Dewi, Juliani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Procalcitonin sebagai Marker Infeksi Dewi, Juliani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.908 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i7.649

Abstract

Diagnosis infeksi bakteri dapat terlambat bila menunggu hasil kultur mikrobiologi. Marker-marker seperti jumlah lekosit, CRP masih belum memastikan banyak kasus infeksi, bahkan sepsis. Procalcitonin menjadi marker infeksi yang cukup menjanjikan. Kadar procalcitonin efektif untuk pedoman diagnosis, prediksi penyakit, dan efikasi terapi pada berbagai populasi, termasuk bayi, dewasa, dan lanjut usia dengan berbagai lokasi infeksi. Kadar procalcitonin dapat menjadi dasar pemberian dan menilai efikasi terapi antibiotika.Delayed diagnosis of bacterial infection may be caused by delayed microbiology culture results. Infection markers, like leucocyte count and CRP, did not meet the expectations, even in sepsis cases. An ideal biomarker can determine bacterial or non bacterial inflammation as early as possible, and provide information on clinical conditions and prognosis. Procalcitonin can be a promising infection marker, and as a basis for evaluation of antibiotics efficacy.
KL-6/MUC-1 sebagai Penanda Penyakit Paru Interstisial Dewi, Juliani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.296 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i1.158

Abstract

Penyakit paru interstisial ditandai dengan inflamasi dan fibrosis interstitium paru, yang merupakan kerusakan dan/atau regenerasi pneumosit tipe II. Diagnosisnya membutuhkan HRCT (high resolution computed tomography), bronkoskopi, dan/atau biopsi paru yang cukup invasif. Krebs Von De Lungen-6 (KL-6), glikoprotein musinous dengan berat molekul 200 kD, yang disekresi oleh pneumosit tipe II dan sel-sel epitel bronkiolar sangat menjanjikan untuk dijadikan marker yang potensial dan kurang invasif bagi kelainan paru interstitial ini.