Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya minat terhadap pendekatan spiritual Islam dalam penyembuhan gangguan kejiwaan, khususnya melalui praktik yang berlandaskan pada ajaran Al-Qur’an. Salah satu fenomena menarik terdapat di Pondok Tetirah Dzikir, sebuah lembaga rehabilitasi spiritual di bawah naungan Terkat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang mengintegrasikan ajaran tasawuf dengan terapi kejiwaan. Keunikan pondok ini terletak pada penggunaan metode tazkiyatun nafs proses penyucian jiwa melalui dzikir, shalat, dan amaliyah lainnya—sebagai sarana utama penyembuhan bagi santri yang mengalami gangguan kejiwaan dan kecanduan NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keterkaitan antara Al-Qur’an, manusia, dan proses penyembuhan gangguan kejiwaan melalui praktik tazkiyatun nafs yang berlandaskan pada ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis serta pendekatan fenomenologis-struktural dan etnografis. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi; dengan subjek penelitian terdiri atas para santri bina dan pengasuh Pondok Tetirah Dzikir. Penelitian ini menggunakan teori kitab suci Wilfried Cantwell Smith, yang menjelaskan hubungan dinamis antara teks kitab suci dan kehadiran manusia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam proses penyembuhan gangguan kejiwaan, muncul fenomena dorongan mistik (mystical force) dari Al-Qur’an yang memengaruhi kesadaran para santri. Proses ini berlangsung melalui amaliyah-amaliyah yang dijalankan secara aktif maupun pasif, sehingga Al-Qur’an berperan bukan hanya sebagai teks yang dibaca, tetapi sebagai kekuatan spiritual yang hidup dan bekerja dalam diri manusia.