Imran, Fitrya Ali
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Proses Kreasi Tari Alusu’ sebagai Tari Penyambutan di Kabupaten Bone Imran, Fitrya Ali; Cahyono, Agus; Rohidi, Tjetjep Rohendi
Catharsis Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v6i1.17033

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses kreasi sebagai tari penyambutan di Kabupaten Bone. Metode penelitian menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik analisis data secara menyeluruh menggunakan prosedur analisis Miles dan Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data atau penarikan kesimpulan, untuk teknik analisis tari menggunakan prosedur Jannet Adshead yaitu Discerning dan Describing. Hasil penelitian ditemukan bahwa proses kreasi dilakukan pada tahun 2005 oleh koreografer Abdul Muin, dan dibantu oleh Andi Youshand selaku budayawan dan Andi Mappasissi selaku pemangku adat dalam hal menemukan ide. Melalui proses kreasi yakni eksplorasi, improvisasi dan komposisi, tari Alusu’ terbentuk menjadi delapan ragam gerak di antaranya, Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, dan Pabbitte. Gerakan yang dihasilkan dengan karakter gaya gerak Abdul Muin sebagai penari Bissu, dan dipengaruhi oleh keadaan geografis Kabupaten Bone, sehingga menghasilkan gerak yang lebih dinamis. Di sisi lain, elemen pendukung tari Alusu’ seperti musik iringan, kostum, tata rias, properti, dan desain lantai disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. This study aims at describing creation process as a welcoming dance in Bone Subdistrict. This study is qualitative in nature. The data are collected through observations, interviews, and documentations study. The data analysis techniques apply Miles and Huberman’s procedures, starting from data collection; data reduction; data presentation; and data verification or drawing conclusion. Meanwhile, dance analysis techniques utilize Jannet Adshead’s ones which are discerning and describing. The results show that creation process was done in 2005 by Abdul Muin as the choreographer, collaborated with Andi Youshand as cultural observer and Andi Mappasissi as local custom leader in finding ideas. Through the creation process covering exploration, improvisation, and composition, Alusu’ dance was formed in eight moves that are Mappakaraja, Sere Alusu’, Sere Bibbi’, Sere Mangkok, Sere Massampeang, Sere Maloku, Sere batita, and Pabbitte. The moves are characterised by the style of Abdul Muin’s as Bissu dancer, also influenced by Bone’s geographical condition, which finally make those more dynamic. Besides, some other additional elements such as music, costume, make up, properties, and floor design are adjusted by current people’s need.
TRANFORMASI CERITA RAKYAT GOA MAMPU MENJADI PERTUNJUKAN DRAMATARI AUD Imran, Fitrya Ali; Jannah, Miftahul
Boting Langi: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 3 (2025): Juli- Septermber
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/bl.v4i3.76495

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan transformasi cerita rakyat Goa Mampu dijadikan pertunjukan dramatari bagi Anak Usia Dini (AUD) oleh mahasiswa PIAUD IAIN Bone angkatan 2023, sekaligus menemukan nilai-nilai pendidikan moral yang dapat diajarkan melalui seni gerak. Studi ini dilakukan karena masih terbatasnya model kreatif yang mengintegrasikan cerita rakyat lokal secara edukatif dalam pembelajaran seni tari untuk PAUD. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif proses latihan dan pertunjukan, wawancara mendalam dengan mahasiswa, baik itu penari maupun penata gerak, serta dokumentasi (foto, video, catatan, naskah). Data dianalisis melalui teknik interaktif secara berurutan: reduksi, penyajian naratif, dan penarikan kesimpulan; validitas diperkuat dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi cerita rakyat Goa Mampu dilakukan melalui tiga tahapan sistematis: eksplorasi (memahami struktur naratif dan nilai budaya lokal), improvisasi (pengembangan gerak dan musik yang sinkron dengan karakter cerita), serta komposisi (integrasi visual, properti, musik, pola lantai, dan ritme menjadi dramatari yang utuh). Pertunjukan ini berhasil menginternalisasi nilai pendidikan karakter menurut Lickona: aspek moral knowing (kejujuran, tanggung jawab), moral feeling (empati, simpati, rasa bersalah, rasa hormat budaya), dan moral action (simbolisasi tindakan, pengambilan keputusan moral, kerja sama kolektif, serta teladan etis mahasiswa). Kesimpulannya, dramatari “Kutukan dari Goa Mampu” menawarkan model pembelajaran seni tari berbasis budaya lokal yang efektif untuk pendidikan karakter AUD. Karya ini tidak hanya estetis tetapi juga mendidik, dengan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum seni gerak di PAUD serta penguatan kompetensi pedagogis mahasiswa. Penelitian ini direkomendasikan untuk dieksplorasi lebih lanjut dalam konteks berbeda atau dengan audiens anak langsung untuk mengukur efek optimalisasi karakter.
IMPLEMENTASI MODEL BLENDED LEARNING PADA MATA PELAJARAN IPS DI SD INPRES 12/79 MACANANG Imran, Fitrya Ali; S, Syahriana
EDUCHILD (Journal of Early Childhood Education) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30863/educhild.v3i2.5446

Abstract

This paper discusses "Implementation of the Blended Learning Model in Social Studies Subjects at SD Inpres 12/79 Macanang". There are two sub-problems studied in this thesis, namely the implementation of the Blended Learning model in social studies subjects and the obstacles encountered in implementing the Blended Learning model in social studies subjects at SD Inpres 12/79 Macanang. To obtain answers to these problems, the authors used qualitative research with a type of phenomenology. The data collection techniques used were observation, interviews and documentation. Meanwhile, the data analysis technique used is data reduction, data display and conclusion drawing/verification. The research results show that; 1) the implementation of the Blended Learning model for social studies subjects at SD Inpres 12/79 Macanang is carried out in three stages, namely the planning stage, the implementation stage and the evaluation stage. 2) the obstacles encountered in implementing the Blended Learning model in social studies subjects at SD Inpres 12/79 Macanang, namely the use of internet data, sometimes there are students who cannot afford to buy internet data so that learning is carried out hampered and there are still students who do not have the the name is a cellphone or cell phone which is also an obstacle for students and educators in online learning. Meanwhile, in face-to-face learning, sometimes there are students who forget about health protocols, such as forgetting to wear masks.