Musthofa Al Makky
Program Pascasarjana (PBA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Majelis Dzikir: antara Sadar Spiritual dan Praktek Budaya Massa Al Makky, Musthofa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2013

Abstract

Man was created  with the provision of spiritual awareness of the existence of God. When in the course of his life to find a variety of  problems, which he first headed the Lord. From every human being must  feel that awareness.  If then it is collective  awareness  activities conducted in order to meet the spiritual needs that can be implemented together. That is a God given institution called the Assembly of dzikr. If then the activity was done with a lot of people, over time some of them  do not  know the exact substance  and virtues of the assembly  itself, but just following everyone else  alone. Moreover, many activities that  involve  mass was boarded by-worldly orientation of  material interests, economic and political. Then the activity will become a kind of wetland that can be exploited in the interests of a handful of people. Manusia diciptakan dengan bekal kesadaran spiritual akan keberadaan Tuhan. Bila dalam perjalanan hidupnya menemukan berbagai masalah, yang pertama-tama dia tuju pada Tuhan. Dari setiap manusia harus merasakan kesadaran itu. Jika kemudian itu adalah kegiatan kesadaran kolektif yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual yang bisa diimplementasikan bersama. Itu adalah lembaga yang diberi Tuhan yang disebut Majelis dzikir. Jika kemudian aktivitas itu dilakukan dengan banyak orang, lama kelamaan beberapa dari mereka tidak tahu persis substansi dan kebajikan dari majelis itu sendiri, tapi hanya mengikuti orang lain saja. Apalagi, banyak kegiatan yang melibatkan massa ditopang oleh orientasi duniawi terhadap kepentingan material, ekonomi dan politik. Maka kegiatan tersebut akan menjadi semacam lahan basah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir orang.