Partini -
Jurusan Sosiologi, FISIPOL-UGM Jalan SosioYustisia No. 1 Bulaksumur, Yogyakarta Telp 0274-563362

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GLASS CEILLING DAN GUILTY FEELING SEBAGAI PENGHAMBAT KARIR PEREMPUAN DI BIROKRASI -, Partini
Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Jurnal Komunitas: Research and Learning in Sociology and Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSecara kuantitas pertambahan pegawai negeri sipil perempuan mengalami peningkatan yang signifikan, namun belum diikuti dengan terbukanya akses untuk dapat menjadi pejabat struktural dan pejabat publik yang strategis. Artikel ini membahas faktor-faktor yang menyebabkan belum terbukanya akses untuk menjadi pejabat. Penelitian dilakukan di Aceh. Hasil penelitian menunjukan perasaan  ambigu, kurang percaya diri, dan kurangnya dukungan lingkungan sosial yang disebabkan karena dominasi dari kultur dan struktur menguatkan fenomena glass ceiling. Rendahnya akses perempuan dalam jabatan strategis akan berdampak pada kualitas kebijakan publik yang dirumuskan menjadi tidak sensitif gender.AbstractThe number of female civil servant has increased significantly nowadays. However, this opportunity yet to be followed by the opening access for women in the structural and strategic position. The research aims to discuss factors that inhibit women’s careers. The research was conducted in Nangroe Aceh Darrusalam. The result shows that ambiguous feelings, lack of confidence and social support environment as well as dominance of patriarchal culture and structure inhibit women’s career in bureaucracy. The lack of women’s access in strategic positions would result in gender insensitive public policies.© 2013 Universitas Negeri Semarang
GLASS CEILLING DAN GUILTY FEELING SEBAGAI PENGHAMBAT KARIR PEREMPUAN DI BIROKRASI -, Partini
KOMUNITAS: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol 5, No 2 (2013): Tema Edisi: Model-Model Pemberdayaan Masyarakat dan Pendidikan Karakter Bangsa
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2740

Abstract

AbstrakSecara kuantitas pertambahan pegawai negeri sipil perempuan mengalami peningkatan yang signifikan, namun belum diikuti dengan terbukanya akses untuk dapat menjadi pejabat struktural dan pejabat publik yang strategis. Artikel ini membahas faktor-faktor yang menyebabkan belum terbukanya akses untuk menjadi pejabat. Penelitian dilakukan di Aceh. Hasil penelitian menunjukan perasaan  ambigu, kurang percaya diri, dan kurangnya dukungan lingkungan sosial yang disebabkan karena dominasi dari kultur dan struktur menguatkan fenomena glass ceiling. Rendahnya akses perempuan dalam jabatan strategis akan berdampak pada kualitas kebijakan publik yang dirumuskan menjadi tidak sensitif gender.AbstractThe number of female civil servant has increased significantly nowadays. However, this opportunity yet to be followed by the opening access for women in the structural and strategic position. The research aims to discuss factors that inhibit women’s careers. The research was conducted in Nangroe Aceh Darrusalam. The result shows that ambiguous feelings, lack of confidence and social support environment as well as dominance of patriarchal culture and structure inhibit women’s career in bureaucracy. The lack of women’s access in strategic positions would result in gender insensitive public policies.© 2013 Universitas Negeri Semarang
GLASS CEILLING DAN GUILTY FEELING SEBAGAI PENGHAMBAT KARIR PEREMPUAN DI BIROKRASI -, Partini
Komunitas Vol 5, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v5i2.2740

Abstract

AbstrakSecara kuantitas pertambahan pegawai negeri sipil perempuan mengalami peningkatan yang signifikan, namun belum diikuti dengan terbukanya akses untuk dapat menjadi pejabat struktural dan pejabat publik yang strategis. Artikel ini membahas faktor-faktor yang menyebabkan belum terbukanya akses untuk menjadi pejabat. Penelitian dilakukan di Aceh. Hasil penelitian menunjukan perasaan  ambigu, kurang percaya diri, dan kurangnya dukungan lingkungan sosial yang disebabkan karena dominasi dari kultur dan struktur menguatkan fenomena glass ceiling. Rendahnya akses perempuan dalam jabatan strategis akan berdampak pada kualitas kebijakan publik yang dirumuskan menjadi tidak sensitif gender.AbstractThe number of female civil servant has increased significantly nowadays. However, this opportunity yet to be followed by the opening access for women in the structural and strategic position. The research aims to discuss factors that inhibit women’s careers. The research was conducted in Nangroe Aceh Darrusalam. The result shows that ambiguous feelings, lack of confidence and social support environment as well as dominance of patriarchal culture and structure inhibit women’s career in bureaucracy. The lack of women’s access in strategic positions would result in gender insensitive public policies.© 2013 Universitas Negeri Semarang