Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Jenis Operasi dengan Angka Ketahanan Hidup Sepuluh-tahun Penderita Kanker Tiroid Diferensiasi Baik di RSUP Dr. M. Djamil, Padang -, Azamris
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.385 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v44i5.792

Abstract

Latar Belakang : Kanker tiroid merupakan keganasan endokrin tersering dan diperkirakan 1,1 % dari seluruh keganasan manusia, pertumbuhan dan perjalanan penyakitnys umumnya lambat, morbiditas dan mortalitas rendah, terutama pada kanker berdiferensiasi baik. Jenis tindakan bedah untuk kanker tiroid berdiferensiasi baik (KTD) masih kontroversial. Penelitian ini mencari hubungan jenis operasi dengan angka ketahanan hidup 10 tahun penderita kanker tiroid berdiferensiasi baik di RSUP Dr.M.Djamil Padang. Metode : Penelitian retrospektif pada penderita kanker tiroid di RSUP Dr.M.Djamil Padang dari tanggal 1 Januari 2004 sampaidengan 31 Desember 2013. Pengambilan data di bagian rekam medik, langsung pada pasien poliklinik bedah, melalui kunjungan rumah ataupun via telepon. Analisis data secara analitik komparatif, untuk mencari hubungan 2 variabel digunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil : Dari 62 sampel penelitian, 27 penderita termasuk kelompok risiko rendah. Masih terdapat perbedaan jenis operasi KTD kelompok risiko rendah. Pada jenis operasi yang lebih konservatif tidak ditemukan komplikasi operasi dengan perbedaan angka ketahanan hidup 10 tahun tidak bermakna dibandingkan tiroidektomi total. Background: Thyroid cancer is the most frequent endocrine malignancy, approximately 1,1% among all malignancies in human. Most thyroid cancers are slowly developing and progressing with low morbidity and mortality, mainly in well-differentiated cancer. Surgical treatment choices for well-differentiated thyroid cancer are still controversial. This study tried to find out relationship between type of surgeries and 10-year survival in well differentiated cancer patients in RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Method: This study is a retrospective study on data from thyroid cancer patients in RSUP Dr. M. Djamil Padang from January 1st 2004 until December 31st 2013. Data was collected from medical record, directly from patients in the clinic, home visit and by phone call. Comparative analysis was used to find correlation between two variables, chi square test was used with 95% accuracy. Result: From 62 individuals, 27 patients had low risk well-differentiated thyroid cancer. There are still some variations of surgery methods in low-risk well-differentiated thyroid cancer patients, No postsurgery complication in more conservative surgery; the 10-year survival rate isn't statistically different compared to total thyroidectomy.
Tumor Phyllodes -, Azamris
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 1 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.687 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i1.1173

Abstract

Tumor phyllodes merupakan keganasan payudara yang jarang ditemukan. Insidensnya hanya sekitar 0,3-0,9% dari seluruh tumor payudara. Manifestasi klinis tumor phyllodes umumnya berupa benjolan unilateral yang dapat diraba, tunggal, tidak nyeri. Terapi utama adalah pembedahan komplit. Peran radioterapi dan kemoterapi adjuvan masih kontroversial. Dilaporkan 8 kasus tumor phyllodes di rumah sakit Dr.M.Djamil Padang selama 2011-2012. Enam kasus (75%) varian jinak dan dua kasus (25%) varian borderline. Telah dilakukan terapi definitif pada tujuh pasien, satu pasien meninggal sebelum mendapat terapi definitif.Phyllodes tumor is a rare breast malignancy. The incidence is only about 0.3-0.9% of all breast tumors. Clinical manifestations consist of unilateral single palpable lump not accompanied by pain. Surgery is the main therapeutic modality. The role of radiotherapy and adjuvant chemotherapy are still controversial. Eight cases of phyllodes tumors was reported at Dr.M.Djamil Padang Hospital in 2011-2012. Six cases were benign variants and two cases were borderline variants. Definitive therapy has been performed in seven patients, one patient died before it was performed. 
Perbandingan Efektivitas Lama Pemakaian Drain Pasif untuk Mencegah Seroma Pasca-Modified Radical Mastectomy -, Azamris
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.716 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1036

Abstract

Pembedahan merupakan tindakan utama pada penderita karsinoma payudara, dengan pilihan utama modified radical mastectomy. Seroma merupakan masalah yang paling sering terjadi setelah tindakan mastektomi, dan paling sulit dicegah dibandingkan komplikasi lain. Penumpukan cairan ini akan memperlama masa rawat dan menambah biaya rawat. Untuk mengurangi terbentuknya seroma, dapat dipasang drain. Drainase dapat berupa suction drain atau drain pasif. Dilakukan penelitian prospektif terhadap 32 orang penderita karsinoma payudara yang menjalani modified radical mastectomy dari bulan Februari sampai Juli 2010. Penderita dibagi 2 kelompok, satu kelompok 16 penderita dengan drainase yang dilepas sesudah 4 hari, dan kelompok kedua drainase dilepas sesudah 8 hari. Jumlah seroma terakhir saat drainase dibuka rata-rata 15 mL pada yang dilepas cepat dan 4,06 mL pada yang dilepas lambat (t= 4,973; p=0,000). Semua seroma pasca-pelepasan drainase rata-rata kurang dari 50 mL. Disimpulkan bahwa efektifitas drainase pasif yang dilepas cepat dibandingkan dengan yang dilepas lambat tidak berbeda bermakna, sehingga lama rawat pasien dapat berkurang jika drainase dilepas cepat.Modified Radical Mastectomy is the treatment of choice for operable breast cancer. Seroma is the most frequent problem after mastectomy and difficult to prevent. This accumulation of liquid will prolong hospitalization and need extra cost. This problem is usually solved by drainage, either with suction drain or passive drain. A prospective trial has been conducted on 32 breast carcinoma patients who underwent a modified radical mastectomy from February until July 2010. The patients are divided into two groups, the first group consists of 16 patients whose drain was extracted after 4 days, the second group had their drains extracted after 8 days. Mean total seroma collected in the first group was 15 mL, and in the second group was 4,06 mL. (t= 4,973; p= 0,000). Seroma after drain extraction were less than 50 mL. No significant difference on the effectivity of extraction of drain after 4 days or after 8 days, and the length of stay could be shortened.