Lawrenti, Hastarita
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Penggunaan suplemen pada pasien kanker Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 2 (2015): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.275 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i2.1044

Abstract

Pada pasien kanker, anti-oksidan digunakan untuk membantu proses pemulihan dan mencegah rekurensi. Suplemen anti-oksidan harian mungkin aman dan efektif untuk meningkatkan respons terhadap kemoterapi dan memperbaiki kualitas hidup dengan menurunkan efek sampingnya. Sebaliknya, terdapat argumen yang menunjukkan penggunaan suplemen anti-oksidan selama kemoterapi mengganggu proses oksidatif DNA seluler dan membran sel yang penting untuk kerja obat. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat suplemen dan interaksinya dengan obat lain.Antioxidants are frequently used in cancer patients to enhance recovery process and to prevent recurrence. Daily antioxidants supplementation are probably safe and effective for enhancing response to therapy and to lessen side effects. But, there is also contra-argument that antioxidants interfere with the cellular and membrane oxidative process essential for drug acitivities. Further research is needed to elucidate the precise role of antioxidants in cancer therapy.
Perkembangan Terapi Kanker Prostat Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.148 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v46i8.450

Abstract

Kanker prostat termasuk keganasan yang paling sering dijumpai pada pria. Five-year survival rate untuk kanker prostat sangat tinggi. Sekitar 25-33% kanker prostat lokal yang diterapi dengan pembedahan dan radioterapi akan rekuren. Kanker prostat stadium lanjut dikategorikan menjadi non-metastatik, metastatik, dan kanker prostat resisten kastrasi. Terapi penurunan hormon androgen dan kemoterapi masih penting untuk kanker prostat stadium lanjut. Enzalutamide dan terapi terkait penurunan androgen, penghambat CYP17 abiraterone, memperbaiki radiographic progression free survival (rPFS) dan menunda saat dimulainya kemoterapi.Prostate cancer is the most common malignancy in men. The overall 5-year survival rate for prostate cancer is very high. Approximately 25-33% of the patients with localized prostate cancer treated with surgery and radiotherapy will experience recurrence. Advanced prostate cancer is categorized into non-metastatic, metastatic, and castration-resistant prostate cancer (CRPC). Androgen deprivation therapy (ADT) and chemotherapy remain important for advanced prostate cancer. One of the ADTs, enzalutamide and treatment are related to androgen reduction, CYP17 inhibitor abiraterone, improve rPFS and delay time to initiation of chemotherapy
Letrozole sebagai Terapi Lini Pertama Kanker Payudara Stadium Lokal Lanjut atau Metastatik Reseptor Hormon Positif Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 5 (2016): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.841 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i5.61

Abstract

Estrogen diketahui berperan memacu pertumbuhan dan survival sel epitelial payudara normal dan sel kanker payudara dengan berikatan dan mengaktivasi reseptor estrogen. Sel-sel kanker payudara yang mengekspresikan reseptor estrogen dijumpai pada sekitar 70% kanker payudara; jenis ini disebut kanker payudara reseptor estrogen atau reseptor hormon positif. Salah satu agen endokrin untuk terapi kanker payudara reseptor hormon positif adalah aromatase inhibitor. Letrozole termasuk aromatase inhibitor generasi ketiga yang menghambat enzim aromatase, yang mengubah androgen menjadi estrogen, pada wanita pasca-menopause. Letrozole superior dibandingkan tamoxifen sebagai terapi lini pertama pada wanita pasca-menopause dengan kanker payudara stadium lanjut reseptor hormon positif, dan efikasinya sebanding dengan aromatase inhibitor generasi ketiga lainnya sebagai terapi endokrin adjuvan pada wanita pasca menopause dengan kanker payudara stadium dini reseptor hormon positif. Letrozole juga ditoleransi dengan baik.
Perkembangan Imunoterapi untuk Kanker Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 8 (2018): Alopesia
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.652 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v45i8.634

Abstract

Imunoterapi untuk kanker ditujukan untuk memodulasi dan menggunakan sistem imun pasien dengan target sel kanker dibandingkan menggunakan modalitas terapi ekstrinsik. Imunoterapi untuk kanker ditujukan untuk mengaktivasi atau meningkatkan pengenalan oleh sistem imun dan penghancuran sel-sel kanker. Terdapat beberapa pendekatan imunoterapi seperti vaksin kanker, virus onkolitik, transfer sel adoptif, antibodi monoklonal penghambat CTLA-4, PD-1, dll. Beberapa jenis telah disetujui oleh US FDA untuk terapi kanker.Cancer immunotherapy means modulating and using patient’s immune system to target the cancer cells rather than using an extrinsic means of therapy. It is designed to activate or enhance the immune system’s recognition and killing of the cancer cells. Some immunotherapeutic approaches can be offered, such as cancer vaccine, oncolytic virus, adoptive cell transfer, monoclonal antibody blocking of cytotoxic T lymphocyte-associated protein 4 (CTLA-4), programmed cell death protein 1 (PD-1), etc. Some have been approved by US FDA for cancer therapy.
Hemofilia dan Perkembangan Terapinya Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.347 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1496

Abstract

Hemofilia A dan B adalah gangguan perdarahan yang diturunkan yang ditandai dengan defisiensi protein koagulasi faktor VIII dan IX. Terapi pengganti dengan faktor pembekuan (konsentrat faktor VIII atau IX dari plasma atau rekombinan) masih merupakan terapi hemofilia baik saat perdarahan maupun sebagai profilaksis. Terapi profilaksis merupakan terapi standar untuk pasien hemofilia berat karena dapat mencegah kerusakan sendi, menurunkan frekuensi perdarahan sendi dan lainnya, serta memperbaiki kualitas hidup. Keputusan memilih terapi harus berdasarkan pertimbangan medis dan klinis, dan bersifat individual.Hemophilia A and B are inherited bleeding disorders characterised by deficiency of coagulation protein factor VIII and IX, respectively. Replacement therapy with clotting factors (factor VIII or IX through plasma-derived or recombinant concentrate) is the mainstay of treatment at time of bleeding or as prophylactic based on individual needs. Prophylaxis treatment is standard treatment for patients with severe hemophilia as it prevents joint damage, reduces frequency of joint and other bleeding and improves quality of life. Choice of therapy should be based solely on medical and clinical considerations and individualized. 
Asparaginase untuk Terapi Leukemia Limfoblastik Akut pada Anak: Analisis Lawrenti, Hastarita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 3 (2025): Oftalmologi dan Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i3.1379

Abstract

Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most frequently diagnosed childhood malignancy. The five-year survival rate in high-income countries is higher than in low-income countries. Asparaginase remains the cornerstone of treatment in childhood ALL. There are several types of asparaginase available worldwide, including native E. coli asparaginase, pegasparaginase, Erwinia asparaginase, calaspargase pegol, and recombinant Erwinia asparaginase. Hypersensitivity reactions are the main complication related to asparaginase. The other concern is the development of anti-asparaginase antibodies which results in silent inactivation with no therapy benefit. Therapeutic drug monitoring is required in pediatric patients with ALL undergoing asparaginase therapy.