Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PEMBUATAN BENDA UJI BASE-ISOLATION UNTUK RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA Novianti Novianti; Susy Widhiyanti; Pariatmono Sukamdo
Rekayasa Sipil Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk meredam getaran yang ditimbulkan gempa pada struktur, salah satunya adalah dengan menggunakan base isolation yang terletak antara struktur bawah dan atas. Pada tulisan ini, dibahas tentang pembuatan base isolation di laboratorium. Base isolation yang dibuat dimaksudkan untuk digunakan pada bangunan sederhana berlantai dua. Pembahasan dimulai dengan meninjau sistem pemasangan base isolation pada bangunan dan bagaimana secara umum perilaku bangunan berubah dengan dipasangnya base isolation tersebut. Selanjutnya dijelaskan pula bagian-bagian penting dari suatu base isolation beserta peran dan perilaku dari masing-masing bagian-bagian tersebut. Perumusan dan perhitungan dalam merancang suatu base isolation juga dibahas setelah diketahui beban yang akan diterima oleh base isolation tersebut. Proses perancangan juga dilakukan terhadap cetakan base isolation.
Pengembangan Spektra Respon Elastis Gempa Mamuju Sebagai Rekomendasi Spektra Respon Untuk Bangunan Gedung di Indonesia Mirna Kristiyanto; Sigit Pramono; Pariatmono Pariatmono; Robby Wallansha
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.973 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i2.6363

Abstract

Wilayah Indonesia memiliki potensi aktivitas seismik yang sangat tinggi dan rawan terhadap bahaya gempa. Saat ini Perencanaan bangunan tahan gempa di Indonesia masih menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pada revisi SNI 1726-2019 yang mengacu pada American Society of Civil Engineers (ASCE) 7 tahun 2016, metode pembuatan grafik respon spektra masih memiliki kesamaan, yaitu dengan menentukan nilai PGA (Peak Ground Acceleration) berdasarkan peta percepatan spektrum respons gempa maksimum yang dipertimbangkan berbasis pada risiko (MCER) dengan redaman 5% dan kriteria 1% kemungkinan bangunan runtuh dalam 50 tahun. Dalam penelitian ini akan melakukan pengembangan elastis respon spektra dengan sistem derajat kebebasan tunggal berdasarkan metode Newmark untuk menganalisis tingkat kerawanan gempa Mamuju 2021 di stasiun MMSN kelas situ tanah sedang SD dibandingkan dengan respon spektra berdasarkan metode pendekatan SNI 1726-2019. Nilai spektra respons percepatan tertinggi di stasiun MMSN adalah komponen HNE dengan nilai PSA sekitar 0.292 g pada periode 0.65 detik. Kurva spektra respons percepatan dari rekaman gempa MMSN berada jauh dibawah spektra respons desain sesuai SNI 1726-2019. Kata Kunci: respon spektra; analisa riwayat waktu; dinamika struktur; penskalaan gempa; SNI 1729:2019
Measurement of Geometric Variations of a Railway Truss Bridge (Case Study: BH77 Railway Bridge) Anindhya Mustika Larasati; Pariatmono; Erlangga Rizqi F; Mawardi Amin; Resmi Bestari M; Dimas Aryo S; Mulyadi Sinung H; Dwi Agus P; Wimpie Agoeng N. A; Thiya Fiantika; Emeralda Insani. N. S. P. J. D. S. P
Majalah Ilmiah Pengkajian Industri Vol. 16 No. 1 (2022): Majalah Ilmiah Pengkajian Industri
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/mipi.v16i1.5177

Abstract

Monitoring the condition of the railway track on a regular basis needs to be carried out regularly to minimize risk. One of the causes of the decrease in the strength of the bridge structure can be caused by changes in cross-sectional dimensions. The existing dimensions of the bridge structure need to be known because they will affect the steel frame profile area, where the steel frame area will affect the size or the small value of the deflection and stress of the bridge structure. The dimensions of the frame need to be seriously considered so that the stress and deflection values ??of the bridge structure remain constant. This research was conducted at the BH 77 Railway Bridge in Tegineneng, Tanjungkarang-Martapura, Lampung, which uses a type frame configuration warren truss. This location was chosen to fit the research that was also conducted by Badan Riset dan Inovasi Nasional (National Research and Innovation Agency of Indonesia). Based on the measurement of the dimensions of the bridge truss that has been carried out, the results show that there is a difference in the value of the circumference of each rod with the standard deviation for each similar profile. The biggest difference in the circumference of the truss is the profile of H beam, 113 and 115 rods with dimensions of 340×300×15×18, the initial circumference value is 1,280 mm, and after the measurement is 1,289.42 mm with a standard deviation value of 0.91 mm. while for the smallest difference, namely the H beam profile, rod 110 with dimensions of 340×310×39×21, the initial circumference value is 1,300 mm and after the measurement is 1,300.33 mm with a standard deviation value of 0.24 mm. Keyword: BH77 bridge, Bridge deflection, Bridge structure, Measurement geometry,  Railway bridges, Steel structure, Structural Health Monitoring System.
Simulasi Numerik Penggunaan Base Isolation Untuk Struktur Sederhana Tahan Gempa Faishol Arif; Pariatmono Pariatmono
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.689 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i3.6419

Abstract

Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah yang rawan gempa. Karena itu, gedung-gedung di Indonesia harus dibangun agar tahan gempa. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam perencanaan bangunan tahan gempa, telah dikembangkan suatu pendekatan desain alternatif untuk mengurangi resiko kerusakan bangunan akibat gempa, dan mampu mempertahankan integritas komponen struktural dan non-struktural terhadap gempa kuat. Salah satu konsep pendekatan perencanaan yang telah digunakan banyak orang adalah dengan menggunakan isolasi seismik atau isolasi dasar. Pada penelitian ini ingin mengetahui keunggulan sistem struktur terisolasi dibandingkan dengan sistem struktur konvensional serta dalam rangka menentukan isolasi dasar yang paling cocok untuk struktur sederhana rumah tinggal di Indonesia. Metode analisis yang dipakai yaitu dengan dengan memodelkan 4 model struktur yang terdiri dari 2 model struktur rumah 1 lantai baik dengan sistem konvensional maupun sistem terisolasi dan 2 model struktur rumah 3 lantai baik dengan sistem konvensional maupun sistem terisolasi dengan menggunakan perangkat lunak ETABS 18.0.2 dan berdasarkan SNI 1726-2019. Dari hasil penelitian diperoleh gaya geser dasar menggunakan sistem terisolasi berkurang sebesar 34.02% untuk arah x dan 33.53% untuk arah y dari sistem konvensioanl pada model rumah 1 lantai. Sedangkan untuk model rumah 3 lantai, diperoleh gaya geser dasar menggunakan sistem isolasi dasar berkurang sebesar 45.81% untuk arah x dan 42.03% untuk arah y dari sistem konvensional.
Strut and Ties Method Pierhead Jembatan Menentukan Rangka Batang dan Perbandingan Kekuatan Ties antara SNI dan AASHTO Fery Riswanto; Pariatmono Sukamdo
Konstruksia Vol 14, No 2 (2023): Jurnal Konstruksia Vol 14 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jk.14.2.149-162

Abstract

Perencanaan struktur dengan metode STM (Strut & Tie Method) dapat digunakan untuk mendekati perilaku struktur dengan tegangan geser yang besar dan mempunyai regangan non linier disepanjang penampang struktur. Menentukan rangka batang pada STM merupakan langkah yang iterative dan melibatkan proses trial and error. Hal ini membutuhkan upaya lebih dalam penggunaan, utamanya bagi pemula yang baru mengenal STM. Estimasi kekuatan rangka batang STM antara SNI 2847:2019 dan AASHTO LRFD 2017 mempunyai perbedaan. Penelitian ini berfokus pada cara menentukan rangka batang STM dan perbedaan estimasi kekuatan ties antara kedua standar. BESO2D digunakan dalam mempelajari alur gaya untuk menentukan rangka batang STM, kemudian estimasi kekuatan ties dilakukan dari hasil rangka batang tersebut. Studi kasus dilakukan pada pierhead jembatan kantilever ganda, dengan 3 spesimen yang dibedakan dengan variabel rasio lebar dan tinggi penampang . Hasil: (1) Dalam mendalami alur gaya dari beban ke tumpuan dengan BESO2D pada pierhead kantilever ganda, usulan rangka batang dapat dilihat pada tulisan ini. (2) Estimasi kekuatan ties yang didasarkan pada SNI 2847:2019 dan AASHTO LRFD 2017 mempunyai kemiripan. Hasil desain tulangan ties, AASHTO LRFD 2017 lebih efisien dalam penggunaan tulangan dibandingkan dengan SNI 2847:2019. Ini disebabkan oleh perbedaan faktor reduksi kekuatan, . Dalam SNI 2847:2019 faktor reduksi diambil 0.75 sedangkan pada AASHTO LRFD 2017 faktor reduksi kekuatan 0.9
STRENGTH OF REINFORCED CONCRETE DOUBLE CANTILEVER BRIDGE PIERHEAD – NUMERICAL STUDY STRUT – AND – TIE - METHOD (STM) SNI 2847:2019 Fery Riswanto; Pariatmono Sukamdo
Jurnal Infrastruktur Vol 9 No 2 (2023): Jurnal Infrastruktur
Publisher : Jurnal Infrastruktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/infrastruktur.v9i2.4819

Abstract

Shear stress in the double cantilever bridge pierhead due to geometric discontinuity and load transferred from girder to column have a potentially diagonal crack in the structure. Strut-and-Tie Method (STM) is suitable to design pierheads that resist large shear stress (Piscesa & Tavio, 2020). Today, STM provision has developed with rectangular deep beams (Varney et al., 2015). To expand the application of STM, knowing the behavior of a double cantilever bridge while transferring load, must be verified. The goal of this research is to verify the feasibility of STM SNI 2847:2019 chapter 23 to predict the strength. The structure has been designed using SNI 2847:2019 with 3 specimens (S1-0.3-1; S1-0.4-1.2; S1-0.5-1.5). To find the truss system in the STM using BESO2D programs. The truss system output is analyzed with ETABS. Knowing nominal capacity design with the provision STM SNI 2847:2019. Then investigated ultimate performance used Finite Element Method, FEM software (Abaqus). The finding result is (1) load distribution of each specimen was confirmed same between STM and FEM. (2) Strength ratio, in the specimens respectively at 1.118; 1.09; 1.293, with more than 1 mean design using STM is conservative. (3) Deflection occurs respectively at 12.88mm; 7.96mm; 2.048mm (allowable limit is 18.75mm).
Perbandingan Pengaruh LRB (Lead Rubber Bearing) Dan FPB (Friction Pendulum Bearing) Pada Perilaku Struktur Jembatan (Studi Kasus Jembatan Tol Layang Dalam Kota Jakarta) Dzikri Fauzan, Ahmad; Sukamdo, Pariatmono
Konstruksia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Konstruksia Vol 15 No. 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jk.15.1.97-111

Abstract

Penelitian ini membandingkan pengaruh penggunaan LRB (Lead Rubber Bearing) dan FPB (Friction Pendulum Bearing) terhadap perilaku struktur jembatan di Kota Jakarta dengan geometrik alinyemen berbelok pada salah satu ramp diarea interchange. Geometrik alinyemen jembatan telah terbukti memengaruhi kinerja struktur.  Pemilihan jenis perletakan jembatan seperti LRB dan FPB juga dapat meningkatkan kinerja struktur terutama saat terjadi gempa. Penelitian ini menggunakan analisis respon spektra dan analisis nonlinear riwayat waktu untuk memeriksa respon struktur seperti perpindahan, gaya geser dasar, gaya momen, dan gaya normal. Faktor-faktor seperti geometrik alinyemen, ketinggian pilar, serta jenis perletakan (LRB atau FPB) menjadi pertimbangan dalam penelitian ini. Desain dimensi LRB dan FPB mengikuti pedoman AASHTO Guide Specification for Seismic Isolation Design dan Technical Report MCEER-13-0010. Pemodelan dan analisis struktur menggunakan perangkat lunak CSI Bridge24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alinyemen berbelok pada jembatan berpengaruh signifikan terhadap respon struktur. Penggunaan LRB mengurangi nilai respon struktur perpindahan 81%, gaya geser dasar 52%, gaya momen 45%, dan gaya normal 8%. Sementara penggunaan FPB mengurangi nilai respon struktur perpindahan 84%, gaya geser dasar 58%, gaya momen 48%, dan gaya normal sebesar 10%. Secara keseluruhan, FPB lebih efektif daripada LRB dalam mengurangi nilai respon spektra, dengan pengurangan lebih besar, yaitu sekitar 2%-6%.
Pengaruh Batu Kuarsit dan Gamping Koral Terhadap Kehilangan Kuat Tekan Pada Beton Dalam Kondisi ASR Setiyadi, Syukur; Muin, Resmi Bestari; Sukamdo, Pariatmono
Konstruksia Vol 15, No 1 (2023): Jurnal Konstruksia Vol 15 No. 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jk.15.1.1-13

Abstract

Batu kuarsit dan Batu gamping wilayah pesisir Kab. Pati dan Kab. Blora belum termanfaatkan optimal sebagai agregat kasar [23]. Diteliti sifat fisik agregat kasar serta komposisi kimia, untuk kemudian digunakan dalam mendapatkan karakteristik beton agregat kasar kuarsit dan batu gamping. Pengujian 18 (delapan belas) silinder beton QS 70%:30% LS pada kondisi perawatan terendam air suhu 20°C untuk kuat tekan, kuat tarik belah, dan modulus elastisitas dilaksanakan. Dievaluasi komposisi kimia CaO agregat kasar dan hubungannya dengan kuat tekan beton. Pengujian Lost in Compressive Strength dilakukan atas 6 silinder beton dalam lingkungan ASR 80°C. Penggantian 30% agregat kasar kuarsit (QS) dengan batu gamping (LS) menunjukkan hasil kuat tekan 19.69 MPa dan 29.85 MPa untuk w/c rasio 0.61 dan 0.47 secara berurutan. komposisi kimia CaO (Calcium Oxide) QS dan LS dengan nilai 49.293% dan 54.462%, adapun kandungan SiO2 diperoleh 2.874% dan 1.517% untuk QS dan LS secara berurutan. Terdapat hubungan negatif lemah antara kandungan CaO agregat kasar terhadap kuat tekan beton dan density beton. Terjadi kehilangan kuat tekan (LICS) sebesar -4.7% pada beton w/c 0.61 dan 13.7% untuk beton w/c 0.47, mengindikasikan terdapat peningkatan kuat tekan 4.7% untuk beton w/c rasio 0.61 dan terjadi penurunan kuat tekan 13.7% untuk beton w/c rasio 0.47 pada umur 28 hari lingkungan ASR.
Fourier representation of geometrical imperfection for probabilistic buckling analysis Sukamdo, Pariatmono; Oktavia, Tuti; Muin, Resmi Bestari; Ontowirjo, Budianto; Ihsan, Mohammad; Sitompul, Sang Toga
SINERGI Vol 28, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/sinergi.2024.3.003

Abstract

This research studies the first part of the failure of a compression member structure due to buckling. This unstable equilibrium collapse, exposes brittle failure which occurs suddenly and therefore should be avoided wherever possible. Unavoidable geometric imperfections due to structural fabrication, will weaken the structure against buckling. The behavior of bar under compression will be closely examined by taking a set of geometric imperfection data synthesized from previously available from the measurement of conical shells. Therefore, the two-dimensional surface imperfection is converted into several one-dimensional imperfection with some probability properties. In order to obtain a comparison tool for different type of imperfections, Fourier analysis is used to convert the imperfection into coefficients of trigonometric function. By examining the coefficients, geometric imperfection patterns introduced by a certain fabrication process are able to be identified. The study successfully demonstrates the applicability of Fourier analysis in representing inherent geometric imperfections as an initial step for conducting probabilistic buckling analysis. Fourier analysis has shown its capability to simultaneously characterize imperfections in two crucial parameters - the magnitude and configuration of the imperfection.
Static and Dynamic Response of Curved Concrete Frame Structures (Case Study: Jakarta International Stadium) Sanjaya, Arif; Sukamdo, Pariatmono
Rekayasa Sipil Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jrs.2024.v13.i1.03

Abstract

An ideally designed building should be symmetrical to mitigate eccentricities between the center of mass and the center of stiffness during seismic events. However, suppose a special design is intended to enhance the aesthetics and visual appeal of a building. In that case, it should still be engineered to perform well in static and dynamic behaviours. Jakarta International Stadium is an example of a building with a circular shape, irregular vertical geometry, and lacks expansion joints. This research investigated the static and dynamic behaviours of four structural models: the entire building without expansion joints (model ND) andthe building with expansion joints (models D1, D2, and D3). The analysis included internal forces, mode shape analysis, structural displacements, inter-story drifts, and base shear forces. The analysis is conducted using the SAP2000 v22 software. The analysis results indicated that the models with expansion joints in Jakarta International Stadium generally exhibit several positive effects. These included reducing structural displacements, inter-story drifts, internal forces, and base shear forces. Furthermore, all modalities remain within the standard limits SNI 1726-2019 set.