Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ​​Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2737

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ??Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
MODEL PENGELOLAAN AIR BERSIH DESA DI BANTUL YOGYAKARTA -, Hardjono; Dwi Astuti, Nuraini; Widiputranti, Christine Sri
Komunitas Vol 5, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2737

Abstract

AbstrakArtikel ini bertujuan mendeskripsikan model pengelolaan air minum desa dan permasalah yang dihadapinya. Penelitian dilakukan di wilayah Pucung Desa Wukirsari Bantul Yogyakarta. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana pengelolaan  ditinjau dari aspek kelembagaan, ketersediaan air, jumlah pengguna, kebutuhan air bersih, pedoman yang mengatur dan manajemen keuangannya. Jenis penelitian survai dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subyek penelitian kepala keluarga. Hasil penelitian Pengelolaan Air Bersih (PAB) Pucung dikelola berbasis masyarakat (tipe C), namun belum melibatkan pelanggan dalam pengelolaannya. Ketersediaan air sangat cukup, tetapi kebutuhan pelanggan belum terpenuhi secara maksimal. Apabila PAB Pucung dapat beroperasi secara efektif dan efisien masyarakat Pucung tidak akan kekurangan air bersih karena dalam satu bulan masih tersedia 13.445 m3, yang setara  dengan pemenuhan kebutuhan air bersih rata–rata 259 jiwa/bulan.AbstractThis article aims to describe a village water management model and the problems it faces. The study was conducted in the area of ??Bantul, Yogyakarta, to be exactly in Wukirsari village. The article studies water management in the aspect of institutional management, water availability, number of users, the need for clean water, and guidelines governing financial management. The results of the study reveals that the water is managed by the community (type C), and do not involve the customer in its management. Though water is abundant, the management does not meet customer needs to the fullest. If PAB Pucung can operate effectively and efficiently Pucung people will not lack of clean water because of lack of clean water is still available in a month 13 445 m3, which is equivalent to a clean water supply on average 259 people/month.© 2013 Universitas Negeri Semarang
HUBUNGAN KETERLIBATAN ORANG TUA DAN KETAKUTAN AKAN KEGAGALAN DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK SISWA KELAS XI Siahaan, Indah Soaduon Forgustina; Supratiwi, Mahardika; -, Hardjono
Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jip.v6i2.54479

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan orang tua dan ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi akademik pada siswa kelas XI SMA Batik 1 Surakarta, dengan jumlah sampel 138 siswa melalui random cluster sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala prokrastinasi akademik, skala keterlibatan orang tua, dan skala ketakutan akan kegagalan. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai Fhitung sebesar 46.592 (p<0,05) dan nilai R = 0.639. Nilai R2 adalah 0.408, menunjukkan total sumbangan efektif (SE) keterlibatan orang tua dan ketakutan akan kegagalan terhadap prokrastinasi akademik sebesar 40.82%, dengan SE keterlibatan orang tua sebesar 17.99% dan SE ketakutan akan kegagalan sebesar 22.83%. Secara parsial, terdapat hubungan antara keterlibatan orang tua dengan prokrastinasi akademik (p<0.05; rx1y = 0.412) dan terdapat hubungan antara ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi akademik (p<0.05; rx1y = 0.467). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat hubungan antara keterlibatan orang tua dan ketakutan akan kegagalan dengan prokrastinasi akademik pada siswa kelas XI SMA Batik 1 Surakarta, yang berarti semakin intens perilaku prokrastinasi akademik siswa, semakin tinggi juga keterlibatan orang tua dan ketakutan akan kegagalan pada siswa tersebut, demikian sebaliknya.