort in coming closer to God Almighty. In Mundur beksan, dancers walk slowly in Kapang-Kapang movement pattern out of Pendhapa Agung to performance stage, accompanied by ladrangan gending, as a gratitude to God Almighty. The dance is performed in commemoration of the 46th graduation ceremony of Indonesian Arts Institute, Surakarta.