Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sepsis Neonatorum Awitan Dini -, Anastasia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.879 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i11.703

Abstract

Sepsis awitan dini tetap menjadi salah satu penyebab paling umum morbiditas dan mortalitas neonatal pada populasi prematur. Identifikasi neonatus berisiko untuk sepsis awitan dini sering didasarkan pada gabungan faktor risiko perinatal yang tidak sensitif maupun spesifik. Pengobatan optimal bayi dengan dugaan awal sepsis adalah agen antimikroba spektrum luas (ampisilin dan aminoglikosida). Setelah patogen diidentifikasi, terapi antimikroba harus disesuaikan. Laporan kasus bayi lahir preterm dgn usia gestasi 25-26 minggu. BBL 1310 gram.Bayi menunjukkan gejala sepsis awitan dini dengan gangguan koagulasi intravaskular diseminata dan trombositopeni. Pemberian antibiotik dimulai dengan antibiotik empiris dan dilanjutkan sesuai hasil kultur. Bayi mengalami perbaikan dan pada kontrol menunjukkan perkembangan yang baik.Early-onset sepsis remains one of the most common causes of neonatal morbidity and mortality among preterm population. The identification of neonates at risk for early-onset sepsis is frequently based on a constellation of perinatal risk factors that are neither sensitive nor specific; and diagnostic tests for neonatal sepsis have a poor positive predictive accuracy. The optimal treatment of infants with suspected early-onset sepsis is broad-spectrum antimicrobial agents (ampicillin and an aminoglycoside). Once a pathogen is identified, antimicrobial therapy should be specified. Antimicrobial therapy should be discontinued after 48 hours if the probability of sepsis is low. This is a case report of preterm infant, gestational age of 25-26 weeks with body weight 1310 grams. The baby showed symptoms of early onset sepsis wih DIC (Disseminated Intravascular Coagulation). Therapy started with empirical antibiotic and continued according to culture results. The baby improved and follow up showed good growth.
Perdarahan Subdural terkait Defisiensi Kompleks Protrombin Didapat -, Anastasia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 6 (2016): Metabolik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.609 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i6.73

Abstract

Defisiensi kompleks protrombin dapat disebabkan kekurangan vitamin K dan penyakit hati. Faktor risiko VKDB (Vitamin K Deficiency Bleeding) antara lain obat yang dikonsumsi ibu (antikonvulsan, antibiotik, antituberkulosis), rendahnya bakteri usus yang memproduksi vitamin K, asupan vitamin K rendah, gangguan hati, dan sindrom malabsorbsi. Untuk mencegah VKDB, 1 mg vitamin K1 profilaksis diberikan intramuskuler pada semua bayi baru lahir. Vitamin K1 dan fresh frozen plasma (FFP) dapat diindikasikan untuk terapi VKDB. Kasus bayi lelaki usia 45 hari dengan penurunan kesadaran, muntah, dan tampak pucat. Proses kelahiran dibantu oleh dukun beranak, dan setelah lahir tidak diberi vitamin K. Temuan laboratorium menunjukkan anemia dan PT dan APTT memanjang. CT scan menunjukkan perdarahan subdural ringan. Pasien dirawat secara konservatif dengan FFP dan vitamin K. Kondisi klinis membaik, tidak ada kelainan yang ditemukan saat pemeriksaan 1 bulan kemudian.