Abstract
Salah satu faktor penentu dalam kesuksesan suatu organisasi adalah
kapasitas, kapabilitas dan akseptabilitas pemimpin. Teori Path Goal salah satu teori yang aplikabel dan sesuai untuk
diterapkan dalam organisasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sampang.
Ada 4 (empat) katagori yang dapat diamati sekaligus diterapkan kepada bawahan
yaitu: (1) kepemimpinan directive;
(2) kepemimpinan supportive; (3)
kepemimpinan partisipative serta (4)
kepemimpinan yang berorientasi pada achievement..
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap segenap fenomena dan
peristiwa yang terjadi sehubungan dengan penerapan kepemimpinan yang
berorientasi path goal di Kantor
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dengan rincian fokus (1) pelaksanaan
kepemimpinan path goal, (2) disiplin
kerja setelah diterapkannya teknik kepemimpinan path
goal, (3) faktor penghambat yang dihadapi dalam rangka pelaksanaan
kepemimpinan path goal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data
menggunakan, (1) wawancara, (2) observasi dan (3) dokumentasi. Sumber data
adalah ; (1) unsur manusia, dengan informan Kepala Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, Kepala Bagian Tata Usaha, para Kepala Sub Dinas ( Kasubdin) dan
para Kepala Seksi/Kepala Sub Bagian dan beberapa pegawai, dan unsur non manusia
berupa dokumentasi yang relevan. Data yang diperoleh dianalisis secara
kualitatif, dengan cara (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3)
verifikasi.
Sesuai fokus
penelitian, temuan-temuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut: (1)
aplikasi kepemimpinan path goal
diketahui bahwa penerapan kepemimpinan direktif, supportif, partisipatif, dan
kepemimpinan yang berorientasi pada achievement
(prestasi), dilakukan oleh Kepala Dinas dan para unsur pimpinan pada level di
bawahnya dengan baik, (2) disiplin kerja pegawai Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Sampang meningkat, disebabkan karena contoh keteladanan
dari para pemimpinnya, adanya dukungan dalam meningkatkan kepuasan kerja dan
pelaksanaan kerja yang efektif, karena
para pegawai juga dilibatkan dalam membuat suatu keputusan penting; (3)
kepemimpinan direktif mengalami hambatan bagi pegawai yang berpengalaman serta
latar belakang pendidikan yang tinggi, penerapan kepemimpinan supportif
mengalami hambatan karena Kepala Dinas
sulit menentukan imbalan apa yang pantas untuk diberikan kepada pegawai
yang berprestasi, kendala penerapan kepemimpinan partisipatif, karena tidak
semua pegawai mempunyai kemampuan untuk melakukannya, sedangkan hambatan untuk
kepemimpinan yang berorientasi achievement
(prestasi), adalah wewenang untuk memberikan reward dan punishment berada di
tangan Bupati.