Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANKAI SITELU: KOREOGRAFI TERINSPIRASI DARI SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT KARO DAMANIK, DESY WULAN PITA SARI
Pixel :Jurnal Ilmiah Komputer Grafis Vol 16 No 2 (2023): Vol 16 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Komputer Grafis
Publisher : UNIVERSITAS STEKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pixel.v16i2.1431

Abstract

Ankai sitelu is taken from the Batak Karo language, the word ankai means understanding and sitelu which means sitiga. If these three words are interpreted, they mean a dance that originates from understanding rakut sitelu. " ankai sitelu" is a dance work inspired by the Batak Karo kinship system, namely rakut sitelu. Rakut sitelu consists of sukut, kalimbubu, and anak beru. Sukut is the party who is the host in a traditional or ritual ceremony, kalimbubu is the party who is highly respected because he is considered to be the representative of dibata (god) on earth who gives tendi and blood, while anak beru is the party who does the sukut work in traditional ceremonies and rituals. This work takes the essence of balance in the rakut sitelu system with traditional karo dance movement patterns which are developed according to broader teba movement intensity, volume, level and time. Ankai Sitelu's work is a group choreography consisting of three female dancers, a total of three dancers who will be composed in a large group and small group composition by paying attention to the composition of the parts. The number of three dancers is analogous to three social positions in the Rakut Sitelu kinship system. This work uses the exploration method as an initial part in developing the creativity of the creation process, improvisation to find movements by chance or spontaneously, composition to arrange the movements that have been obtained, as well as periodic corrective evaluation of the process. This work is expected to provide information about the meaning and values contained in Rakut Sitelu. Keywords: Rakut sitelu, balance, Karo Batak tradition
ANKAI SITELU: KOREOGRAFI TERINSPIRASI DARI SISTEM KEKERABATAN PADA MASYARAKAT KARO DAMANIK, DESY WULAN PITA SARI
Pixel :Jurnal Ilmiah Komputer Grafis Vol. 16 No. 2 (2023): Pixel :Jurnal Ilmiah Komputer Grafis dan Ilmu Komputer
Publisher : UNIVERSITAS STEKOM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/pixel.v16i2.1431

Abstract

Ankai sitelu is taken from the Batak Karo language, the word ankai means understanding and sitelu which means sitiga. If these three words are interpreted, they mean a dance that originates from understanding rakut sitelu. " ankai sitelu" is a dance work inspired by the Batak Karo kinship system, namely rakut sitelu. Rakut sitelu consists of sukut, kalimbubu, and anak beru. Sukut is the party who is the host in a traditional or ritual ceremony, kalimbubu is the party who is highly respected because he is considered to be the representative of dibata (god) on earth who gives tendi and blood, while anak beru is the party who does the sukut work in traditional ceremonies and rituals. This work takes the essence of balance in the rakut sitelu system with traditional karo dance movement patterns which are developed according to broader teba movement intensity, volume, level and time. Ankai Sitelu's work is a group choreography consisting of three female dancers, a total of three dancers who will be composed in a large group and small group composition by paying attention to the composition of the parts. The number of three dancers is analogous to three social positions in the Rakut Sitelu kinship system. This work uses the exploration method as an initial part in developing the creativity of the creation process, improvisation to find movements by chance or spontaneously, composition to arrange the movements that have been obtained, as well as periodic corrective evaluation of the process. This work is expected to provide information about the meaning and values contained in Rakut Sitelu. Keywords: Rakut sitelu, balance, Karo Batak tradition
Analisis Struktural Tari Dadara Boto: Bentuk, Makna Simbolik, dan Nilai Budaya Pujiyarti, Wulan; Damanik, Desy Wulan Pita Sari
IRAMA Vol 7, No 2 (2025): August
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/irama.v7i2.86519

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur penyajian dan nilai budaya Tari Dadara Boto, salah satu bentuk tari kreasi baru yang berkembang di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian sekunder melalui pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data diperoleh dari studi literatur, analisis media, dan observasi dokumentasi pertunjukan. Analisis difokuskan pada elemen gerak, iringan musik, tata busana, tata rias, pola lantai, serta simbolisasi makna yang terkandung dalam tarian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Dadara Boto memiliki struktur gerak yang halus, berulang, dan terukur, dengan pola lantai horizontal, diagonal, segitiga, dan melingkar. Iringan musik menggunakan alat musik tradisional Sumbawa, seperti gendang, gong, dan serunai, yang menciptakan suasana sakral sekaligus dinamis. Tata busana dan rias menampilkan identitas lokal melalui kostum adat dan aksesoris khas. Kesimpulannya, Tari Dadara Boto tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pewarisan budaya, pelestarian keterampilan tradisional, serta penguatan identitas etnis Samawa.
GUBANG: KESENIAN DAN IDENTITAS KULTURAL MASYARAKAT ASAHAN: GUBANG: ARTS AND CULTURAL IDENTITY OF THE ASAHAN COMMUNITY Damanik, Desy Wulan Pita Sari
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 2 No. 2 (2023): DESEMBER-JANUARI TAHUN 2023
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v2i2.856

Abstract

Penelitian ini berjudul “Gubang: Kesenian dan Identitas Kultural Masyarakat Asahan” membahas kesenian terutama tari menjadi sebuah identitas budaya dalam masyarakat Asahan di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan teori sosial budaya yang dikemukakan oleh Raymond Williams terdiri dari 3 komponen yaitu, institutions,content dan effects. Dalam teori ini akan dimunculkan rumusan masalah yaitu: Siapa yang memelihara? Apa saja aspek yang menjadikan Identitas? Apa yang diharapkan ketika menjadi identitas. Tujuan penelitian in dapat mendeskripsikan bagaimana tari Gubang menjadi Identitas budaya masyarakat Asahan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan pendekatan sosiologi, buku Referensi yang mengacu pada pendekatan Y Sumandiyo Hadi dengan buku berjudul Sosiologi tari. Dengan demikian penelitian ini dapat mengetahui makna dari tari Gubang sehingga dijadikan identitas budaya dan mengetahui respon masyarakat yang sudah mulai sadar untuk melastarikan tari tradisional dengan seringnya tari dipertunjukan dalam upacara adat. Dengan adanya identitas bisa membangun kesadaran lebih tinggi lagi dan dapat dilihat dari beberapa lembaga pendukung kesenian. Melalui studi ini peneliti menganalisis dan mendeskripsikan tari Gubang sebagai identitas sehingga masyarakat Asahan lebih mengembangkan identitas agar dikenal masyarakat luas. Urgensi Penelitian ini adalah pertama Tari Gubang merupakan warisan budaya tak benda tahun 2017 dari Sumatera Utara yang akan tetap dilestaraikan dan dialihgenerasikan, jika mengetahui nilai-nilai yang terkandung dan faktor penting pembentukan identitas dari tari Gubang. Penelitian mengenai tari Gubang sebagai identitas sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman tertulis terhadap generasi-generasi baru di Sumatera Utara. Dengan tujuan penelitian untuk Menjelaskan faktor kesenian Gubang sebagai identitas budaya masyarakat Asahan dan Menunjukan nilai-nilai dari tari Gubang sehingga menjadi identitas Kabupaten Asahan.
Bentuk Penyajian Tari Barapan Kebo di Kabupaten Sumbawa: Presentation Form of Barapan Kebo Dance in Sumbawa Regency Damanik, Desy Wulan Pita Sari
AUFKLARUNG: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 4 No. 4 (2025): APRIL-MEI TAHUN 2025
Publisher : Education and Talent Development Center of Indonesia (ETDC Indonesia).

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51574/aufklarung.v4i4.3595

Abstract

Tari Barapan Kebo merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Tarian ini merupakan representasi artistik dari tradisi pacuan kerbau (Barapan Kebo), kesenian ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat agraris Sumbawa. Tradisi tersebut mengandung nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual yang kemudian dituangkan ke dalam bentuk tari sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bentuk penyajian Tari Barapan Kebo dengan menggunakan pendekatan koreografi guna mengidentifikasi dan memahami elemen-elemen penyusun tari serta hubungan antarunsur yang membentuk makna pertunjukan secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode deskriptif analisis, data yang digunakan bersifat sekunder, diperoleh melalui studi pustaka, dokumen resmi, media daring, dan arsip budaya lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Barapan Kebo memuat struktur naratif yang terbagi ke dalam tiga bagian: pembukaan, inti, dan penutupan, masing-masing merepresentasikan aspek kehidupan masyarakat agraris. Tari ini tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga alat pelestarian identitas budaya lokal.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Barapan Kebo memiliki struktur gerak yang menggambarkan dinamika pacuan kerbau di sawah berlumpur, yang diinterpretasikan dalam gerakan enerjik dan ritmis. Musik pengiring menggunakan alat musik tradisional khas Sumbawa seperti gendang dan gong, menciptakan suasana semarak dan kompetitif. Tata busana dan properti menggambarkan identitas lokal dan memperkuat nilai simbolik dalam pertunjukan. Secara keseluruhan, struktur Tari Barapan Kebo membentuk sebuah narasi budaya yang sarat makna, seperti semangat kerja keras, kolaborasi antara manusia dan alam, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.
AGROLANCE: REPRESENTATION OF GROWTH BALANCE OF TOMATO PLANTS IN DRY LAND IN THE CONTEXT OF A DANCE WORK Damanik, Desy Wulan Pita Sari; Alfassabiq Khairi
International Journal of Educational Research Excellence (IJERE) Vol. 2 No. 2 (2023): July-December
Publisher : PT Inovasi Pratama Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55299/ijere.v2i2.671

Abstract

Agrolance dance work is representation of research results entitled " Combination of Bio-Organo- Minirel Fertilizers on Optimizing the Growth and Production of Tomatoes (Salanum Lycopersicum) In Dryland Environment " (2023) by Alfassabiq Khairi in the journal Agricultural Sciences which is research and concept ideas from this work. Through this creative study, the analogy that appears in each part of Agrolance's work is described to show the growth balance of tomato plants and fertilizer on dry land on the bodies of beginner dancers which is answered based on the experiences of the dancers' bodies through several weeks of experimentation to see the results of their bodies. This research also provides insight into interdisciplinary research in dance and science agriculture . These findings have important implications in today's arts and agriculture context, which faces challenges in creating inclusive spaces, scientific collaboration, and discovering experimental results. This research uses a case study method with a choreographic approach. Using a qualitative descriptive research method means getting data qualitatively, then writing it descriptively. The author, as the main instrument in this research, collected data by means of participant observation, unstructured interviews, and through dance work documents. In this work, the dancer is analogous to dry land, the movements produced by the dancer are the results of the tomato plant, organic fertilizer is consumption and daily activities carried out, and inorganic fertilizer is body exercise, taste exercise, bodily experience given by the choreographer to the dancer. The creation method in this work uses the exploration method as the initial part in developing the creativity of the creation process, improvisation to find movements by chance or spontaneously, composition to arrange the movements that have been obtained, as well as periodic corrective evaluation of the process.