Pemerintah telah mengatur dan melegalkan sistem kompensasi dan tunjangan melalui peraturan yang berlaku dan telah disahkan secara nasional. Namun, sektor publik perlu mempertimbangkan faktor non-moneter lainnya untuk meningkatkan kinerja karyawan, seperti employee involvement, public service motivation, affective commitment, dan perceived organizational performance. Kuesioner penelitian ini disebarkan kepada pegawai sektor publik di suatu instansi pemerintah Indonesia sejumlah 157 responden, berisi pertanyaan tertutup menggunakan skala Likert enam poin, dengan menggunakan platform survey online, dan diolah menggunakan metode Lisrel SEM. Studi ini dilakukan untuk mengklarifikasi pengaruh faktor tingkat individu yang sebelumnya telah diidentifikasi dan dibahas sebagai penentu penting kinerja organisasi. Manajer sektor publik harus mengetahui cara yang lebih baik untuk mengelola dan meningkatkan sikap karyawan dengan memperhatikan employee involvement, public service motivation, dan affective commitment untuk meningkatkan organizational performance. Hasil dari studi ini menyebutkan bahwa mengedepankan employee involvement di dalam praktik manajemen SDM di sektor publik memberikan dampak signifikan terhadap affective commitment serta perceived organizational performance. Akan tetapi, dalam studi ini, peran public service motivation tidak menjadi prediktor baik kepada affective commitment maupun perceived organizational performance, yang mana hasil ini cukup kontradiktif dengan beberapa temuan dari penelitian sebelumnya.