The Gedangan, Sidoarjo event that occurred in 1904 was an event of rebellion carried out by a man named Kyai Kassan / Hassan Moekmin with his followers. It was motivated by problems that arose in Regentschap Sidoardjo in the late 19th and early 20th centuries about the increasingly miserable conditions of society with new projects from the Dutch East Indies colonial government. He carried out an uprising that took many lives both on the rebel side and the government. In this case the Colonial government relied on its employees in the surrounding area ranging from regents, Wedana, to Lurah. By the colonial government, these employees were referred to as Inlandsch Bestuur or indigenous employees. Their role in dealing with this rebellion was decisive in the decision that would be taken by the Dutch East Indies officials at that time. Peristiwa Gedangan, Sidoarjo yang terjadi tahun 1904 merupakan peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh seorang bernama Kyai Kassan / Hassan Moekmin bersama para pengikutnya. Dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan yang muncul di Regentschap Sidoardjo pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 tentang kondisi masyarakat yang semakin sengsara dengan proyek-proyek baru dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Dirinya melakukan pemberontakan yang memakan tidak sedikit korban jiwa baik di pihak pemberontak maupun pemerintah. Dalam hal ini pemerintah Kolonial mengandalkan pegawainya yang ada di daerah sekitar mulai dari Bupati, Wedana, sampai Lurah. Oleh pemerintah kolonial, para pegawai ini disebut sebagai Inlandsch Bestuur atau pegawai pribumi. Peranan mereka dalam menangani pemberontakan ini sangat menentukan keputusan yang akan diambil oleh para pejabat Hindia-Belanda saat itu.