Angel Benny Wisan
SMF Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin, RSUD Bali Mandara, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Efek Samping Terapi Kortikosteroid Sistemik Jangka Panjang pada Pasien Lupus Erimatosus Sistemik dan Tatalaksana Dermatologi Putri, Joice Gunawan; Wisan, Angel Benny
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.8 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.356

Abstract

Kortikosteroid merupakan obat lini pertama pengobatan Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Namun penggunaan kortikosteroid sistemik jangka panjang mempunyai efek samping pada berbagai organ, termasuk kulit. Oleh karena itu perlu pemantauan agar dapat meminimalkan efek samping. Artikel ini membahas efek samping kortikosteroid sistemik jangka panjang pada pasien LES perempuan usia 25 tahun. Setelah mendapat terapi topikal selama 1 bulan terdapat perbaikan.Corticosteroids are the first-line drugs in the treatment of Systemic Lupus Erythematosus (SLE). But the long-term use of systemic corticosteroids has side effects on various organs including the skin. Long-term use of systemic corticosteroids needs monitoring to minimize side effects. This article will discuss the side effects of long-term corticosteroid use in 25-year-old female patients with SLE. Significant changes occurred after one month topical therapy.
Dermatosis Mengancam Jiwa: Sindrom Stevens-Johnson Diduga Akibat Methampyron Angel Benny Wisan; Felicia Aviana
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i8.272

Abstract

Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) merupakan salah satu dermatosis yang mengancam jiwa dan merupakan bagian dari nekrolisis epidermal (NE), ditandai dengan reaksi mukokutan akut disertai nekrosis luas dan pengelupasan epidermis serta epitel mukosa. Kasus. Laki-laki usia 20 tahun dengan keluhan timbul ruam-ruam kemerahan sejak 2 hari di wajah, menyebar ke leher, dada, perut, punggung, kedua tangan, dan skrotum; diikuti bibir bengkak dan gelembung yang pecah meninggalkan bekas kehitaman. Diduga keluhan muncul setelah pasien mengonsumsi methampyron. Pasien memiliki riwayat systemic lupus erythematosus (SLE) terkontrol. Status dermatologi didapatkan purpura disertai bula dinding kendur pada regio coli, thorax, manus dekstra dan sinistra, dan abdomen. Tanda Nikolsky (+). Pada regio skrotum terdapat bula dinding kendur multipel dan sebagian erosi. Di regio labialis terdapat krusta merah kehitaman multipel, tebal, sulit dilepas, batas irreguler, dan sebagian erosi. Pasien didiagnosis sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan mendapat terapi cairan, methylprednisolone, paracetamol, gentamycin, curcuma, cetirizine, triamcinolone acetonide, desoximetasone, dan chloramphenicol. Pada hari ke-10 perawatan, pasien mengalami perbaikan klinis dan diperbolehkan pulang. Stevens-Johnson syndrome (SJS) is one of the life-threatening dermatoses and a part of epidermal necrolysis (NE), characterized by mucocutaneous reaction, and followed by an extensive necrosis and detachment of epidermis and mucosal epithelium. A 20 year-old man complained of reddish rashes on the face since 2 days ago. The rashes widened and spread to the neck, body, stomach, back, both hands, and scrotum, followed by swollen lips and broken blisters that leave a blackish scar a day later. The symptoms were suspected to develop after taking methampyrone. The patient had a history of controlled Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Dermatology status showed purpura and flaccid blisters on the neck, body, back, both hands, and abdomen, Nikolsky sign (+). Multiple flaccid blisters and partial erosion in the scrotum. On the lips, there are multiple reddish-black crusts, thick, hard to remove, irregular border, and partial erosion. The patient was diagnosed with Stevens-Johnson syndrome (SJS) and given fluid therapy, methylprednisolone, paracetamol, gentamicin, curcuma, cetirizine, triamcinolone acetonide, desoximetasone, and chloramphenicol. On the 10th day of the treatment, the patient was clinically improved and was discharged.
Efek Samping Terapi Kortikosteroid Sistemik Jangka Panjang pada Pasien Lupus Erimatosus Sistemik dan Tatalaksana Dermatologi Joice Gunawan Putri; Angel Benny Wisan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 2 (2020): Infeksi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i2.282

Abstract

Kortikosteroid merupakan obat lini pertama pengobatan Lupus Eritematosus Sistemik (LES). Namun, penggunaan kortikosteroid sistemik jangka panjang mempunyai efek samping pada berbagai organ, termasuk kulit. Oleh karena itu, perlu pemantauan agar dapat meminimalkan efek samping. Artikel ini membahas efek samping kortikosteroid sistemik jangka panjang pada pasien LES perempuan usia 25 tahun. Setelah mendapat terapi topikal selama 1 bulan terdapat perbaikan. Corticosteroids are the first-line drugs in the treatment of Systemic Lupus Erythematosus (SLE). But the long-term use of systemic corticosteroids has side effects on various organs including the skin. Long-term use of systemic corticosteroids needs monitoring to minimize side effects. This article will discuss the side effects of long-term corticosteroid use in 25-year-old female patients with SLE. Significant changes occurred after one-month topical therapy.
Komplikasi Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET) Aribowo I Kadek; Angel Benny Wisan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 51 No 2 (2024): Dermatologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v51i2.876

Abstract

Stevens-Johnson syndrome (SJS) and toxic epidermal necrolysis (TEN) are life-threatening mucocutaneous reactions with severe skin involvement; may affect many internal organ systems with significant psychosocial complications. Several studies have documented physical complications associated with Stevens-Johnson syndrome and toxic epidermal necrolysis (TEN). SJS/TEN patients require multidisciplinary care to deal with psychological complications and reduced quality of life.
Efikasi Suplementasi Vitamin D3 Terhadap Keparahan Dermatitis Atopik: Tinjauan Sistematis Wisan, Angel Benny; Arista, I Gede Peri; Wirya, Andrew Yoshihiro; Rachman, Maria Jessica
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Prominentia Medical Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/pmj.v6i1.5713

Abstract

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis dengan prevalensi global yang terus meningkat. Vitamin D3 berperan penting dalam modulasi sistem imun dan fungsi barrier kulit sehingga dapat menjadi terapi tambahan untuk menurunkan keparahan gejala dermatitis atopik. Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dengan menggunakan pedoman PRISMA. Artikel yang dianalisa mencakup penelitian observational dan Randomized Controlled Trial (RCT) yang mengevaluasi efek suplementasi vitamin D3 terhadap dermatitis atopik. Pencarian artikel dilakukan pada PubMed, Scopus, dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci "vitamin D3 supplementation" AND "atopic dermatitis". Seleksi artikel melibatkan penilaian relevansi, telaah teks lengkap dan konsensus antar peneliti. Sebanyak 16 artikel dianalisis, terdiri dari 10 studi observasional dan 6 RCT. Studi observasional menunjukkan adanya korelasi negatif antara kadar vitamin D serum dan tingkat keparahan dermatitis atopik. RCT melaporkan bahwa suplementasi vitamin D3 secara signifikan mengurangi gejala dermatitis atopik, memperbaiki fungsi barrier kulit, dan menurunkan inflamasi. Kombinasi vitamin D3 dengan probiotik dan Zinc menunjukkan efektivitas yang lebih baik dalam mencegah dermatitis atopik pada bayi. Vitamin D3 berpotensi menjadi terapi tambahan yang efektif untuk mengurangi keparahan gejala dermatitis atopik, terutama pada anak-anak. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dan menentukan dosis yang optimal pada berbagai populasi.