Surya Atmadja, Andika
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Indikasi Pembedahan pada Trauma Kapitis Surya Atmadja, Andika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.301 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.8

Abstract

Trauma merupakan penyebab terbanyak kematian pada usia di bawah 45 tahun dan lebih dari 50% merupakan trauma kapitis. Trauma kapitis merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan gangguan fisik dan mental yang kompleks. Meskipun demikian, tidak semua trauma kapitis memerlukan perawatan di rumah sakit, pencitraan dengan CT-scan, ataupun memerlukan tindakan pembedahan. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan mengenai indikasi bedah pada trauma kapitis.
Sindrom Nyeri Myofascial Surya Atmadja, Andika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.3 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i3.29

Abstract

Sindrom nyeri myofascial adalah sebuah kondisi nyeri baik akut maupun kronik dari otot ataupun fascia yang akan mempengaruhi sensorik, motorik, ataupun otonom; nyeri myofascial bisa bersifat aktif atau laten. Myofascial trigger points adalah suatu titik/tempat hiperiritabel berlokasi di struktur otot atau fascia yang menegang, jika ditekan dapat menyebabkan nyeri lokal atau menjalar. Prevalensinya sama antara laki-laki dan perempuan, terutama pada usia 30-60 tahun. Penyebab umum nyeri myofascial dapat berasal dari trauma langsung ataupun tidak langsung, kondisi patologis tulang belakang, paparan terhadap tegangan yang berulang dan kumulatif, atau posisi/postur tubuh yang tidak sesuai. Kriteria diagnosis sindrom nyeri myofascial yang paling sering digunakan adalah kriteria Simons, et al, (1999). Terapi farmakologi adalah OAINS, pelemas otot, anti-depresan, dan obat anestesi. Terapi non-farmakologi dapat dibedakan menjadi invasif dan non-invasif.