Azifambayunasti, Azril
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Membangun Generasi Tangguh Melalui Pembelajaran IPS Terintegrasi Isu Kesetaraan Gender Azril Azifambayunasti
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 5, No 3 (2022): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.663 KB) | DOI: 10.20961/shes.v5i3.59310

Abstract

Membangun generasi yang tangguh di tengah derasnya arus perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, tetapi juga sinergi yang baik dalam lingkup generasi itu sendiri tanpa adanya bias gender. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi isu kesetaraan gender dalam pembelajaran IPS sebagai upaya membangun generasi tangguh. Melalui studi pustaka, kajian ini berusaha memaparkan potret kesetaraan gender di Indonesia dan pentingnya isu tersebut untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran IPS. Dengan demikian, diperoleh hasil bahwa bias gender masih banyak ditemui di berbagai sektor, sehingga perjuangan akan kesetaraan gender masih harus melalui jalan yang panjang. Oleh karena itu, pembelajaran IPS menjadi sarana formal untuk menyuarakan pentingnya kesetaraan gender, sebuah realita yang harus diwujudkan guna mengoptimalkan lahirnya generasi tangguh dan generasi emas Indonesia di masa depan.
RELEVANSI IDE THE OPEN SOCIETY KARL POPPER DAN MULTIKULTURALISME DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Azril Azifambayunasti
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v5i1p37-48

Abstract

The Open Society by Karl Popper is an idea that opposes any kind of oppression and to-talitarianism, so that what is called an open society will be realized, a society that priori-tizes freedom but remains in the corridor of law and ethics. The Open Society is an idea that opposes socialism and capitalism at the same time. As an important idea in the modern age, The Open Society Popper must be able to use in life, just like knowledge that has an axiological basis. This idea is also closely related to democracy which up-holds individual freedom while still being controlled by law. On the one hand, The Open Society can be implemented in the education democracy movement, which is then called multicultural education, with kind of values that accommodate the freedom and equality of individual rights in society. The purpose of this study is to discuss the idea of The Open Society and its relevance to historical education, especially regarding multiculturalism. This discussion was reviewed using the literature study method. The results of this analysis show that The Open Society Popper can be used as a basis for multicultural education because it gives high respect to individual freedom and opposes domination by certain groups, while still respecting the law.Open Society menurut Karl Popper adalah sebuah gagasan yang menentang segala bentuk penindasan dan totalitarianisme, sehingga akan terwujud apa yang disebut masyarakat terbuka, masyarakat yang mengutamakan kebebasan namun tetap dalam koridor hukum dan etika. Masyarakat Terbuka adalah sebuah ide yang menentang sosialisme dan kapitalisme pada saat yang bersamaan. Sebagai sebuah ide penting di era modern, The Open Society Popper harus dapat digunakan dalam kehidupan, seperti halnya pengetahuan yang memiliki landasan aksiologis. Gagasan ini juga erat kaitannya dengan demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan individu dengan tetap dikendalikan oleh hukum. Di satu sisi, Masyarakat Terbuka dapat diimplementasikan dalam gerakan demokrasi pendidikan, yang kemudian disebut pendidikan multikultural, dengan nilai-nilai yang mengakomodasi kebebasan dan persamaan hak individu dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah membahas mengenai gagasan The Open Society dan relevansinya dengan pendidikan sejarah, khususnya perihal multikulturalisme. Pembahasan ini dikaji menggunakan metode studi pustaka. Hasil analisis i menunjukkan bahwa The Open Society Popper dapat dimanfaatkan sebagai landasan pendidikan multikultural karena memberikan penghargaan yang tinggi terhadap kebebasan individu dan menentang penguasaan oleh kelompok tertentu, dengan tetap hormat pada hukum.
MONUMEN PALAGAN TUMPAK RINJING DAN INGATAN MASYARAKAT KABUPATEN PACITAN ATAS REVOLUSI FISIK 1949 Azifambayunasti, Azril
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p198-209

Abstract

The Palagan Tumpak Rinjing Monument is a symbol of preserving memory for the events of the 1949 Physical Revolution in Pacitan Regency. In general, this research aims to describe the historical narrative behind the construction of the Palagan Tumpak Rinjing Monument and collective memory of 1949 Physical Revolution symbolized in the monument. This study uses a qualitative method, in which the researcher collects information through interview with relevant informants by purposive sampling technique and studies of some supporting literature. The results showed that the events behind the construction of the Palagan Tumpak Rinjing Monument was local people's resistance to the Dutch troops during Physical Revolution in several parts of Indonesia. However, the monument that was built three decades after the incident displays the icons of General Soedirman and B. S. Riyadi. It then affects the formation of collective memory of the people who tend to forget the role of local fighters and see the big man as central figures who contributed to heroic events around them. Monumen Palagan Tumpak Rinjing adalah simbol melestarikan memori untuk peristiwa Revolusi Fisik 1949 di Kabupaten Pacitan. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan narasi sejarah di balik pembangunan Monumen Palagan Tumpak Rinjing dan memori kolektif Revolusi Fisik 1949 yang dilambangkan dalam monumen. Studi ini menggunakan metode kualitatif, di mana peneliti mengumpulkan informasi melalui wawancara dengan informan yang relevan dengan teknik purposive sampling dan studi dari beberapa literatur pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa di balik pembangunan Monumen Palagan Tumpak Rinjing adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pasukan Belanda selama Revolusi Fisik di beberapa bagian Indonesia. Namun, monumen yang dibangun tiga dekade setelah kejadian menampilkan ikon Jenderal Soedirman dan B. S. Riyadi. Ini kemudian mempengaruhi pembentukan memori kolektif dari orang-orang yang cenderung melupakan peran pejuang lokal dan melihat orang besar sebagai tokoh sentral yang berkontribusi pada peristiwa heroik di sekitar mereka.