Afrizal, A.,
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

IKONOGRAFI RELIEF CANDI PENATARAN Afrizal, A.,
Acintya Vol. 9 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.196 KB) | DOI: 10.33153/acy.v9i1.2117

Abstract

The article titled “Kajian Ikonografi Relief Candi Penataran” was intended to find the textual andcontextual meaning of relief that was located in the Penataran Temple cluster, especially PendapaTeras II Penataran Temple. With iconography approach would be obtained a deeper and broadermeaning of an art work, although understanding on the contextual and symbolic aspects was alsoneeded. Thus, in the study of iconography there were aspects of diachronic, synchronic, and symbolic. In the study of Sri Tanjung relief, its diachronic aspects related to the history of temple relief asa dialectical motion, idea, or artistic concept based on the progress from beginning to end based onthe time sequence. The synchronic aspect related to the interrelatedness of the various social, cultural, and even mental facts of the society of an age in which art was produced. In the case, the SriTanjung relief would find its context when examined through the search of socio-cultural history atthe time of temple relief making and been analyzed based on the idea of relief presenting. In the studyof Sri Tanjung relief, it was understood that humans who had been willing to think about their Lord,humans who had been willing to obey or being obedient as an expression of their love for the God,and humans who had devotion to their God. If humans had reached a pure level in their heart andmind then that was where humans reached perfection. Perfection in the concept of Java meant humans had merge or ‘manunggal’ with God. Manunggal meant God was inside humans, in their heart thatcould not be separated. Perfection in terms of its form was because they was a perfect manifestationor image of God’s image, he reflected God’s name and attribuuted in complete. The perfection in termsof knowledge was because they had attained the highest level of consciousness, that was, to realizethe unity of their essence with God.Keywords: adaptation, iconography, morality, Sri Tanjung relief
HIASAN WAYANG PADA ATAP RUMAH TRADISIONAL KUDUS DALAM KAJIAN MAKNA DAN SIMBOLIS Afrizal, A.,
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.483 KB) | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1595

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mencari jawaban atas pertanyaan mengenai sejarah terbentuknya hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus. Pertanyaan tersebut meliputi: apa yang dimaksud dengan hiasan wayang; mengapa diciptakan; kapan mulai diciptakan; siapa pemrakarsanya; dan bagai mana arah perkembangannya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi penggunaan simbol hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus merupkan perpaduan antara kepercayaan agama Hindu dengan kepercyaan agama Islam. Faktor internal bahwa masyarakat pada umumnya mereka itu mengenal tokoh- tokoh dalam pewayangan dengan baik dan di antaranya kebanyakan menganggap bahwa Bima sebagai tokoh idola dan legendaris mereka. Faktor eksternal adanya perubahan bentuk pada wayang-wayang yang dilakukan oleh para ulama agar tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Di antara wayang hasil karya para ulama atau wali tersebut adalah wayang purwa dan wayang kancil. Wayang Purwa yang terbuat dari kulit kerbau itu ditransformasikan menjadi wayang kulit yang bercorak Islami. Para wali penyebar Islam di Jawa pun mengubah cerita wayang dengan menyisipkan ajaran-ajaran dan pesan moral yang sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu contoh ajaran moral Islam yang terkandung dalam cerita wayang dapat kita jumpai pada tokoh Bima dalam lakon “Bima Suci”.Ajaran moral Islam yang terkandung dalam lakon “Bima Suci” dibagi ke dalam empat tahapan, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.Hiasan pada atap rumah tradisonal Ku­dus, merupakan hiasan tiga dimensi, dan sebenarnya merupakan wujud dari sebuah wuwung. Secara umum bentuk hiasan pada atap rumah tradisional Kudus, dapat dikategori­kan menjadi dua macam. Ragam hias pertama oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai bentuk hiasan wayangan.dan kedua  bentuk gelung wayang. Kata kunci : Ornamen, Wuwung 
IKONOGRAFI RELIEF CANDI PENATARAN Afrizal, A.,
Acintya Vol. 9 No. 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/acy.v9i1.2117

Abstract

The article titled “Kajian Ikonografi Relief Candi Penataran” was intended to find the textual andcontextual meaning of relief that was located in the Penataran Temple cluster, especially PendapaTeras II Penataran Temple. With iconography approach would be obtained a deeper and broadermeaning of an art work, although understanding on the contextual and symbolic aspects was alsoneeded. Thus, in the study of iconography there were aspects of diachronic, synchronic, and symbolic. In the study of Sri Tanjung relief, its diachronic aspects related to the history of temple relief asa dialectical motion, idea, or artistic concept based on the progress from beginning to end based onthe time sequence. The synchronic aspect related to the interrelatedness of the various social, cultural, and even mental facts of the society of an age in which art was produced. In the case, the SriTanjung relief would find its context when examined through the search of socio-cultural history atthe time of temple relief making and been analyzed based on the idea of relief presenting. In the studyof Sri Tanjung relief, it was understood that humans who had been willing to think about their Lord,humans who had been willing to obey or being obedient as an expression of their love for the God,and humans who had devotion to their God. If humans had reached a pure level in their heart andmind then that was where humans reached perfection. Perfection in the concept of Java meant humans had merge or ‘manunggal’ with God. Manunggal meant God was inside humans, in their heart thatcould not be separated. Perfection in terms of its form was because they was a perfect manifestationor image of God’s image, he reflected God’s name and attribuuted in complete. The perfection in termsof knowledge was because they had attained the highest level of consciousness, that was, to realizethe unity of their essence with God.Keywords: adaptation, iconography, morality, Sri Tanjung relief
HIASAN WAYANG PADA ATAP RUMAH TRADISIONAL KUDUS DALAM KAJIAN MAKNA DAN SIMBOLIS Afrizal, A.,
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 7 No. 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/bri.v7i2.1595

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mencari jawaban atas pertanyaan mengenai sejarah terbentuknya hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus. Pertanyaan tersebut meliputi: apa yang dimaksud dengan hiasan wayang; mengapa diciptakan; kapan mulai diciptakan; siapa pemrakarsanya; dan bagai mana arah perkembangannya. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi penggunaan simbol hiasan wayang pada atap rumah tradisional Kudus merupkan perpaduan antara kepercayaan agama Hindu dengan kepercyaan agama Islam. Faktor internal bahwa masyarakat pada umumnya mereka itu mengenal tokoh- tokoh dalam pewayangan dengan baik dan di antaranya kebanyakan menganggap bahwa Bima sebagai tokoh idola dan legendaris mereka. Faktor eksternal adanya perubahan bentuk pada wayang-wayang yang dilakukan oleh para ulama agar tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Di antara wayang hasil karya para ulama atau wali tersebut adalah wayang purwa dan wayang kancil. Wayang Purwa yang terbuat dari kulit kerbau itu ditransformasikan menjadi wayang kulit yang bercorak Islami. Para wali penyebar Islam di Jawa pun mengubah cerita wayang dengan menyisipkan ajaran-ajaran dan pesan moral yang sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu contoh ajaran moral Islam yang terkandung dalam cerita wayang dapat kita jumpai pada tokoh Bima dalam lakon “Bima Suci”.Ajaran moral Islam yang terkandung dalam lakon “Bima Suci” dibagi ke dalam empat tahapan, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.Hiasan pada atap rumah tradisonal Ku­dus, merupakan hiasan tiga dimensi, dan sebenarnya merupakan wujud dari sebuah wuwung. Secara umum bentuk hiasan pada atap rumah tradisional Kudus, dapat dikategori­kan menjadi dua macam. Ragam hias pertama oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai bentuk hiasan wayangan.dan kedua  bentuk gelung wayang. Kata kunci : Ornamen, WuwungÂ