This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Humam Abubakar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penyair Abu Nuwas, Selayang Pandang Humam Abubakar
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.306 KB) | DOI: 10.22146/jh.1985

Abstract

Syauqi Dlaif, seorang ahli kesusasteraan Arab telah memperiodesasikan kesusasteraan Arab ke dalam empat periode. Pertama, kesusasteraan Arab masa Jahiliyah, kedua, kesusasteraan Arab masa Islam, ketiga, kesusasteraan Arab masa Abbasiyah I, dan ke empat, kesusasteraan Arab masa Abbasiyah II. Masing-masing periode diwarnai dengan lahirnya penyair-penyair terkenal yang mampu membawa kesusasteraan Arab ke jenjang yang cukup terhormat di tengah-tengah kesusasteraan dunia pada waktu itu. Berkenaan dengan hal ini, Toha Husain dalam bukunya yang berjudul Min Haditsis Syi'rl wan Netsri halaman 17 mengatakan bahwa sastra Arab, baik prosa maupun puisi, tidak dapat dikatakan ketinggalan apabila dibandingkan dengan sastra-sastra dunia padawaktu itu, yakni sastra Yunani, sastra Romawi, sastra Latin, dan sastra Persia. Nama Abu Nuwas telah dikenal secara luas oleh bangsa Indonesia, paling tidak sejak Nur Sutan Iskandar menerjemahkan buku berbahasa Arab milik Koninklijk Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wettenschappen atau vayasan Lembaga Kebudayaan Indonesia pada tahun 1922.
SEKILAS TENTANG ASAL-USUL HURUF ARAB DAN SENI KALIGRAFI DI INDONESIA Humam Abubakar
Humaniora No 2 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.07 KB) | DOI: 10.22146/jh.2093

Abstract

Seni kaligrafi Arab di Indonesia akhir-akhir ini nampak semakin berkembang dengan pesat, berbeda sekali dengan perkembangan seni kaligrafi yang lain. Sebagai dampak dari adanva perbedaan tersebut ialah, jika kita mendengar istilah 'kaligrafi", maka yang terlintas dalam benak kita adalah sebentuk tulisan Arab yang ditulis dengan gaya sedemikian rupa, sehingga tulisan tersebut memiliki keindahan yang bernilai seni dan sedap dipandang mata. Nampaknya aspek 'kearaban' memang cukup dominan dalam seni kaligrafi, hingga dapat mengubah pandangan masvarakat bahwa yang disebut dengan 'kaligrafi' adalah segala sesuatu yang bersangkut-paut dengan huruf Arab. Padahal, kaligrafi memiliki pengertian yang bersifat umum, bisa Arab, Cina, Latin, Ibrani, Jawa dan sebagainya. Timbulnya salah pengertian tersebut sangat mungkin disebabkan oleh karena perkembangan seni kaligrafi Arab cukup mendapatkan posisi yang sangat baik sebagaimana yang disebutkan di atas.