Suprapti -
Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMERTAHANAN UNGKAPAN DALAM BAHASA JAWA YANG MEMUAT KEARIFAN LOKAL SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT SAMIN DI KABUPATEN BLORA -, Suprapti
Lingua Vol 9, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian budaya lokal yang dimiliki masyarakat di Indonesia sampai saat ini tetap merupakan kajian yang menarik, apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini. Pemertahanan budaya lokal sering dibenturkan dengan pengaruh budaya global. Salah satu masyarakat yang sampai saat ini masih mempertahankan budaya lokal adalah masyarakat Samin. Penelitian ini bertujuan untuk mrngungkap (1) wujud kearifan lokal masyarakat Samin dan (2) bentuk pemertahanan kearifan lokal masyarakat Samin. Idiom dan ungkapan yang memuat kearifan lokal/ajaran masyarakat Samin sampai saat ini masih tetap ada dan menjadi pegangan hidup masyarakat Samin. Bentuk idiom dan ungapan tersebut berupa kata, kalimat, dan wacana. Selain itu, supaya ajaran tersebut masih tetap dijadikan pegangan hidup, para sesepuh berusaha mempertahankan ajaran tersebut dengan cara sesorah, memasukkan dalam tembang, dan dengan perbuatan/tindakan konkret. Local cultures that belong to Indonesian society is still interesting to be studied, even in the era of globalization. Maintaining local culture is often influenced with global culture. The current study aimed to discover: (1) forms of the local wisdom of Samin society, and (2) forms of the maintenance efforts of the local wisdom of Samin society. Idioms and expressions that contain local wisdom or local lessons of Samin society exist until now and become the way of life of Samin society. The forms of the idioms and the expresions are in words, sentences, and discourse. In addition, Samin elders have been maintaining the local wisdom through sesorah including in tembang  and everyday practices.
PEMERTAHANAN UNGKAPAN DALAM BAHASA JAWA YANG MEMUAT KEARIFAN LOKAL SEBAGAI BENTUK IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT SAMIN DI KABUPATEN BLORA -, Suprapti
Lingua Vol 9, No 1 (2013): January 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian budaya lokal yang dimiliki masyarakat di Indonesia sampai saat ini tetap merupakan kajian yang menarik, apalagi dalam era globalisasi seperti saat ini. Pemertahanan budaya lokal sering dibenturkan dengan pengaruh budaya global. Salah satu masyarakat yang sampai saat ini masih mempertahankan budaya lokal adalah masyarakat Samin. Penelitian ini bertujuan untuk mrngungkap (1) wujud kearifan lokal masyarakat Samin dan (2) bentuk pemertahanan kearifan lokal masyarakat Samin. Idiom dan ungkapan yang memuat kearifan lokal/ajaran masyarakat Samin sampai saat ini masih tetap ada dan menjadi pegangan hidup masyarakat Samin. Bentuk idiom dan ungapan tersebut berupa kata, kalimat, dan wacana. Selain itu, supaya ajaran tersebut masih tetap dijadikan pegangan hidup, para sesepuh berusaha mempertahankan ajaran tersebut dengan cara sesorah, memasukkan dalam tembang, dan dengan perbuatan/tindakan konkret. Local cultures that belong to Indonesian society is still interesting to be studied, even in the era of globalization. Maintaining local culture is often influenced with global culture. The current study aimed to discover: (1) forms of the local wisdom of Samin society, and (2) forms of the maintenance efforts of the local wisdom of Samin society. Idioms and expressions that contain local wisdom or local lessons of Samin society exist until now and become the way of life of Samin society. The forms of the idioms and the expresions are in words, sentences, and discourse. In addition, Samin elders have been maintaining the local wisdom through sesorah including in tembang  and everyday practices.
REALITAS SOSIAL MASYARAKAT BALI DALAM NOVEL KENANGA KARYA OKA RUSMINI -, Suprapti
Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia Vol 2, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Realitas Sosial Masyarakat Bali dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini. Permasalahan penelitian  ini adalah bagaimanakah realitas sosial masyarakat Bali dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini? Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan realitas sosial  masyarakat Bali dalam novel. Metode yang penelitian ini adalah metode analisis diskriptif. Data adalah kata, frasa, klausa dan kalimat-kalimat dalam novel Kenanga yang mengacu pada masalah-masalah sosial dan realitas sosial masyarakat Bali. Sumber data adalah novel Kenanga karya Oka Rusmini. Hasil analisis bahwa stratifikasi sosial ini menempatkan kasta brahmana sebagai golongan tertinggi sedangkan kasta sudra harus mengabdi di Griya. Laki-laki dari kasta brahmana bebas dalam hal perkawinan yaitu bebas memilih istri dari kasta manapun. Sistem kepercayaan atau religi yaitu wujud kepercayaan masyarakat terhadap Hindu masih mempertahankan adatnya yaitu upacara ngaben yaitu pembakaran mayat, percaya balian (dukun) yang bisa menyembuhkan penyakit, dan potong rambut pada saat manusia baru lahir (bayi) diyakini membawa kebaikan. Sistem kekerabatan yaitu realitas masyarakat Bali terutama dalam bentuk perkawinan. Ketentuan perkawinan pada golongan bangsawan yang menjadi kebiasaan dan tradisi sesuai dengan aturan yang ada. Dalam hal ini perkawinan menggunakan aturan yaitu golongan brahmana harus mengawini dari golongan yang sejenis. Keluarga Kenanga termasuk golongan brahmana, jadi dalam hal perkawinan Kenanga harus memilih laki-laki yang segolongan tidak boleh di bawah golongannya karena dapat merendahkan derajat keluarga. Disorganisasi Keluarga merupakan perpecahan keluarga karena anggota-anggotanya gagal memenuhi kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan peran sosialnya. Dalam hal ini Kenanga mengalami perlakuan yang berbeda dari keluarga setelah kehadiran Kencana di dalam keluarga. Karena kehadiran Kencana merupakan kehadiran seorang bayi yang tidak wajar seperti kelahiran bayi pada umumnya. Kencana merupakan anak dari hasil permintaan kepada balian (dukun).