Jacobus, Danny Jaya
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Bisphenol A (BPA) adalah Endocrine Disrupture Chemicals (EDC) yang Berperan sebagai Agen Diabetogenik Waldy Yudha Perdana,* Danny Jaya Jacobus** Perdana, Waldy Yudha; Jacobus, Danny Jaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.789 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i9.867

Abstract

Bisphenol-A merupakan bahan kimia yang luas digunakan di seluruh dunia pada wadah makanan dan minuman. BPA mempunyai dampak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup, antara lain karena sifatnya sebagai pengganggu fungsi endokrin (endocrine disrupture chemical (EDC) karena dapat berikatan dengan reseptor estrogen. Selain itu, BPA dicurigai juga dapat menyebabkan diabetes melitus. Artikel ini menganalisis efek BPA terhadap jaringan tubuh manusia dan peranannya sebagai agen diabetogenik.Bisphenol-A is a chemical mostly used in food and beverages container. BPA is deleterious for environment and living creatures, due to its characteristic as endocrine disruptor chemicals (EDC), altering endogenous estrogen function. BPA is also suspected as a diabetogenic agent. This review analyzes substantiated scientific evidence on the effects of BPA on human and its role as diabetogenic agent. 
Hepcidin dan Anemia Defi siensi Besi Perdana, Waldy Yudha; Jacobus, Danny Jaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.55 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i12.936

Abstract

Zat besi merupakan elemen penting di dalam tubuh. Zat besi berperan sebagai komponen enzim dan terlibat dalam berbagai proses metabolisme. Hepcidin adalah salah satu protein yang berperan meregulasi kadar zat besi di dalam darah. Kadar hepcidin dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi, salah satunya adalah rendahnya kadar besi di dalam tubuh. Dalam artikel ini akan dibahas kegunaan hepcidin untuk mendeteksi anemia defisiensi besi.Iron is an essential element in our body. Iron acts as component in several enzyme and responsible in numerous molecular complex for metabolic processes. Hepcidin is a protein which can regulate the level of circulating iron. The expression of hepcidin can be affected by several conditions, one of these is iron deficiency state. This review will discuss the importance of hepcidin for detection of iron deficiency anemia.
Pott’s Disease Jacobus, Danny Jaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i9.1107

Abstract

Pott’s Disease (PD) adalah infeksi Mycobacterium tuberculosis pada tulang belakang yang awalnya didahului oleh keluhan nyeri punggung, jika memberat dapat bermanifestasi defisit neurologis berupa paraplegia. Memastikan adanya infeksi primer tuberkulosis di paru-paru menjadi kunci diagnosis PD. Penatalaksanaan komprehensif dan multidisiplin sangat penting untuk menekan angka kejadian, angka kecacatan, serta morbiditas.Pott’s Disease (PD) is Mycobacterium tuberculosis infection that affect spine with chief complaints of back pain and may cause paraplegia. The key to diagnosis is to ensure the existence of primary tuberculosis infection in the lungs. Comprehensive and multidisciplinary management is essential to reduce the incidence, morbidity and disability. 
Diagnosis dan Manajemen Sindrom Sjogren Jacobus, Danny Jaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.059 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i5.1136

Abstract

Sindrom Sjogren (SS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin (kelenjar lakrimal dan saliva), dengan manifestasi klinis berupa keratokonjungtivitis sika (mata kering), xerostomia (mulut kering), dan gejala ekstraglandular (artritis, vaskulitis, disfagia, dan lainnya). Etiologi SS sampai saat ini masih belum diketahui. Sering terjadi missed diagnosis karena keluhan tidak spesifik. Pemaparan komprehensif mengenai sejarah, epidemiologi, etiologi, imunopatologi, patofisiologi, manifestasi klinis, manifestasi laboratorium, kriteria diagnosis, terapi, dan prognosis penting untuk praktisi medis.Sjogren's syndrome (SS) is an autoimmune disease that attacts the exocrine glands (lacrimal and salivary glands), clinically manifests as keratoconjunctivitis sicca (dry eye), xerostomia (dry mouth), and extraglandular symptoms (arthritis, vasculitis, dysphagia, etc.). The etiology is still unknown. Missed diagnosis often occurs because of non-specific complaints. Comprehensive presentation of history, epidemiology, etiology, immunopathology, pathophysiology, clinical manifestations, laboratory manifestations, diagnostic criteria, treatment, and prognosis is important for medical practitioners.
Irritable Bowel Syndrome (IBS) – Diagnosis dan Penatalaksanaan Jacobus, Danny Jaya
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 10 (2014): Hematologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.096 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i10.1094

Abstract

Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan sistem gastrointestinal yang ditandai dengan kembung dan perubahan pola defekasi (diare atau konstipasi). Perjalanan penyakit ini dipengaruhi faktor psikologis. Sering terjadi missed diagnosis karena keluhan bersifat non spesifik. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengeksklusi gangguan organik berat. Penatalaksanaan komprehensif secara farmakologis dan non-farmakologis dibutuhkan untuk mencapai tujuan terapi yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien.Irritable Bowel Syndrome (IBS) is a gastrointestinal disease with clinical symptoms of bloating sensation and change of bowel habit (diarrhea or constipation). The pathophysiology is affected by psychologic factor. Missed diagnosis occurs because of non specific complaints. Laboratory examination is needed to exclude severe organic disorder. Comprehensive pharmacologic and non-pharmacologic management are needed to reach goal of treatment and to improve patient’s quality of life.